Framing Jahat dan Generalisasi Menyesatkan Kasus Kriminal: Kritik terhadap Narasi Sekte Imad PWI-LS tentang Habaib
Selasa, 10 Februari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Belakangan ini beredar masif narasi dan konten visual di media sosial dari Sekte Imad (Orang-orang gila nasab) yang secara sistematis menyerang kelompok Habaib dengan cara mencari, mengumpulkan, lalu memviralkan kasus kejahatan yang dilakukan oleh segelintir oknum yang kebetulan bergelar Habib. Konten-konten tersebut kemudian diframing seolah-olah menjadi bukti bahwa “Habaib identik dengan kejahatan”. Inilah pola propaganda yang digunakan oleh kelompok yang dikenal sebagai Sekte Imad PWI-LS.
Pola Framing yang Digunakan
Pola yang berulang dapat diringkas sebagai berikut:
Seleksi kasus (cherry picking)
Hanya kasus kriminal tertentu yang melibatkan individu bergelar Habib yang diangkat dan diviralkan.
Penghilangan konteks
Tidak dijelaskan bahwa pelaku adalah oknum individual, bukan representasi kelompok.
Generalisasi kolektif
Kesalahan satu atau dua orang ditarik menjadi tuduhan terhadap seluruh Habaib.
Standar ganda
Pada saat yang sama, ribuan hingga jutaan kasus kriminal lain yang dilakukan oleh pelaku dari latar belakang apa pun diabaikan, karena tidak sesuai dengan agenda narasi.
Secara ilmiah dan logika sosial, metode ini adalah sesat pikir (logical fallacy) jenis hasty generalization dan confirmation bias.
Fakta Sosial yang Diabaikan
Faktanya sederhana dan tak terbantahkan:
Pelaku kejahatan ada di semua kelompok manusia, tanpa memandang etnis, suku, status sosial, atau gelar keagamaan.
Tidak ada satu pun kelompok manusia yang ma‘shum (terjaga dari dosa dan kesalahan), selain para Nabi dan Rasul.
Menyebut satu kelompok sebagai “jahat” hanya karena ulah segelintir oknum adalah bentuk ketidakjujuran intelektual.
Jika logika Sekte Imad PWI-LS diterapkan secara konsisten, maka:
Setiap kejahatan yang dilakukan oleh individu dari suku, profesi, atau organisasi tertentu harus digeneralisir ke seluruh kelompoknya.
Jelas ini absurd, berbahaya, dan merusak kohesi sosial.
Masalah Utamanya Bukan Kritik, tapi Kebencian
Kritik terhadap individu yang bersalah adalah sah dan wajib. Namun yang dilakukan Sekte Imad PWI-LS bukan kritik, melainkan:
Produksi konten kebencian
Framing kolektif
Stigmatisasi satu kelompok identitas
Ini terlihat dari narasi yang sengaja:
Mengulang-ulang label “bukan Habib” pada kasus tertentu untuk membangun kesan statistik palsu.
Mengabaikan fakta bahwa kriminalitas adalah persoalan individu dan sistem, bukan darah, nasab, atau identitas kultural.
Kesimpulan
Narasi yang dibangun Sekte Imad PWI-LS bukanlah upaya mencari kebenaran atau keadilan, melainkan upaya sistematis membentuk opini publik berbasis kebencian dan generalisasi. Ini berbahaya karena:
Merusak nalar publik
Memicu konflik horizontal
Mengaburkan fokus dari solusi nyata terhadap kejahatan
Prinsip yang benar dan adil sangat jelas:
Yang salah adalah orangnya, bukan gelarnya.
Yang harus dihukum adalah pelakunya, bukan kelompoknya.
Masyarakat perlu waspada terhadap framing semacam ini, karena kebencian yang dibungkus seolah-olah “kritik rasional” sering kali justru paling merusak.



