"KUALAT DAN SIAL GARA-GARA HABIB ?"
Senin, 19 Oktober 2026
Faktakini.info
Iwan Mahmoed Al Fattah III
"KUALAT DAN SIAL GARA-GARA HABIB ?"
Akhir-akhir ini saya melihat, mereka-merekà yang selama ini dekat hubungannya dengan Habib sering menjadi sasaran cyber bullying oleh fihak-fihak yang selama ini tidak percaya akan nasab Habib khususnya Bani Alawi. Yang juga tidak kalah anehnya, banyak diantara mereka bila dilihat sekilas dari wajah berusia diatas 50an. Entah apakah mereka mengerti atau memang cuma ikut-ikutan karena diajak.
Selain Cyber Bullying di media sosial, di lapangan pun para pembenci nasab habib ini gemar membubarkan paksa majelis majelis yang di dalamnya terdapat habib, bahkan mereka dibawah arahan "ulama" versi mereka membuat surat resmi perizinan yang ditujukan kepada aparat pemerintahan agar bisa membubarkan kegiatan yang didalamnya mengundang habib. Yang ironis mereka melakukan "kekerasan" mengatasnamakan Walisongo dengan atribut serba hitam. Padahal sejarah Walisongo itu ajarannya sangat Sufistik dan jauh dari hal-hal keras dan brutal.
Coba perhatikan, berapa banyak tokoh besar yang sudah mereka bully habis-habisan hanya karena dekat atau baik hubungannya dengan habib. Caci maki dan kata-kata kotor sepertinya sudah menjadi "kurikulum" wajib untuk menjatuhkan harkat dan martabat habib.
Ironis sekali, di saat bangsa kita sibuk terhadap berbagai permasalahan sosial, hari gini masih ada yang sibuk ngurusin nasab, udah 4 tahun lagi ! Seolah mereka itu sejak dari kecil sampai tua ngurusin masalah nasab. Di saat Iran sedang memborbardir Israel, Amerika dan Saudi menghantam Houti, atau Prabowo yang sedang sibuk lantik pejabat, atau Jokowi yang lagi mumet karena Gibran ketahuan cuma punya SUKET PENYETARAAN SMA, eh ada yang sibuk membahas masalah nasab HABIB dari Hadramaut.
Tokoh ulama sekelas Habib Umar bin Hafiz saja mereka olok-olok tanpa ampun baik dalam bentuk meme yang diedit ataupun gambar gambar AI, hanya saja Habib Umar bin Hafiz menjawab itu dengan senyuman dan doa, tidak ada satupun balasan beliau berupa caci maki ataupun hujatan, bahkan murid-murid beliau juga tidak menanggapi serius.
Selain Habib Umar, nama Rais Aam PBNU termasuk jajaranya sampai sekarang menjadi sasaran utama dengan target pelengseran hanya karena beliau dekat dengan Habib. Sebentar lagi nampaknya orang seperti Nusron Wahid yang sedang terkena kasus pastinya akan menjadi santapan pesta pora untuk dirujak karena Nusron Wahid adalah sosok yang cukup akrab dengan habib.
Terakhir saya lihat nama Almarhum Prof. KH Syukron Ma'mun juga menjadi sasaran empuk mereka, KH Syukron Ma'mun yang dikenal dekat dengan habib mereka lekatkan dengan stigma jelek, padahal siapapun tahu di Jakarta bahkan nasional siapa KH Syukron. Istilah-istilah khas kaum keras kepala ini pun kemudian bermunculan seperti, "korban mubahalah", "kualat", "dobolowi", "modyar", "kabeb rungkat", "habib PKI", Habib itu Yahudi Askenazi", dan istilah-istilah lain yang "mengerikan".
Saya sendiri sampai berfikir, orang² yang selama ini gemar melakukan cyber bullying dan juga di lapangan itu sebenarnya pernah diajarin akhlak gak sih selama hidupnya ? Masak pelajaran adab dan akhlak saat masih kecil gak membekas sama sekali ? Kok mudah sekali jari dan mulutnya melakukan hal yang masuk kategori hinaan berat, kok bisa mengaku agama Islam malah bangga kalau "berantem" sama habib, tapi giliran sama tauke tauke dan tuan tanah cokim pada diam dan malah "cium tangan". Apakah mereka ketika melakukan hal hal jelek seperti diatas tidak malu dilihat kepada keluarga, anak, istri, cucu dan orang kampung ? Apa gak lebih baik ngaji akhlak lagi ketimbang ikutin pujaannya mencaci maki habib dengan dalil ilmiah ?
Hidup buat para pembenci habib ini ruwet
Dimata mereka, seolah bila kita dekat dengan Habib hidup akan sial dan kualat. Bila anda dapat musibah itu tidak lain adalah bentuk kualat atau efek mubahalah karena berani membela atau simpati kepada habib. Dengan kata lain semua apa yang terjadi kepada mereka yang ada sangkut pautnya dengan habib itu karena "sumpah" atau keinginan kaum nawashib ini. Secara tidak langsung mereka ini sebenarnya sudah memposisikan diri sebagai TUHAN, karena apa yang terjadi harus seperti apa kata mereka. Padahal apapun yang terjadi pada manusia itu semata mata karena takdir Allah. Masalah kematian itu jelas hak preogratif Allah bukan apa kata manusia apalagi sampai membandingkan dengan tokoh pujaan mereka yang sampai saat ini katanya masih sehat walafiat padahal sudah berani membatalkan nasab habib. Itu salah satu indikator mereka.
Para pembenci nasab habib ini akan semakin bersorak sorai dan "brutal" ketika mendapati ada habib yang viral karena bertingkah laku konyol atau tidak pantas baik dalam bentuk ceramah atau hal-hal lain. Kesalahan beberapa habib yang virall akan mereka jadikan tolak ukur bahwa semua habib bejat dan wajib dirungkatkan, padahal habib² yang lurus lurus juga banyak.
Kualat dan sial itu hanya masuk pada kategori orang-orang yang boleh jadi latar belakang perbuatannya dulu jelek di mata Allah sehingga kemudian Allah beri teguran.
Adalah sangat aneh kalau ada habib sepuh yang soleh, kyai sepuh, orang² soleh saat wafat dikaitkan dengan istilah kualat apalagi korban mubahalah. Jelas ini mencerminkan kedangkalan pikir yang kronis. Bagaimana mungkin minyak dan air mau dicampur baurkan ? Mereka yang sering mengatakan kualat, korban mubahalah, cobalah sekali kali berkaca pada cermin dan perhatikan wajah anda selama 25 menit, kemudian nilailah sendiri wajah anda....jangan lupa coba tanyakan kepada keluarga anda, kira² mereka bangga tidak kalau bapaknya atau anaknya atau cucunya atau istrinya menjadi pembenci habib ?
Tammat..
