Abbas Tompel Teriak Nasab Tiap Hari: Ketika Ghibah Menjadi Tanda Jiwa yang Resah


       

Sabtu, 7 Februari 2026

Faktakini.info, Jakarta - Jika sebuah kelompok setiap hari membicarakan nasab Ba‘alawi—apa pun tema acaranya—maka persoalannya bukan lagi kajian ilmiah. Itu adalah kegelisahan yang bocor ke ruang publik. Dalam psikologi sosial, intensitas dan repetisi seperti ini bukan ciri keyakinan yang mapan, melainkan indikator konflik batin yang tak selesai.

Fenomena Sekte Imad bin Sarman, Abbas Tompel PWI-LS cs, orang-orang gila nasab menunjukkan pola yang konsisten: topik berganti, sasaran tetap. Nasab Ba‘alawi digiring menjadi musuh simbolik, dibicarakan dengan emosi tinggi, diulang tanpa temuan baru, dan dibungkus narasi pembenaran. Padahal, dalam ilmu pengetahuan, pengulangan tanpa bukti tambahan tidak memperkuat kebenaran—ia justru mengungkap kecemasan status.

Mengapa yang diserang justru tidak tampak gelisah? Habaib relatif santai, tidak reaktif, dan tidak memproduksi konten amarah harian. Psikologi status menjelaskan ini sederhana: identitas yang aman tidak membutuhkan teriakan. Semua Ahli Nasab dan Naqobah Asyraf dunia telah mengakui nasab Habaib shohih tersambung ke Rasulullah SAW, dan pengakuan dari kelompok Imad sama sekali tidak diperlukan, karena memang tidak ada pengaruhnya.

Sebaliknya, identitas yang rapuh akan mencari validasi terus-menerus—sering kali dengan menyerang simbol kemuliaan yang dianggap “mengancam”.

Dalam kerangka psikologi, perilaku Abbas Tompel dkk ini dapat dibaca sebagai obsessive fixation: keterikatan berlebihan pada satu objek yang menguasai pikiran dan emosi. Ia kerap disertai narcissistic injury—luka ego akibat klaim identitas yang tidak memperoleh pengakuan institusional—yang lalu meledak menjadi amarah defensif. Maka wajar bila yang muncul bukan argumen baru, melainkan ghibah berulang, framing, dan generalisasi.

Tak kalah penting, kita melihat proyeksi. Tuduhan “palsu”, “manipulatif”, atau “pendatang” diarahkan keluar, padahal itu sering kali mencerminkan kecemasan internal. Dalam ilmu sosial, proyeksi adalah cara tercepat untuk menenangkan ego tanpa menyelesaikan masalah inti. Ia efektif untuk meredam sementara, tetapi menciptakan kebisingan permanen.

Klaim diri Abbas Tompel cs yang diumumkan berulang—“cucu Walisongo”, “cucu Sayyidina Hussein", "keturunan Rasul”—juga memberi petunjuk. Identitas yang telah diakui secara luas tidak perlu diumumkan setiap hari. Repetisi justru menandakan pengakuan yang belum pernah benar-benar datang. Maka ruang publik dipakai sebagai panggung, emosi sebagai alat, dan kebencian sebagai perekat kelompok.

Akhirnya, kegaduhan ini tidak menguji nasab siapa pun. Ia justru menguji ketenangan jiwa para pelakunya. Dalam psikologi, amarah yang dipelihara adalah tanda paling jelas dari kegelisahan yang tak terkelola. Selama ghibah dijadikan agenda, resah akan terus diproduksi—dan selama itu pula substansi tak pernah disentuh.

Kesimpulannya tegas: ini bukan krisis data, melainkan krisis batin. Nasab tidak runtuh oleh teriakan; ia diuji oleh metodologi. Dan kegelisahan yang diulang tiap hari adalah pengakuan paling jujur bahwa yang bermasalah bukan objek yang diserang, melainkan jiwa yang menyerang.