UST YOGI: JEJAK PENGABDIAN DI JALAN KEMANUSIAAN 2011 — 2026

 


Kamis, 24 September 2026

Faktakini.info

UST YOGI

JEJAK PENGABDIAN DI JALAN KEMANUSIAAN

2011 — 2026

Tahun 2011 menjadi awal dari perjalanan panjangku dalam dunia pengabdian.

Saat itu aku bergabung dengan Laskar Pembela Islam (LPI) di bawah naungan Front Pembela Islam (FPI). Dari sinilah aku mulai mengenal lebih dekat kegiatan sosial dan kerelawanan. Ketika bencana terjadi, kami turun ke lapangan, mendatangi masyarakat yang membutuhkan, membantu proses evakuasi, membawa bantuan, serta melakukan berbagai pekerjaan yang diperlukan di lokasi.

Dari satu bencana ke bencana lainnya, kegiatan tersebut semakin sering dilakukan.

Lambat laun, turun ke lokasi bencana bukan lagi sesuatu yang asing. Perjalanan jauh, medan yang sulit, kondisi darurat, keterbatasan fasilitas, hingga berhadapan langsung dengan masyarakat yang kehilangan rumah dan harta benda menjadi bagian dari pengalaman yang terus bertambah.

Dari sinilah kepercayaan mulai tumbuh.

Setelah cukup lama terlibat dan aktif di lapangan, datang sebuah amanah yang menjadi titik penting dalam perjalanan pengabdianku: aku dipercaya untuk memegang kepemimpinan di bidang kemanusiaan.

Amanah itu tidak datang hanya sebagai sebuah jabatan, tetapi sebagai kepercayaan untuk mengelola dan menggerakkan kegiatan kemanusiaan. Jika sebelumnya aku lebih banyak berada di lapangan sebagai relawan yang menjalankan tugas, setelah menerima amanah tersebut tanggung jawab menjadi lebih luas.

Aku mulai terlibat dalam mengatur relawan, menyusun langkah penanganan di lapangan, mengoordinasikan bantuan, menentukan kebutuhan prioritas, menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, serta memastikan kegiatan kemanusiaan dapat berjalan dan bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di titik inilah perjalanan berubah.

Dulu aku bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan di lokasi?”

Kemudian tanggung jawab berkembang menjadi pertanyaan yang lebih besar:

“Bagaimana agar orang-orang yang bergerak bersama saya dapat bekerja dengan baik, dan bagaimana amanah ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat?”

Memegang kepemimpinan di bidang kemanusiaan juga berarti harus siap berada di tengah berbagai keadaan. Ketika bencana datang, keputusan sering kali harus dibuat dalam waktu singkat. Kebutuhan masyarakat tidak selalu sama, kondisi lapangan dapat berubah sewaktu-waktu, dan keterbatasan sumber daya menuntut ketelitian dalam menentukan langkah.

Di balik setiap kegiatan, ada koordinasi yang panjang.

Ada relawan yang harus digerakkan.

Ada bantuan yang harus dihimpun.

Ada perjalanan yang harus dipersiapkan.

Ada lokasi yang harus dipetakan.

Ada masyarakat yang harus didatangi.

Tidak semuanya berjalan mudah.

Namun dari sanalah pengalaman kepemimpinan terbentuk—bukan dari teori, melainkan dari situasi nyata, dari lapangan, dari persoalan masyarakat, dan dari tanggung jawab yang harus diselesaikan bersama.

Perjalanan kepemimpinan tersebut kemudian berlanjut dalam Hilal Merah Indonesia (HILMI) Front Persaudaraan Islam. Pengalaman yang telah dibangun sejak 2011 menjadi bekal untuk terus mengembangkan kegiatan kemanusiaan dan memperluas pengabdian kepada masyarakat.

Tahun demi tahun berlalu.

Semakin banyak bencana yang didatangi, semakin banyak masyarakat yang ditemui, dan semakin banyak pengalaman yang tersimpan. Ada keberhasilan yang membawa kebahagiaan, tetapi ada pula keadaan berat yang meninggalkan kesan mendalam.

Ada saat ketika bantuan berhasil disalurkan tepat waktu.

Ada saat ketika proses evakuasi berjalan lancar.

Ada pula keadaan ketika kemampuan yang tersedia tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan.

Semua menjadi bagian dari perjalanan.

Kini, ketika melihat kembali rentang waktu 2011 hingga 2026, perjalanan itu telah mencapai lima belas tahun.

Berawal dari seorang anggota laskar yang ikut turun membantu masyarakat, kemudian menjadi relawan yang terbiasa berada di lokasi bencana, hingga akhirnya mendapatkan kepercayaan untuk memimpin dan mengemban amanah di bidang kemanusiaan.

Jalan yang ditempuh memang panjang.

Namun setiap tahap memiliki ceritanya sendiri.

2011 — mengenal pengabdian.

Tahun-tahun berikutnya — menempa diri di lapangan.

Kemudian — menerima kepercayaan untuk memimpin bidang kemanusiaan.

Hingga 2026 — tetap berjalan dalam amanah dan pengabdian.

Lima belas tahun telah berlalu.

Banyak tempat telah didatangi.

Banyak masyarakat telah ditemui.

Banyak rekan telah berjalan bersama.

Dan banyak cerita tersimpan di sepanjang perjalanan.

Tidak semua harus dituliskan.

Sebagian cukup menjadi kenangan dan pengalaman yang menemani langkah berikutnya.

Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya tentang berapa lama seseorang berada di dunia kemanusiaan, tetapi tentang bagaimana sebuah kepercayaan dijaga sejak pertama kali diberikan.

Dari laskar, menuju relawan.

Dari relawan, menerima amanah kepemimpinan.

Dari kepemimpinan, terus mengabdi di jalan kemanusiaan.

Dan sampai hari ini,

perjalanan itu masih berlanjut.