POLEMIK NASAB ATAU KEBENCIAN RASIAL?
Kamis, 15 Oktober 2026
Faktakini.info
POLEMIK NASAB ATAU KEBENCIAN RASIAL?
Saya melihat polemik nasab belakangan ini semakin tidak sehat. Perdebatan yang semula mengatasnamakan penelitian sejarah dan keilmuan perlahan berubah menjadi ajang penghinaan, kebencian, bahkan sentimen rasial terhadap kelompok keturunan tertentu.
Saya bertanya: Mengapa harus sebenci itu?
Bukankah kita sama-sama Muslim? Sama-sama membaca Al-Qur'an, mengikuti Rasulullah ﷺ, menghadap kiblat yang sama, dan meyakini ajaran Ahlussunnah wal Jamaah?
Apakah hanya karena perbedaan pandangan tentang silsilah, persaudaraan seiman harus dikorbankan?
Saya tidak keberatan nasab diteliti. Silakan dikaji, diuji, dan diperdebatkan secara ilmiah. Tetapi jangan menjadikan penelitian nasab sebagai legitimasi untuk menghina suatu kelompok keturunan.
Kesalahan seorang habib bukanlah kesalahan seluruh habib. Apalagi kesalahan seluruh keturunan Arab!
Kalau ada seorang habib berbuat salah, kritiklah perbuatannya. Jika melanggar hukum, proseslah sesuai hukum. Tetapi jangan menyeret seluruh keluarganya, marganya, apalagi etnisnya.
Mari menggunakan akal sehat.
Letkol Untung terlibat dalam peristiwa G30S. Apakah lantas seluruh orang Jawa boleh dituduh PKI?
Ada koruptor dari suku tertentu. Apakah seluruh sukunya harus disebut bangsa koruptor?
Ada kiai yang melakukan pelanggaran. Apakah seluruh kiai dan pesantren harus ikut disalahkan?
Tentu tidak!
Kalau kesalahan individu dijadikan dasar menghukum seluruh keturunannya, itu bukan penelitian ilmiah. Itu prasangka kolektif yang berbahaya.
Al-Qur'an telah mengajarkan:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
"Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." (QS. Al-An'am: 164)
Bahkan Allah menegaskan bahwa kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh suku, bangsa, atau garis keturunan, melainkan ketakwaannya (QS. Al-Hujurat: 13).
Ironisnya, sebagian orang begitu bersemangat membongkar silsilah orang lain, tetapi justru melupakan akhlak yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Mengaku membela kebenaran, tetapi lisannya dipenuhi penghinaan. Mengatasnamakan ilmu, tetapi tulisannya menyebarkan kebencian.
Jangan sampai penelitian nasab berubah menjadi industri kebencian, ketika semakin banyak orang dihina, semakin ramai konten dan semakin besar tepuk tangan pengikutnya.
Saya ingin mengingatkan bahwa bangsa Indonesia dibangun di atas keberagaman. Orang Arab, Jawa, Madura, Sunda, Bugis, dan suku lainnya telah hidup berdampingan selama berabad-abad.
Kita tidak boleh membiarkan perbedaan nasab merusak persaudaraan yang telah dibangun oleh para ulama dan pendahulu kita.
Silakan berbeda pendapat tentang sejarah. Tetapi jangan kehilangan akhlak dalam memperjuangkan pendapat.
Mengkritik seorang habib adalah hak setiap orang. Tetapi membenci seluruh keturunan Arab karena kesalahan seorang habib adalah rasisme.
Jangan mengaku sedang memperjuangkan kebenaran jika yang dipelihara justru kebencian.
Sebab kebenaran tidak membutuhkan rasisme untuk membuktikan dirinya.
Kita ini saudara seiman, bukan musuh karena keturunan. Jangan sampai sibuk meneliti siapa keturunan Nabi, tetapi justru kehilangan akhlak Nabi.
— Fahrur
