Kecerdikan Bocah Kenya 13 Tahun atasi Singa yang kerap memangsa hewan ternak

 


Senin, 17 Agustus 2026

Faktakini.info, Jakarta - Puluhan tahun lamanya, setiap kali singa memangsa ternak di pedesaan Kenya, balasannya hampir selalu sama. Singa itu diburu dan dibunuh. Konflik antara manusia dan predator tersebut telah menewaskan banyak singa di sekitar Nairobi National Park. Tidak ada yang menyangka solusi untuk masalah itu justru datang dari seorang bocah penggembala berusia 13 tahun.

Pada tahun 2011, Richard Turere tinggal di Kitengela, Kenya, wilayah yang berbatasan langsung dengan habitat singa liar. Hampir setiap malam, para peternak kehilangan sapi akibat serangan predator. Sebagai anak yang bertugas menjaga ternak keluarganya, Richard menyaksikan sendiri bagaimana kemarahan warga sering berakhir dengan kematian singa.

Suatu malam, ia memperhatikan sesuatu yang tidak disadari orang lain. Singa tidak pernah mendekati kandang saat ia berjalan membawa senter, tetapi kembali muncul ketika ia berhenti. Dari pengamatan sederhana itu, Richard menyadari bahwa singa bukan takut pada cahaya, melainkan pada cahaya yang bergerak karena terlihat seperti manusia yang sedang berjaga.

Berbekal pengetahuan elektronika yang dipelajarinya sendiri dari membongkar radio bekas, Richard merakit sistem sederhana menggunakan aki mobil, panel surya, kabel, dan lampu. Lampu lampu itu dibuat menyala bergantian sepanjang malam sehingga dari kejauhan tampak seperti seseorang yang terus berpatroli mengelilingi kandang. Inovasi tersebut kemudian dikenal dengan nama Lion Lights.

Hasilnya luar biasa. Serangan singa ke kandang keluarganya berhenti dan para tetangga mulai memasang sistem yang sama. Lion Lights kemudian menyebar ke berbagai wilayah Kenya dan negara lain. Di usia 13 tahun, Richard Turere berhasil melakukan sesuatu yang gagal dilakukan banyak orang dewasa, melindungi ternak tanpa membunuh singa dan membantu menciptakan perdamaian antara manusia dengan salah satu predator paling ditakuti di Afrika.