Bukan Dizalimi, Tapi Tidak Laku: Potret Kegagalan Imad CS yang Disamarkan dengan Kebencian pada Habaib

 



Selasa, 10 Februari 2026

Faktakini.info, Jakarta - Ada satu fakta pahit yang terus ditolak oleh Imad cs dan lingkaran PWI-LS:

mereka tidak ditolak karena kebenaran, tapi karena tidak layak dipercaya umat.

Sementara habaib dan kyai NU ceramahnya rara-rata ramai dan membludak dimana-mana, kontras dengan sepinya panggung Imad, Abbas Tompel dkk

Alih-alih jujur mengakui kegagalan, mereka memilih kambing hitam: habaib dan ulama NU.

Padahal masalahnya bukan di luar. Masalahnya ada di cermin.

Dakwah Itu Pasar Kepercayaan, Bukan Ruang Pelampiasan Frustrasi

Umat tidak bodoh. Jamaah tahu mana ulama yang menenangkan dan mana yang hanya memuntahkan empedu.

Imad cs kalah bukan karena “dibungkam”, tapi karena:

ilmunya dangkal

ceramahnya kering dan membosankan

narasinya penuh amarah dan dendam

tidak punya hikmah, tidak punya daya hidup

Ketika majelis sepi, undangan minim, dan tidak ada jamaah setia, lalu mereka berteriak: “Kami dizalimi!”

Itu bukan dizalimi. Itu ditinggalkan.

Introspeksi yang Tidak Pernah Dilakukan

Mari jujur dan terbuka, sebagaimana umat menilai di lapangan.

Banyak figur di lingkaran ini:

tidak menguasai disiplin ilmu agama secara mendalam

miskin adab terhadap ulama

ceramahnya terasa kasar, kaku, dan penuh kebencian

Lebih dari itu, mereka gagal memahami hal paling dasar dalam dakwah:

penampilan, wibawa, dan aura juga bagian dari risalah.

Islam tidak mengajarkan ulama tampil dekil, lusuh, dan tak terurus.

Rasulullah ﷺ mencintai kerapian, kebersihan, dan keindahan.

Ketika figur dakwah:

tidak rapi

tidak menjaga kebersihan

tampil tanpa wibawa

wajah dan gesturnya memantulkan kemarahan

lalu heran kenapa umat menjauh—itu bukan konspirasi, itu akal sehat.

Umat Tidak Wajib Menyukai Orang yang Tidak Menyenangkan

Ini realita sosial yang pahit tapi nyata:

umat cenderung mencintai figur yang cerdas, santun, berwibawa, enak didengar, dan enak dilihat.

Para habaib dan kyai NU—tanpa harus dipoles—memiliki itu:

ilmu kuat

adab terjaga

wajah bersih dan menenangkan

tutur kata lembut tapi dalam

Banyak di antara mereka tampan, cerdas, karismatik.

Itu bukan dosa. Itu karunia Allah.

Sebaliknya, ketika seseorang:

lisannya kasar

wajahnya masam

narasinya penuh iri

energinya negatif

lalu menuntut dicintai umat—itu tidak realistis.

Gagal di NU, Lalu Menuduh NU Rusak

Imad cs tidak mendapatkan tempat di NU bukan karena NU anti kritik, tapi karena NU:

menuntut sanad ilmu

menuntut adab

menuntut kontribusi

menuntut kedewasaan

Mereka gagal memenuhi itu semua.

Alih-alih naik kelas, mereka memilih jalan pintas:

menyerang habaib, menuduh ulama NU, dan membangun citra seolah merekalah “korban kebenaran”.

Ini pola klasik:

orang yang kalah kualitas, lalu mengutuk sistem.

PWI-LS: Ruang Konsolidasi Orang-Orang yang Gagal Diterima Arus Utama

PWI-LS lebih tampak sebagai komunitas orang-orang yang ingin diakui sebagai ulama, tapi:

tidak laku di majelis

tidak diakui ulama besar

tidak dipercaya umat

Mereka ingin status tanpa proses, pengaruh tanpa keteladanan, dan penghormatan tanpa adab.

Ketika semua itu tidak datang, lahirlah ideologi kebencian.

Pengunci: Tuduhan Mereka Gugur oleh Fakta Sosial

Ini poin pengunci yang tidak bisa dibantah:

Jika kalian benar dan berkualitas, umat akan datang sendiri.

Jika kalian berilmu dan beradab, majelis akan hidup.

Jika dakwah kalian menenangkan, jamaah akan bertahan.

Faktanya tidak demikian.

Maka kesimpulannya jelas:

yang gagal bukan habaib, tapi kalian.

Menyerang nasab tidak akan membuat kalian lebih alim.

Menghina ulama tidak akan membuat kalian lebih dihormati.

Dan membenci yang dicintai umat hanya akan membuat kalian semakin terasing.

Penutup: Cermin Itu Lebih Menyakitkan dari Musuh

Jika Imad cs masih punya sisa kejujuran, hentikan menyerang ke luar.

Mulailah bercermin ke dalam.

Karena sejarah dakwah tidak mencatat siapa yang paling berisik,

tetapi siapa yang dicintai umat karena ilmu dan akhlaknya.

Dan untuk saat ini, umat sudah menjawab dengan diam yang paling menyakitkan:

tidak datang, tidak mendengar, dan tidak peduli.