INILAH MURID UTAMA DR K.H. IDHAM CHALID, "SINGA PODIUM" DAN "PENJAGA ASWAJA", K.H SYUKRON MAKMUN
Senin, 19 Oktober 2026
Faktakini.info
INILAH MURID UTAMA DR K.H. IDHAM CHALID, "SINGA PODIUM" DAN "PENJAGA ASWAJA", K.H SYUKRON MAKMUN
✍️Oleh: Muhammad Rozi
Innâ lillâhi wainâ ilaihi raji'un umat Islam Indonesia khususnya kalangan dunia santri & pesantren telah berduka yang sangat mendalam dengan berpulangnya ke rahmatullah salah seorang ulama besar kharismatik Nusantara & pendakwah 'Ulung' Indonesia yang konsisten berdakwah dalam membela Islam & umat Islam dari 'rongrongan' & serangan musuh Islam baik mereka yang 'berbaju' dari kalangan eksternal maupun internal Islam; guru kita, orang tua kita, murobbi yang kita cintai, almaghfurlah,
Syaikh Prof KH Syukron Makmun
(Pimpinan Umum Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta Selatan).
Ia wafat pada Ahad pagi, 18 Oktober 2026.
Siapakah beliau sebenarnya, inilah profil, julukan & aktivitas beliau secara singkat.
"Singa Podium"
Siapa yang tidak mengenal "Singa Podium" yang tetap eksis dari tahun 65-an hingga sekarang, itulah dia Prof.K.H Syukron Makmun B.A.C (lahir di Sampang Madura, 21 Desember 1941) adalah pimpinan umum & pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman yang berpusat di Ciganjur Jakarta Selatan, dan bercabang di Leuwliang Bogor, dan Sawangan Parang.
Julukan "Singa Podium" patut di sematkan kepadanya, bagaimana tidak setiap kali ia naik ke mimbar atau podium berpidato dengan suaranya yang bagus, sangat nyaring & lantang serta menggelegar otomatis membuat semua audiens terpana, terpukau, terpesona dan terasa terhipnotis oleh magig susunan bahasa dialek, retorika dan bahasa tubuhnya yang menimbulkan decak-kagum semua pendengarnya. Terkadang audiens tak terasa mengeluarkan teriakan gemuruh & tepuk tangan aplaus tanpa di komando. Hal ini telah langsung saya penulis rasakan sendiri saat muda dulu ketika mendengarkan ceramah atau pidato KH Syukron Makmun di daerah asal penulis tahun 1989, maupun di Jakarta ketika menimba ilmu tahun 1993 sebagai mahasiswa di Institut Islam Daarul Rahman Jakarta, yang menjadi Rektornya beliau sendiri. Ataupun kalau mau mudah mendengarkan rekaman pidato-pidato beliau gampang didapatkan di toko toko penjual kaset audio era '80-'90-an.
Julukan “Singa Podium” sendiri pula didapat, karena jam terbangnya yang sangat tinggi dalam dakwah, K.H Syukron Makmun memulai aktivitas dakwahnya sejak masih kecil. Saat masih di kelas 5 di Pesantren Gontor Ponorogo, beliau sudah terjun ke dunia dakwah. Kemudian pada awal tahun 1967 (kurang lebih usia beliau saat itu 26 thn), dakwah KH. Syukron sudah menjelajahi Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Magetan, dan sekitarnya. Sebagai kiai Nahdliyin muda ketika itu, tentu dakwahnya tidak mudah. Ia tidak lepas dari golok untuk mengantisipasi perkelahian, karena 'ancaman' orang-orang PKI datang setiap waktu untuk 'menghabisi' nyawa ulama.
Pendidikan
K.H Syukron Ma’mun kecil mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) selama 6 tahun. Pulang sekolah SR jam 2 siang Beliau sekolah di Madrasah “Miftahul Ulum”. Saat masih duduk di bangku SMP beliau pernah diangkat menjadi PN (Pegawai Negeri) yaitu menjadi guru SD/SR tetapi karena setelah lulus SMP beliau langsung mondok di pesantren tertua di Nusantara, pondok pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur, maka beliau tidak melaksanakan tugas tersebut.
Selepas mondok di Sidogiri beliau melanjutkan nyantri ke Pesantren Gontor Ponorogo kurang lebih 6 tahun. Di sana beliau juga mendalami pendidikan agama di Tsanawiyah dan Aliyah. Pendidikan di pondok Gontor Ponorogo beliau selesaikan dengan tamat di Kulliatul Mu’allimin. Kurang lebih pada tahun 1966 lalu melanjutkan pendidikan di IPD (Institut Pendidikan Daarussalaam) Gontor, sekarang menjadi ISID (Institut Studi Islam Daarussalaam), beliau termasuk Sarjana Muda pertama di kampus tersebut. Dan mendapat gelar B.A. C.
