REAKSI RIUH USAI KIAI GONTOR UNGKAP BANYAK ORANG CARI MUKA & IJAZAH DI DEPAN PRABOWO
Jum'at, 25 September 2026
REAKSI RIUH USAI KIAI GONTOR
BANYAK ORANG CARI MUKA & IJAZAH DI DEPAN PRABOWO
Oleh : Ridwan Sank
Sobat, ada momen langka yang jarang terjadi di negeri ini. Momen ketika seorang kiai tua dengan jenggot putihnya, dengan sorban yang sudah menempel puluhan tahun di kepalanya, dengan mata yang sudah melihat ribuan wajah datang dan pergi berdiri di podium, menghadap Presiden Republik Indonesia, dan melontarkan kalimat yang membuat seluruh ruangan hening. Bukan hening karena takut. Tapi hening karena setiap orang di ruangan itu tahu: yang sedang diucapkan adalah kebenaran yang selama ini disembunyikan.
Pimpinan Pondok Pesantren Gontor, Hasan Abdullah Sahal, berkelakar menyebut banyak orang yang mencari muka. Pernyataan itu disampaikannya saat berpidato di depan Presiden Prabowo Subianto dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jatim pada Sabtu (19/9/2026). "Andai kata Pak Prabowo hari ini enggak datang, nah ini muka saya taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka. Sekarang banyak orang yang cari muka," ujarnya. Hasan kemudian merinci kelakarnya dengan deretan contoh yang menusuk. "Orang enggak punya ijazah cari ijazah. Orang enggak punya nama cari nama. Orang enggak punya uang cari uang. Orang enggak punya jabatan cari jabatan. Orang enggak punya muka cari muka," katanya.
Sobat, "orang enggak punya muka cari muka" itu bukan sekadar kelakar. Itu adalah sindiran tajam kepada mereka yang selama ini "menjilat" demi jabatan, proyek, atau popularitas. Dan yang paling menggetarkan: sindiran itu disampaikan langsung di depan Presiden Prabowo Subianto. Bukan di warung kopi. Bukan di media sosial. Tapi di panggung resmi, di depan kepala negara, di hadapan publik. Ini bukan sekadar berani. Ini adalah keteladanan.
MENGAPA INI PENTING? KARENA KIAI TIDAK BICARA SEMBARANGAN
Sobat, di negeri ini, siapa pun bisa mengkritik presiden di media sosial. Siapa pun bisa menulis cuitan pedas, membuat konten provokatif, atau menjadi buzzer yang dibayar untuk memutar narasi. Tapi tidak semua orang bisa berdiri di depan presiden dan mengatakan kebenaran tanpa kehilangan hormat. Dan itulah yang dilakukan Kyai Hasan.
Ia tidak mencaci. Ia tidak menghina. Ia tidak menuduh. Ia hanya berkelakar dengan kelakar yang menyayat. Dengan kelakar yang membuat setiap pejabat yang hadir di ruangan itu mungkin menundukkan kepala, bertanya dalam hati: "Apakah aku termasuk yang dimaksud?"
Ini adalah seni menasihati pemimpin. Seni yang hampir punah di zaman ketika politik telah berubah menjadi panggung hiburan. Seni yang hampir terlupakan di zaman ketika menjilat lebih menguntungkan daripada mengkritik. Dan Kyai Hasan dengan segala kewibawaan seorang ulama sepuh menghidupkan kembali seni itu.
FENOMENA "CARI MUKA"
PENYAKIT LAMA YANG BELUM SEMBUH
Sobat, mari kita jujur. "Cari muka" bukan fenomena baru. Ini penyakit lama yang sudah menjangkiti birokrasi, partai politik, dan istana sejak zaman dahulu. Setiap kali ada pemimpin baru, berbondong-bondong orang datang membawa amplop, proposal, dan janji setia. Setiap kali ada proyek baru, berlomba-lomba orang mendekat demi sepotong kue pembangunan.
Tapi yang paling mengkhawatirkan adalah ketika "cari muka" itu dilakukan dengan memakai simbol agama. Ada yang tiba-tiba memakai baju koko ketika presiden berkunjung ke pesantren. Ada yang tiba-tiba mengutip ayat ketika sedang di depan ulama. Ada yang tiba-tiba berbicara soal akhlak ketika sedang di depan kamera.
"Orang enggak punya muka cari muka."
Sobat, kalimat itu bukan hanya sindiran. Itu adalah diagnosis. Diagnosis terhadap penyakit sosial yang membuat negeri ini sulit maju. Karena ketika orang yang tidak kompeten mencari jabatan dengan cara menjilat, maka yang terjadi adalah kemunduran. Bukan kemajuan.
PRABOWO DAN UJIAN ADAB
Sobat, pertanyaan yang paling penting sekarang adalah: bagaimana reaksi Prabowo?
Presiden Prabowo Subianto bukan pemimpin yang tidak paham konteks. Ia lulusan AKABRI. Ia mantan Danjen Kopassus. Ia pernah dilatih di Jerman dan Amerika. Ia paham betul bagaimana membaca situasi. Dan ketika Kyai Hasan berkelakar di depannya, Prabowo tersenyum.
Senyum itu bisa berarti banyak hal. Bisa berarti ia menghargai keberanian Kyai Hasan. Bisa berarti ia merasa tersindir. Atau bisa berarti ia menyadari bahwa kelakar itu adalah "pepeling" peringatan dari seorang ulama sepuh yang sudah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan bangsa.
