KICAUAN MUKIMAD PASCA HAUL SOLO 2026
Senin, 5 Oktober 2026
Faktakini.info
KICAUAN MUKIMAD PASCA HAUL SOLO.
------------------------------
Kapasitas Otak yang Tak Sesuai dengan Tempurung Plontos
Ada pemandangan menggelitik di jagat media sosial baru-baru ini. Sebuah Postingan Oknum Mukimad yang mengunggah selebaran digital bernada provokatif. Dengan gaya necis duduk di meja kerja—yang lucunya bertuliskan nama orang lain 😂
si abang berkepala plontos ini berpose memegang pelipis ala pemikir besar abad ini.
Namun sayang seribu sayang, pose keren itu langsung runtuh ketika kita membaca tulisan di bawahnya: "Haul Solo upaya untuk hilangkan sejarah pejuang tokoh Islam pribumi." Ada juga tambahan tuduhan soal "lahan bisnis" di bagian atasnya.
Melihat kontradiksi antara pose berpikir keras dengan isi tulisannya, judul di atas tampaknya menjadi kesimpulan paling logis. Narasi yang dia bangun benar-benar menunjukkan kekosongan logika yang hakiki.
Pertama, mari kita bahas soal tuduhan "menghapus sejarah".
Haul Solo itu adalah acara doa bersama untuk memperingati wafatnya ulama Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Hubungannya dengan menghapus sejarah tokoh Islam lokal? Nol besar! Menuduh Haul Solo menghapus sejarah pejuang pribumi itu sama konyolnya dengan menuduh festival reog mau menghapus sejarah tari piring. Dua hal yang berbeda jalur. Sejarah tokoh pribumi Surakarta dirawat dengan baik di Keraton dan museum, bukan hilang karena ada orang zikir bersama di Masjid Riyadh.
Kedua, soal tuduhan "lahan bisnis".
Betul, Haul Solo mendatangkan perputaran uang miliaran rupiah. Tapi mari kita gunakan sedikit fungsi berpikir: siapa yang mendadak kaya raya saat acara berlangsung? Jawabannya adalah warga lokal Solo! Mulai dari pemilik kos-kosan, tukang becak, ojek online, pedagang kaki lima, sampai pemilik warung soto dan tengkleng. Semuanya panen rezeki. Jadi, menuduh acara ini sebagai "lahan bisnis" yang merugikan pribumi adalah sebuah kebodohan, karena justru ekonomi rakyat kecillah yang paling diuntungkan.
Kesimpulannya,
Berpose memegang kepala seolah sedang berpikir keras tidak akan membuat sebuah hoaks menjadi terlihat cerdas. Jika tempurung kepala sudah plontos dan rapi, alangkah baiknya jika isinya juga dibersihkan dari prasangka buruk dan kebencian yang tidak berdasar agar kapasitasnya bisa saling berimbang.
Daripada sibuk bikin konspirasi yang bikin dahi mengkerut, mending tahun depan si Abang ikut hadir ke Solo. Siapa tahu setelah makan berkah haul, isi kepalanya bisa ikut tercerahkan secerah kilauan tempurungnya!
------------------------------
@ntonsyakiri
