Silaturahmi dan Ta’lim Bersama Habib Taufiq Assegaf di Al Bahjah Cirebon Berlangsung Khidmat

 


Ahad, 11 Oktober 2026

Faktakini.info, Jakarta - Acara silaturahmi dan ta’lim bersama Al-Habib Taufiq Assegaf, Ketua Rabithah Alawiyah Indonesia, yang berlangsung di Pondok Pesantren Al Bahjah, Desa Buyut, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, pada Minggu (11/10/2026), berjalan lancar, khidmat, aman, dan tertib.

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat kecintaan kepada para ulama dan habaib, serta meneguhkan nilai-nilai persatuan dan adab di tengah dinamika kehidupan umat Islam.

Panitia menyebut, komunikasi yang baik, pendekatan yang santun, serta pengawalan dari berbagai elemen Masyarakat Cirebon Bersatu turut berperan dalam menjaga suasana tetap kondusif selama kegiatan berlangsung.

Habib Saleh Assegaf, mewakili panitia dan Masyarakat Cirebon Bersatu, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara tersebut. Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi menjaga keamanan dan ketertiban, sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik.

Menurutnya, keberhasilan acara tersebut menunjukkan bahwa komunikasi, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, dan komitmen menjaga persaudaraan merupakan hal penting dalam kehidupan bermasyarakat.

“Panitia menyampaikan terima kasih kepada aparat keamanan, para santri Pondok Pesantren Al Bahjah, panitia pelaksana, serta seluruh masyarakat yang ikut menjaga suasana tetap damai, aman, dan tertib,” ujarnya.

Ulama dan Habaib Memiliki Tempat Istimewa di Hati Umat

Kecintaan umat Islam kepada para ulama dan habaib merupakan bagian penting dari tradisi keilmuan dan dakwah Islam yang telah tumbuh serta terpelihara selama berabad-abad di Nusantara.

Para ulama membimbing umat melalui ilmu, fatwa, pendidikan, dan keteladanan. Sementara itu, para habaib yang dikenal sebagai keturunan Rasulullah SAW di tengah umat juga dihormati oleh banyak kalangan karena tradisi dakwah, pengajaran agama, dan peran mereka dalam menjaga kesinambungan ajaran Islam.

Keduanya tidak sepatutnya dipertentangkan. Ulama dan habaib justru memiliki peran yang saling menguatkan dalam membina umat, menanamkan akhlak mulia, serta menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Di berbagai daerah di Indonesia, hubungan erat antara kiai, ulama, habaib, santri, dan masyarakat telah menjadi bagian dari khazanah Islam Nusantara. Majelis ilmu dan silaturahmi seperti yang berlangsung di Al Bahjah Cirebon menjadi salah satu ruang untuk merawat tradisi tersebut.

Karena itu, perbedaan pandangan semestinya disikapi dengan ilmu, tabayun, dan adab. Kritik maupun diskusi mengenai persoalan keagamaan hendaknya dilakukan secara bertanggung jawab, bukan dengan penghinaan, provokasi, atau upaya memecah belah persaudaraan umat.

Kontroversi Tidak Boleh Mengalahkan Persatuan Umat

Di tengah munculnya polemik mengenai nasab yang melibatkan sejumlah pihak, masyarakat diharapkan tetap mengedepankan sikap proporsional dan tidak membiarkan perselisihan tersebut merusak hubungan sosial yang telah terjalin lama.

Polemik yang berkembang di ruang publik tidak semestinya digeneralisasi seolah-olah mewakili pandangan seluruh umat Islam. Sikap suatu kelompok juga tidak dapat serta-merta dianggap sebagai suara mayoritas masyarakat.

Kelompok yang diasosiasikan dengan pandangan Imaduddin Utsman Al-Bantani dalam polemik nasab merupakan salah satu pihak dalam perdebatan tersebut. Tanpa data yang dapat diverifikasi, jumlah pendukungnya tidak perlu diklaim secara pasti. Namun, perbedaan pandangan dari kelompok mana pun tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mempertentangkan seluruh ulama, habaib, dan masyarakat.

Bagi umat yang menjunjung tinggi tradisi penghormatan kepada ulama dan habaib, menjaga kehormatan, persaudaraan, serta adab dalam berdiskusi merupakan sikap yang jauh lebih bermanfaat daripada memperbesar permusuhan.

Silaturahmi dan majelis ta’lim juga mengingatkan bahwa kehidupan beragama tidak hanya berkaitan dengan perdebatan, tetapi terutama dengan pengamalan ilmu, pembinaan akhlak, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menjaga Adab dan Merawat Kerukunan

Habib Saleh Assegaf berharap, terlaksananya kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi dan menjaga kerukunan masyarakat Cirebon, sekaligus menjadi contoh bahwa perbedaan dapat disikapi secara dewasa tanpa mengorbankan ketertiban bersama.

Ia menegaskan pentingnya peran semua elemen masyarakat dalam menciptakan suasana yang damai, menghormati kegiatan keagamaan, dan mengedepankan komunikasi ketika muncul perbedaan pandangan.

“Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa persatuan dan adab harus tetap berada di atas segalanya,” tuturnya.

Dengan berlangsungnya acara secara lancar dan tertib, diharapkan hubungan baik antara ulama, habaib, santri, dan masyarakat semakin erat. Tradisi silaturahmi dan ta’lim pun diharapkan terus menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta menjaga kedamaian di tengah kehidupan bermasyarakat.

Foto: Ketua Robithoh Alawiyyin Indonesia, Al Habib Taufiq Assegaf hadir di Pondok Pesantren Al Bahjah, Desa Buyut, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon.-Foto: Dede Adhitama-RADARCIREBON.COM

Sumber: Radar Cirebon