Sugeng PWI-LS dan Kebohongan DNA: Amarah Orang yang Tak Pernah Diakui

 


Sabtu, 7 Februari 2026

Faktakini.info, Jakarta - Ketika seseorang hampir setiap hari menjadikan nasab Ba‘alawi sebagai sasaran utama—apa pun topik diskusinya—maka yang kita saksikan bukan lagi dialog ilmiah, melainkan gejala kegelisahan yang terus direproduksi di ruang publik. Intensitas dan repetisi semacam ini, dalam psikologi sosial, lebih sering menunjukkan konflik batin yang belum selesai ketimbang keyakinan yang kokoh.

Fenomena Sugeng Sugiharto PWI-LS patut dibaca dalam kerangka ini. Ia kerap tampil mengklaim diri sebagai “ahli DNA”, lalu menggunakan dalih genetika untuk membatalkan nasab Ba‘alawi dengan argumen bahwa DNA mereka “tidak nyambung” dengan DNA Nabi Muhammad SAW. Padahal, yang diketahui publik, latar belakang keilmuannya bukan genetika forensik atau biologi molekuler, melainkan teknik/insinyur pangan. Perbedaan disiplin ini bukan perkara remeh: dalam ilmu pengetahuan, otoritas metodologis tidak bisa dipindah-pindahkan sesuka narasi.

Masalahnya bukan sekadar salah kaprah akademik. Yang lebih mencolok adalah pola obsesif: topik boleh berganti, tetapi sasaran tetap sama. Nasab Ba‘alawi terus digiring sebagai musuh simbolik, diulang dengan emosi tinggi, tanpa temuan baru yang dapat diuji secara metodologis. Dalam sains, pengulangan tanpa data tambahan tidak memperkuat klaim—ia justru menyingkap kecemasan status.

Bandingkan dengan pihak yang diserang. Para Habaib relatif tenang, tidak reaktif, dan tidak memproduksi konten amarah harian. Psikologi status menjelaskannya sederhana: identitas yang aman tidak membutuhkan teriakan. Nasab Ba‘alawi telah diakui oleh para ahli nasab dan Naqobah Asyraf di berbagai negeri; pengakuan dari figur-figur di luar disiplin tersebut tidak menambah atau mengurangi apa pun.

Sebaliknya, identitas yang rapuh cenderung mencari validasi terus-menerus—sering kali dengan menyerang simbol kemuliaan yang dianggap “mengancam”. Di titik ini, kita melihat apa yang dalam psikologi disebut obsessive fixation: keterikatan berlebihan pada satu objek yang menguasai pikiran dan emosi. Ia kerap berkelindan dengan narcissistic injury—luka ego akibat klaim identitas yang tidak memperoleh pengakuan institusional—yang kemudian diekspresikan sebagai amarah defensif.

Tak jarang pula muncul mekanisme proyeksi. Tuduhan “palsu”, “rekayasa”, atau “manipulatif” diarahkan keluar, padahal sejatinya mencerminkan kegelisahan internal. Proyeksi memang menenangkan ego secara instan, tetapi menciptakan kebisingan permanen. Ruang publik pun dipenuhi ghibah berulang, framing, dan generalisasi—tanpa pernah menyentuh substansi metodologi DNA yang sahih.

Aspek lain yang tak luput dari perhatian publik adalah perubahan penampilan Sugeng Sugiharto yang kerap dibicarakan: terlihat makin lusuh, kurang terawat, dan sarat emosi saat tampil. Ini tentu bukan diagnosis apa pun, tetapi dalam kajian komunikasi publik, ekspresi visual yang demikian sering kali dibaca sebagai beban psikologis dari konflik yang dipelihara terus-menerus. Menyerang satu isu secara habis-habisan, bertahun-tahun, tanpa hasil yang diakui komunitas ilmiah, memang menguras energi mental.

Pada akhirnya, kegaduhan ini tidak menguji nasab siapa pun. Ia justru menguji ketenangan jiwa para pelakunya. Selama ghibah dijadikan agenda dan klaim keilmuan dipakai tanpa metodologi yang tepat, yang lahir hanyalah kebisingan—bukan kebenaran.

Kesimpulannya tegas: ini bukan krisis data, melainkan krisis batin. Nasab tidak runtuh oleh teriakan; ia diuji oleh metodologi. Dan kegelisahan yang diulang setiap hari adalah pengakuan paling jujur bahwa yang bermasalah bukan objek yang diserang, melainkan jiwa yang menyerang.