Teringat Kasus 7 Pemain Dokumen Palsu, FIFA Wajib Selidiki Pertandingan Malaysia vs Singapura
Sabtu, 3 Oktober 2026
Belajar dari vietnam"
1. Awal Mula Kasus: Laporan dari Vietnam
Pemicu skandal ini terjadi setelah laga Kualifikasi Piala Asia 2027 pada 10 Juni 2025, di mana Malaysia menang telak 4-0 atas Vietnam. Dalam pertandingan tersebut, Malaysia menurunkan susunan pemain yang didominasi oleh pilar naturalisasi baru.
Merespons kejanggalan tersebut, Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF) secara resmi mengajukan pengaduan kepada FIFA untuk memeriksa keabsahan garis keturunan para pemain baru Harimau Malaya tersebut.
2. Investigasi FIFA dan Temuan Pemalsuan
Komite Disiplin FIFA melakukan investigasi mendalam terhadap dokumen yang diserahkan oleh FAM. Hasilnya mengejutkan: FAM terbukti merekayasa data kakek atau nenek dari tujuh pemain agar mereka seolah-olah memiliki darah Malaysia untuk memenuhi syarat kelayakan FIFA (Pasal 22 FIFA Disciplinary Code).
Tujuh pemain yang dinyatakan sebagai produk naturalisasi ilegal tersebut adalah:
1. Gabriel Palmero (Gabriel Felipe Arrocha)
2. Facundo Garces
3. Rodrigo Holgado
4. Imanol Machuca
5. Joao Figueiredo
6. Jon Irazabal
7. Hector Hevel
3. Hukuman Berat dan Penolakan Banding
Pada September hingga November 2025, FIFA menjatuhkan sanksi berlapis:
• Denda Finansial: FAM diwajibkan membayar denda sebesar 350.000 franc Swiss (sekitar Rp7,23 miliar).
• Skorsing Pemain: Ketujuh pemain dijatuhi denda individu dan dilarang beraktivitas di dunia sepak bola selama 12 bulan, baik di level tim nasional maupun klub. Dampaknya, beberapa pemain langsung diputus kontraknya oleh klub asal mereka.
FAM sempat mengajukan banding ke FIFA dan Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), namun semua banding tersebut ditolak mentah-mentah karena bukti pemalsuan dokumen internal dinilai sangat telak.
4. Dampak Hukum Pidana dan Mundur Massal
Skandal ini tidak berhenti di lingkup sepak bola. Karena pemalsuan dokumen merupakan tindak kriminal, FIFA memperluas investigasi ke ranah hukum pidana internasional dengan menggandeng aparat penegak hukum dari lima negara (Brasil, Argentina, Belanda, Spanyol, dan Malaysia).
Tekanan publik dan beratnya sanksi memicu kekacauan di internal federasi. Pada awal Januari 2026, seluruh anggota Komite Eksekutif (Exco) FAM memutuskan mundur massal demi mendesak adanya perombakan total organisasi.
5. Status Terkini (Oktober 2026)
Meskipun masa hukuman larangan bertanding selama 12 bulan bagi ketujuh pemain tersebut telah resmi berakhir per 1 Oktober 2026, Presiden FAM Datuk Ab Ghani Hassan menegaskan bahwa ketujuh pemain tersebut dibanned permanen dan tidak akan pernah bisa kembali membela Timnas Malaysia atas instruksi langsung dari FIFA.