Menimba Ilmu ke Jakarta
Pada tahun 1967 juga, ia berangkat ke Jakarta, mengaji kepada Al-Habib Ali Bin Husein di Bungur, mengaji kitab Bukhori juga kepada Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang.
Mengajar
Selain mengaji dengan para Habaib dan ulama, ia mulai aktif mengajar kira-kira tahun 1971 di beberapa Perguruan Tinggi/Akademik, ke masjid-masjid, majlis-majlis Ta’lim/pengajian-pengajian rutin di Islamic Center, di seluruh DKI pada umumnya. Karena beliau juga aktif di masyarakat seperti di majlis-majlis ta’lim/masjid-masjid, maka beliau tinggalkan aktivitas di Perguruan Tinggi/akademik tersebut.
Politik dan Organisasi
Perjalanan politiknya dimulai dari awal kedatangannya ke Jakarta pada tahun 1967, hingga tahun 1975 beliau tinggal bersama Dr K.H. Idham Chalid (Tokoh besar NU, Ketua Umum PBNU, sekaligus wakil Perdana Menteri/MENKOKESRA, zaman Kabinet Orla tahun 1967-an). Beliau ikut mengaji kepada Dr K.H. Idham Chalid sambil berdakwah (jadi asisten pribadi beliau). Tinggal satu rumah dengan K.H Idham Chalid, kyai Syukron berkesempatan belajar banyak politik dan organisasi darinya.
"Jadi kalau pak Dr KH Idham tidak bisa atau berhalangan memenuhi undangan ceramah di Jakarta maupun diluar Jakarta, pasti saya yang disuruh beliau mengisi undangan tersebut," kenang KH Syukron Makmun dalam suatu pidatonya di masjid Ponpes Daarul Rahman Jakarta Selatan.
Setelah sekian lama ikut dengan Dr K.H. Idham Chalid, beliau diangkat menjadi Direktur Ponpes Darul Maarif, milik Dr K.H. Idham Kholid di Cipete Jakarta Selatan. Selesai menjabat Direktur di Pon-Pes tersebut, beliau mulai mendirikan/membangun sendiri Ponpes Daarul Rahman (kurang lebih tahun 1975-hingga sekarang). Disamping mengurus Ponpes Daarul Rahman, baik yang berpusat (dahulu) di Jl Senapati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan bercabang di Leuwliang Bogor, dan Sawangan Parung, beliau tidak pernah alpa dari kancah dunia dakwah Islam hingga sekarang.
Mulai aktif di organisasi pada tahun 1956 mulai dari jabatan sebagai Ketua cabang IPNU , Ketua Umum LDNU (Lembaga Dakwah Nahdhatul Ulama) serta Wakil Ketua Robitotul Ma’ahid. Sampai akhirnya beliau menjadi Ketua Umum Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia.
Partai yang dideklarasikan pada tanggal 05 Maret 2003 di Jakarta, ini merupakan wujud baru dari Partai Nahdlatul Umat yang hanya meraih lima kursi DPR dalam Pemilu 1999. Partai ini didirikan oleh K.H Syukron Makmun beserta sejumlah aktivis inti Ittihadul Mubalighin (organisasi keagamaan & kemasyarakatan dalam bidang dakwah yang menjadi ketua umumnya beliau sendiri) seperti Idham Chalid, Muhibbudin Waly, A.Mudhor, Usman Abidin, Muhammad Thohir dan Achmad Sjatari. Pada Pemilu 2009, PPNUI sebelumnya tidak lulus verifikasi.
Selanjutnya pada Pemilu 2009 PPNUI mendapat nomor urut 42. Walaupun saat ini PPNUI sudah tidak aktif lagi namun ekprementasi politik K.H Syukron Makmun yang mencoba menggabungkan dakwah dan politik dalam sebuah wadah partai layak diacungi jempol, terlebih saat ini menjadi dewan penasihat Partai Persatuan Pembangunan ( PPP ), Berjalannya waktu KH Syukron Makmun yang dipercaya untuk memimpin Forum Ulama dan Habaib ( FUHAB ) tahun 2016 – 2021, juga dewan Syuro Majelis Ilmu dan Dakwah Ahlusunnah Waljamaah (MAIDAH) yang juga di bawah asuhan beliau yang di rekrut dari alumni Pesantren Daarul Rahman.
Sang Penjaga Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja)
Sekitar tahun 2023 lalu di tengah ketegangan antarumat Islam di semua lini, baik di dunia nyata maupun di dunia maya (Medsos) akibat ikhtilaf & perdebatan sengit mengenai hukum musik, yang diprakarsai oleh Salafi-Wahabi dan menyasar ustaz Adi Hidayat, Lc, MA bahkan ormas Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, beredar video yang menyejukkan dari ulama kondang kenamaan tanah air, KH. Syukron Makmun. Dalam sebuah pidato, ia menyampaikan himbauan, agar Wahabi datang ke pesantrennya dan diskusi bersama dengan adem—menghindari perpecahan umat yang tidak diinginkan.
