Serangan Sekte Imad terhadap Nasab Habaib: Ambisi Representasi Baru Keturunan Nabi Muhammad SAW



Selasa, 17 Februari 2026

Faktakini.info, Jakarta - Serangan Sekte Imaduddin bin Sarmana bin Arsa, Abbas Tompel, Oma Irama, Fulyulis Indriyanto (KRT Faqih), Suyoto (Nur Ihya'), Marzuqi Mustamar, Moggi Norsatya PWI-LS cs terhadap nasab Habaib bukan perdebatan ilmiah. Ia adalah kampanye sistematis yang terus diulang, dipropagandakan, dan dibingkai seolah-olah sebagai “pembongkaran kebenaran”. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, muncul pertanyaan mendasar: apa sebenarnya tujuan akhirnya?

Banyak pihak menilai, upaya meruntuhkan nasab Ba‘alawi bukan berhenti pada delegitimasi semata. Ada harapan tersembunyi dari Sekte Imad orang-orang yang sangat gila nasab tersebut, bahwa ketika kepercayaan publik terhadap nasab Habaib runtuh, ruang simbolik itu akan kosong — dan kekosongan tersebut bisa diisi Sekte Imad yang ingin tampil sebagai representasi baru keturunan Rasulullah SAW.

Dengan kata lain: jika nasab Habaib rungkad, Sekte Imad berharap naik menggantikan — lengkap dengan gelar sayyid, syarif, habib, serta penghormatan sosial yang selama ini melekat.

Dan hal itu makin terang-terangan dilakukan. Dari panggung ke panggung Abbas Tompel Ketua Umum PWI-LS memproklamirkan dirinya adalah Sayyid Syarif shohih cucu Sayyidina Hussein dan Nabi Muhammad SAW dari Hijaz. Imad mengklaim cucu Sunan Gunung Jati dan Walisongo. 

Fuad Riyadi mengaku shohih cucu Nabi Muhammad SAW melalui buku nasab dan tes DNA. Dadang Zulfikar mengaku shohih Sayyid dari Maroko (dulu ngaku Ba'alawi) dan banyak klaim sepihak lainnya dari Sekte Imad PWI-LS.

Yulis PWI-LS  bahkan sudah berkali-kali melontarkan ambisinya untuk meminta dukungan pemerintah dalam mendirikan naqobah asyraf atau lembaga pencatatan nasab keturunan Nabi Muhammad SAW yang baru di Indonesia, dan nanti naqobah tersebut yang menentukan siapa saja yang berhak diakui sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. 

Tentu mudah ditebak tujuannya kemana dan yang akan disahkan sebagai Sayyid/Syarif/Habib nantinya nasab Yulis sendiri, Imad, Abbas Tompel, Oma Irama, Moggi dan sesama kelompok mereka dengan standar-standar yang mereka tentukan sendiri.

Namun realitas berbicara lain. Tak semudah itu Sekte Imad bisa menghapus nasab orang lain dan mensayyidkan nasab kelompok nereka sendiri.

Nasab Habaib tidak berdiri di atas klaim emosional atau pengakuan sepihak. Ia berdiri di atas sanad panjang, dokumentasi turun-temurun, serta pengesahan dari berbagai lembaga dan otoritas nasab di dunia Islam, bahkan nasab Habaib sudah ijma', kesepakatan para Ulama mu'tabar.

Hanya pendapat mereka yang memiliki otoritas yang berwenang atas terbentuknya ijma'. Opini Sekte Imad alias orang-orang awam dan bodoh, pengamat internet, akademisi tanpa sanad keilmuan, blogger, youtuber, peneliti amatir meskipun viral tidak berwenang dalam ijma'.

Seluruh ahli nasab mu'tabar dan naqobah asyraf resmi dunia mengakui nasab Habaib bahkan rutin bertemu dan bekerjasama dengan Rabithah Alawiyah.

Tradisi ilmu nasab memiliki metodologi, kaidah, dan disiplin yang tidak bisa dibatalkan hanya dengan opini, asumsi, atau narasi viral di media sosial.

Serangan Sekte Imad termasuk team cyber dan buzzernya di medsos yang terus-menerus menghantam nasab Habaib tanpa legitimasi ilmiah yang kuat justru memperlihatkan sisi lain: ambisi yang tidak tercapai. Karena nasab bukan jabatan yang bisa direbut melalui kampanye. Ia bukan gelar politik yang bisa dimenangkan lewat opini publik. Nasab adalah takdir.

Dan takdir tidak berpindah karena tekanan.

Ironisnya, semakin keras serangan dilancarkan, semakin tampak bahwa motifnya bukan sekadar klarifikasi ilmiah. Sebab jika benar ilmiah, ia akan tunduk pada Ijma' Ulama, forum ilmiah, metode ilmiah, dan adab ilmiah — bukan pada agitasi dan provokasi.

Lebih jauh lagi, Islam sendiri menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan semata-mata karena garis keturunan, melainkan karena takwa dan amal. Maka jika benar ingin mulia, jalannya bukan dengan menjatuhkan nasab orang lain, tetapi dengan memperbaiki diri dan kontribusi nyata.

Pada akhirnya publik tidak bodoh. Mereka bisa membedakan antara kritik yang tulus dan ambisi yang terselubung. Waktu akan menyaring mana yang berbasis ilmu dan mana yang digerakkan oleh hasrat untuk menggantikan posisi simbolik yang selama ini tidak pernah berhasil diraih.

Kebenaran tidak runtuh karena teriakan.

Dan nasab dan kemuliaan nasab tidak berpindah karena propaganda. Sekte Imad tetap gagal menjatuhkan nasab Habaib dan merebut gelar Sayyid/Syarif/Habib hingga ajal menjemput mereka.