Sugeng PWI-LS Si Ahli Penghina Abal‑abal Ngaku Ahli DNA… Sadar Woyyy
Selasa, 16 Juni 2026
Faktakini.info
Sugeng PWI-LS Si Ahli Penghina Abal‑abal Ngaku Ahli DNA… Sadar Woyyy
Di tengah semangat umat yang terus merawat warisan para Wali Songo, Habib‑Habib, dan para Kyai NU, sering muncul pihak‑pihak yang mengaku berilmu tinggi demi menarik perhatian atau bahkan merusak persaudaraan. Salah satu yang belakangan ini menyita perhatian adalah sosok bernama Sugeng Sugiharto. Ia mengangkat diri sebagai “ahli penelusuran silsilah lewat DNA”, namun kenyataannya ucapan dan perbuatannya justru penuh penghinaan, tuduhan tanpa bukti, dan memecah belah persatuan yang sudah susah payah dijaga.
Silsilah keturunan, terlebih yang bersambung dengan keluarga Rasulullah SAW dan para Wali, bukan sekadar urusan nama atau dokumen. Bagi umat di tanah Jawa dan seluruh Indonesia, ini adalah amanah yang harus dijaga dengan hati bersih, sopan santun, dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketika seseorang mengaku mampu membuktikan atau membantah keturunan lewat ilmu biologi, ia wajib menunjukkan keahlian yang sah, lembaga yang berizin, serta prosedur yang jelas dan terbuka. Namun sosok yang dimaksud ini tidak demikian: ia mengaku ahli, namun tak ada bukti sertifikasi resmi, tak ada nama lembaga yang diakui pemerintah maupun kalangan ilmiah, dan yang paling menyedihkan—ucapannya sering kali kasar, menghina, dan melemparkan tuduhan sembarangan kepada siapa saja yang tidak sependapat dengannya.
Ia menggunakan topeng “kebenaran ilmiah” untuk menyerang siapa saja yang ia anggap salah, baik itu dzuriah para Wali, keluarga Habib, maupun tokoh ulama yang dihormati. Padahal ilmu DNA sendiri memiliki aturan ketat: sampel harus sah, pengujian dilakukan di laboratorium terakreditasi, hasil disertai laporan lengkap, dan penafsiran tidak boleh dicampuradukkan dengan kebencian atau kepentingan pribadi. Tanpa itu semua, yang ada hanyalah kebohongan yang dikemas agar terdengar meyakinkan. Lebih parah lagi, ucapan penghinaannya sering kali menyebar cepat di media sosial, menimbulkan keraguan di hati umat, memicu pertengkaran antarkelompok, dan merusak nama baik orang yang sebenarnya menjaga amanah leluhur dengan tulus.
Kita tentu boleh berhati‑hati, boleh meneliti kebenaran, dan boleh bertanya jika ada hal yang belum jelas. Namun cara yang benar adalah cara yang diajarkan para ulama: berbicara dengan sopan, bertanya kepada pihak yang berwenang dan dihormati, serta mengutamakan persaudaraan di atas segalanya. Jika ada keraguan mengenai silsilah, carilah rujukan tertulis yang diakui, minta pertimbangan para tetua dzuriah atau lembaga yang memang berwenang menangani hal tersebut—bukan mendengarkan orang asing yang berteriak keras namun tak punya dasar ilmu maupun akhlak.
Bagi sosok yang mengaku ahli itu, teguran ini disampaikan dengan harapan sadar: ilmu yang benar tak akan pernah melahirkan penghinaan, dan kebenaran tak butuh serangan kasar agar diterima. Jika sungguh memiliki keahlian, tunjukkan bukti yang sah, bicarakan dengan cara yang baik, dan gunakan kemampuan itu untuk merawat persatuan, bukan merobeknya. Jika tidak mampu, sebaiknya berhenti mengaku‑aku dan berhenti menyakiti hati sesama anak bangsa dan sesama umat Islam.
Bagi kita semua, mari terus waspada namun tetap lapang dada. Jangan biarkan ucapan orang yang tak bertanggung jawab memecah persaudaraan yang dirintis para Wali dan dijaga para Kyai NU hingga kini. Teruslah teliti, teruslah merawat warisan leluhur, dan tetap tegakkan kebenaran dengan cara yang paling indah: penuh kasih, sopan, dan menyatukan hati.
Sadar woyyy… Kebenaran tak butuh kebohongan, dan persatuan tak butuh penghinaan.
