Begini Kecurangan Imad Dalam Memanipulasi Kitab As-Syajarah Al-Mubarakah untuk Menyerang Nasab Ba'alawi
Ahad, 2 Agustus 2026
Faktakini.info
M Maki
Saya coba baca halaman-halaman dari kitab As-Syajarah Al-Mubarakah, dan saya mulai melihat pola yang sangat jelas tentang bagaimana Kiai Imad membaca kitab ini dengan cara yang sangat selektif, btw ini bukan kritik yang objektif, tapi pembacaan yang cuma mau mengambil bagian yang menguntungkan dan mengabaikan bagian yang merugikan. Di halaman 3, kitab ini dengan jelas menyebut dirinya sendiri sebagai هذا مختصر في علم الأنساب yang artinya ini adalah ringkasan dalam ilmu nasab, dan ini adalah pengakuan dari penulisnya bahwa kitab ini tidak dimaksudkan untuk mencakup semua cabang keturunan secara lengkap, tapi Kiai Imad mengabaikan ini dan memperlakukan kitab ini seolah-olah ia adalah ensiklopedia yang sempurna dan final yang memuat semua nama tanpa kecuali. Ini adalah pembacaan yang bertentangan dengan tujuan penulisan kitab itu sendiri, dan ini adalah kelemahan pertama yang sangat mendasar.Di halaman 112, Kiai Imad mengambil kalimat وأما أحمد الأبح، فعقبه من ثلاثة بنين dan menjadikannya sebagai senjata utama untuk menolak Ubaidillah, dengan klaim bahwa ini adalah lafaz qath'i yang memotong jumlah anak Ahmad bin Isa menjadi tiga, tapi beliau mengabaikan kalimat berikutnya dalam halaman yang sama yaitu واختلط نسب ولد الحسين هذا بولد الحسين بن أحمد الشعراني بن علي العريضي yang artinya dan telah bercampur nasab anak al-Husain ini dengan nasab anak al-Husain bin Ahmad asy-Sya'rani bin Ali al-Uraidhi. Ini adalah pengakuan langsung dari penulis kitab bahwa ada keraguan dan percampuran nasab dalam cabang yang ia sebutkan, dan ini menunjukkan bahwa kitab ini tidaklah sempurna dan tidak bisa dijadikan sebagai pemotong yang final, karena penulisnya sendiri mengakui bahwa ada bagian-bagian yang tidak jelas dan bercampur, dan Kiai Imad mengabaikan ini seolah-olah tidak ada, padahal ini adalah informasi yang sangat penting untuk menilai kredibilitas kitab tersebut.
Padahal di halaman yang sama juga ada pengakuan tentang adanya perbedaan pendapat dalam cabang lain, misalnya وقيل: كان له ابن آخر اسمه علي وله عقب، وفيه خلاف yang artinya dan dikataka : ia memiliki anak lain bernama Ali dan ia memiliki keturunan, dan dalam hal ini ada perbedaan pendapat. Ini menunjukkan bahwa penulis kitab sendiri menyadari bahwa data yang ia catat tidak selalu final dan ada perbedaan pendapat di antara para ulama, dan ini adalah pola yang konsisten dalam kitab ini penulisnya seringkali mencatat apa yang ia dengar, tapi juga mengakui adanya keraguan dan perbedaan, dan ini adalah ciri khas dari kitab ringkasan yang tidak bisa dijadikan sebagai sumber tunggal untuk memotong nasab. Jadi, Kiai Imad seharusnya membaca kitab ini secara utuh dan menyadari bahwa kitab ini penuh dengan keraguan, bukan hanya mengambil satu kalimat dan menjadikannya sebagai pemotong yang mutlak sambil mengabaikan semua pengakuan keraguan yang ada di sekitarnya, dan ini adalah metode pembacaan yang tidak jujur dan tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Tujuan saya menulis itu memang sederhana menunjukkan bahwa Kiai Imad membaca kitab As-Syajarah Al-Mubarakah secara selektif, hanya mengambil satu kalimat yang menguntungkan argumennya dan mengabaikan kalimat-kalimat lain di sekitarnya yang justru menunjukkan bahwa kitab ini tidak final dan penuh keraguan. Tulisan saya bukan untuk membuktikan bahwa Ubaidillah itu ada, tapi untuk menunjukkan bahwa metode Kiai Imad itu tidak konsisten dan tidak jujur secara ilmiah, karena ia memperlakukan sebuah kitab ringkasan yang penuh dengan pengakuan keraguan sebagai pemotong yang mutlak.

