Imaduddin Mengaku "Paling NU" Lalu Memprovokasi, Padahal Akar Keluarga dan Jejaknya Bukan NU
Selasa, 10 Februari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, klaim ke-NU-an tidak lahir dari teriakan, tapi dari kesinambungan khidmah dan pengakuan jamaah. Maka publik berhak curiga ketika seseorang berkoar paling NU, namun jejak ke-NU-annya—bahkan di lingkar keluarga—tidak pernah dikenal sebagai warga NU.
Fakta yang tidak bisa dipelintir:
Ayah dan kakeknya, yaitu Sarmana dan Arsa, tidak tercatat, tidak dikenal, dan tidak hidup dalam tradisi NU, baik secara struktural maupun kultural.
Tidak ada rekam pengabdian keluarga dalam pesantren NU, majelis kiai NU, atau jaringan jam’iyyah NU.
Yang ada hanyalah klaim personal, bukan warisan khidmah.
Dalam NU, ini hal besar.
Karena NU adalah tradisi turun-temurun, bukan identitas instan.
NU itu sanad sosial, bukan kartu nama
Warga NU dikenal dari:
siapa kiai dan pesantrennya,
amaliyah hariannya,
keterlibatan jam’iyyah,
dan pengakuan komunitas.
Bukan dari:
merasa paling NU sendiri,
lalu menyerang ulama dan habaib yang justru dirawat NU sejak awal berdirinya.
Ironisnya, orang yang tidak berakar di NU, justru:
paling lantang mengklaim NU,
paling agresif memonopoli Aswaja,
dan paling getol mengadu domba NU dengan habaib.
Ini bukan kebetulan. Ini pola.
Pola Penyusupan Narasi: Mengaku NU untuk Memukul NU
Warga NU tulen paham satu hal:
NU dan habaib tidak pernah bermusuhan.
Justru:
habaib ikut membesarkan NU,
kiai NU belajar dan bersanad pada habaib,
dan amaliyah NU penuh dengan wirid dan ratib ulama Ba‘alawi.
Maka ketika ada sosok yang:
mengaku NU,
tapi memusuhi ratib yang diamalkan warga NU,
menyerang habaib yang dihormati NU,
pertanyaannya bukan lagi soal beda pendapat, tapi: 👉 agenda siapa yang sedang dijalankan?
Beban Pembuktian Ada pada Pengklaim
Kalau memang merasa NU:
tunjukkan sanad kiai,
tunjukkan khidmah panjang,
tunjukkan kontribusi membangun NU, bukan merusaknya.
Bukan malah:
memproduksi konflik internal,
memancing kebencian ke sesama Aswaja,
dan menjadikan NU tameng untuk perang pribadi.
Dalam kaidah NU:
man lam ya‘rifhu al-ahl, falaisa minhu
(Siapa yang tidak dikenal oleh ahlinya, maka ia bukan bagian darinya).
Penutup: Waspada Tanpa Ragu
Ini bukan soal nasab biologis.
Ini soal kejujuran identitas dan arah dakwah.
NU terlalu matang untuk dibohongi oleh klaim kosong.
NU terlalu beradab untuk diseret ke konflik murahan.
Dan NU terlalu bersejarah untuk dijadikan alat agenda jahat yang memecah Aswaja dari dalam.
Waspadalah—bukan pada siapa orangnya, tapi pada narasi yang dibawanya.
Karena sejarah menunjukkan: kerusakan terbesar NU selalu datang dari orang yang mengaku NU, tapi tidak hidup sebagai NU.