Begini dawuhnya,
"Wahai saudara-sudaraku dari kaum Wahabi. Persilakan perdengarkan pidato Syukron Makmun pada malam hari ini. Saya arahkan kepada perbedaan-perbedaan yang selalu dimunculkan, itu yang disebut masalah bid’ah. Mari kita duduk bersama."
"Saudara-saudaraku yang saya cintai dari kaum Wahabi. Datanglah ke asrama Pondok Daarul Rahman, bawalah kitab Anda, bawalah hadis Anda, mari ketemu dengan Syukron Makmun. Kita makan nasi goreng bersama, kita minum kopi bersama. Mari kita berbicara dengan dalil-dalil yang masuk akal. Jangan dengan emosi. Dengan emosi itu tidak menghasilkan."
Kutipan pidato tersebut tentu sangat luar biasa. Ia tidak hanya merupakan wujud kemoderatan KH. Syukron sebagai ulama Aswaja, tetapi juga keberaniannya untuk adu argumen dengan kaum Wahabi yang telah meresahkan NKRI. Pada usianya yang sudah sangat sepuh, KH. Syukron yang dijuluki “Singa Podium” masih sangat siap meladeni Wahabi. Semua itu demi satu cita: menjaga akidah Ahlussunnah dan persatuan NKRI.
Kendati demikian, Wahabi tidak akan meresponsnya secara suportif atau sopan. Paling mentok mereka seperti biasa akan menyerang KH. Syukron Makmun dan ulama-ulama Aswaja lainnya dengan label pelaku bid’ah, kuburiyyun (penyembah kuburan), ahli bid'ah, pemakan besek tahlilan, bahkan label-label yang lebih menyakitkan lainnya, kaum kufur atau kafir.
Tidak ada debat bagi kaum Wahabi ini, karena bagi mereka kebenaran mutlak adalah miliknya dan yang lain semua sesat serta kafir. Namun, justru itulah yang menunjukkan ciutnya nyali Wahabi di hadapan sang pelestari Aswaja ini.
Konter Wahabi di Indonesia
Ketika Sang Singa Podium KH. Syukron Makmun sudah turun tangan menanggapi sekte Salafi Wahabi dan kegaduhan mereka yang sangat meresahkan, itu artinya akidah Islam di Indonesia sedang "tidak baik baik" saja, atau berada dalam "ancaman serius". Faktanya, Wahabi dengan kebiasaannya membid’ahkan, menyesatkan dan mengkafirkan sesama muslim tidak sekadar mengancam kerukunan antarumat, melainkan juga berpotensi memantik terorisme karena egoisme keberagamaan mereka yang intoleransi.
Karena itu, KH. Syukron Makmun sebagai teladan bersama tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Jika ia di usianya yang sudah senja masih peduli dengan nasib Islam dan NKRI, apakah kita sebagai generasi muda akan abai? Tidak. Wahabi mesti disikapi secara serius tidak hanya oleh sang Singa Podium, melainkan oleh seluruh masyarakat Indonesia khususnya umat Islam. Artinya, konter Wahabi adalah sebuah keniscayaan dan kewajiban.
Menariknya, KH. Syukron sama sekali tidak memakai istilah “Salafi” dalam pidatonya merespons Wahabi. Ia konsisten menggunakan istilah satu kata “Wahabi”, sebagai pukulan telak bahwa kamuflase Wahabi selama ini adalah tipuan kepada seluruh umat Islam. Manhaj salaf yang selalu Wahabi gembar-gemborkan sejatinya palsu, karena yang Wahabi sebarkan adalah manhaj khalaf dari ulama abad kedua puluh, yakni para dedengkot Wahabi.
Akhir Kata
Mari belajar kepada sang "Singa Podium" & Penjaga Aswaja, Prof. KH. Syukron Makmun untuk melestarikan Aswaja dari rongrongan Wahabi. Mari meneladani sang Singa Podium ihwal keteguhan & konsistennya menjaga umat Islam dan NKRI dari perpecahan akibat ulah pemecah-belah bangsa yakni—sekali lagi—Wahabi. Sebagaimana KH. Syukron Makmun yang tidak gentar menghadapi dai-dai Wahabi yang berkeliaran di seantero negeri khususnya di Medsos, mari konter Wahabi demi Islam dan NKRI tercinta.
📚Sumber:
1. smpsmaitdaarulrahman.com
2. jalandamai.org
3. Cuplikan ceramah KH Syukron Makmun di hadapan santri Ponpes Daarul Rahman Jakarta Selatan.
📝Penulis & editor: Muhammad Rozi
✔️Powered by: Muhammad Rozi.
____
Foto: Sang "Singa Podium", KH. Syukron Makmun. Foto design by Muhammad Rozi.
#KHSyukronMakmun #obituari #wafatulama #ulama #UlamaNusantara #singapodium #sorotan