Dan sobat. Kalau Prabowo benar-benar ingin dikenang sebagai "Bapak Pembangunan", maka ia harus mau mendengar. Ia harus mau menerima kritik. Ia harus mau membersihkan istananya dari "orang-orang yang cari muka". Karena selama "orang-orang cari muka" itu masih berkeliaran di lingkarannya, maka setiap kebijakan yang ia ambil akan selalu dibayangi oleh kepentingan mereka, bukan kepentingan rakyat.
DI BALIK "CARI MUKA"
ADA ORANG YANG CARI IJAZAH, CARI NAMA, CARI UANG
Sobat, mari kita bedah satu per satu apa yang disebutkan Kyai Hasan.
"Orang enggak punya ijazah cari ijazah." Ini sindiran kepada mereka yang membeli gelar atau menggunakan jasa joki untuk mendapatkan ijazah. Di zaman ketika ijazah palsu dijual bebas, dan ketika gelar "doktor" atau "profesor" bisa didapat tanpa belajar, ini adalah peringatan serius.
"Orang enggak punya nama cari nama." Ini sindiran kepada mereka yang mengejar popularitas dengan segala cara. Termasuk membuat konten viral, mencari sensasi, atau membuat isu yang mengguncang publik.
"Orang enggak punya uang cari uang." Ini sindiran kepada mereka yang menggunakan jabatan untuk mencari kekayaan. Bukan dengan kerja keras. Tapi dengan korupsi, gratifikasi, atau mark-up proyek.
"Orang enggak punya jabatan cari jabatan." Ini sindiran kepada mereka yang menjilat demi kursi. Tanpa kompetensi. Tanpa integritas.
"Orang enggak punya muka cari muka." Ini puncak sindiran. Ini adalah kalimat pamungkas yang merangkum semua. Mereka yang tidak punya harga diri akan menjual harga dirinya demi keuntungan sesaat.
MENGAPA KIAI GONTOR SAMPAIKAN DI DEPAN PRABOWO? KARENA INI ADALAH "PERINGATAN DARI ORANG TUA"
Sobat, dalam tradisi pesantren, ada satu adab yang dijaga dengan sangat baik: "menasihati pemimpin". Bukan dengan caci maki. Bukan dengan demonstrasi. Tapi dengan "santun" dengan "kata-kata bijak". Dan "kelakar" adalah salah satu cara paling elegan untuk menyampaikan kebenaran tanpa melukai perasaan.
Kyai Hasan memilih kelakar karena ia tahu bahwa jika ia berbicara secara langsung dengan kata-kata keras , mungkin Prabowo akan malu di depan tamu-tamu penting. Tapi dengan kelakar, pesan itu tetap sampai tanpa merusak "hubungan baik".
Dan sobat. Kyai Hasan sudah berusia lanjut. Ia sudah lama mengabdi di Gontor. Ia sudah banyak melihat pemimpin datang dan pergi. Dan ketika ulama sepuh seperti dia berbicara, itu bukan sekadar kelakar. Itu adalah "bisikan langit" yang dibungkus dalam kata-kata manusia.
SETELAH PERTEMUAN TERBUKA, ADA PERTEMUAN TERTUTUP
INI YANG TIDAK TERKAMERA
Sobat, ada satu hal yang jarang dibahas oleh media. Setelah berbicara di depan publik, Kyai Hasan dan Kyai Akrim kemudian melanjutkan dalam pertemuan yang lebih tertutup, ditemani Ketua Badan Wakaf Gontor, Ustadz Hidayat Nur Wahid.
Di pertemuan tertutup itu, apa yang dibicarakan?
Kita tidak tahu. Tapi sobat. Kita bisa menduga. Di pertemuan tertutup itu, nasihat-nasihat yang lebih keras, kritik-kritik yang lebih tajam, dan peringatan-peringatan yang lebih serius disampaikan dari hati ke hati. Bukan untuk menjatuhkan. Tapi untuk mengingatkan.
Ini adalah adab pesantren. Berani menyampaikan kebenaran di depan publik. Tapi juga tahu cara menyampaikan di ruang tertutup. Keduanya berjalan bersama.
PESAN UNTUK PARA PEMIMPIN DAN PARA PENJILAT
Untuk para pemimpin: Kalau Anda ingin dikenang sebagai "Bapak Bangsa", maka bersihkanlah istana Anda dari orang-orang yang cari muka. Pilihlah pembantu berdasarkan kompetensi, bukan berdasarkan kedekatan. Dengarkan kritik dengan lapang dada. Dan jangan pernah lupa bahwa kursi yang Anda duduki adalah amanah rakyat, bukan warisan pribadi.
Untuk para penjilat: Berhentilah mencari muka. Karena muka yang Anda cari itu tidak akan membuat Anda bahagia. Jabatan yang Anda raih dengan cara menjilat itu tidak akan bertahan lama. Dan ketika pemimpin yang Anda jilat itu jatuh, maka Anda akan menjadi yang pertama dilempar keluar.
Ada satu nasihat sesepuh yang sangat relevan:
"Sing sregep nggoleki muka, bakal kelangan muka. Sing sregep njaga ati, bakal nemu kamulyan."
Yang rajin mencari muka, akan kehilangan muka. Yang rajin menjaga hati, akan menemukan kemuliaan.
Eling lan Waspada. Ingat dan waspada.
Karena "cari muka" adalah penyakit yang membuat bangsa ini sulit berberjaya.
