Pola Kesesatan yang Berulang: Persamaan Mencolok Lia Eden dan Kelompok Imad PWI-LS
Selasa, 3 Februari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Dalam sejarah penyimpangan keagamaan di Indonesia, selalu muncul satu pola yang berulang, meski bungkus dan tokohnya berbeda. Nama boleh berganti, jargon bisa berubah, tetapi cara berpikirnya sama. Kasus Lia Eden (Komunitas Eden/Salamullah) di masa lalu, dan fenomena Imad bin Sarman beserta kelompok PWI-LS hari ini, menunjukkan kemiripan yang sangat mencolok—baik dari sisi klaim kebenaran, sikap terhadap otoritas ulama, hingga penolakan terhadap ijma’ dan konsensus keilmuan dunia Islam.
Perbedaannya hanya satu: Lia Eden sudah wafat dan kesesatannya berhenti bersama kematiannya pada 9 April 2021. Sementara Imad dan kelompoknya masih berjalan.
Pertanyaannya: akan berhenti kapan?
1. Merasa Paling Benar Sendiri: Ciri Utama Aliran Sesat
Ciri paling fundamental dari setiap aliran sesat bukanlah ajaran baru, tetapi kesombongan epistemik: merasa paling benar, paling lurus, paling jujur, dan menganggap semua pihak lain salah.
🔹 Lia Eden secara terbuka menyatakan:
“Yang benar adalah agama Salamullah, bukan Islam dan lainnya.”
Ia menolak:
Seluruh ulama sedunia
Seluruh mazhab Islam
Seluruh lembaga keagamaan resmi
Namun ia tetap berkata: “Saya haqqul yakin.”
🔹 Imad bin Sarman & PWI-LS melakukan hal yang sama, hanya di bidang nasab:
“Yang cucu Nabi Muhammad SAW adalah Sayyid Syarif Abbas Buntet, Sayyid Zulfikar, dan kelompok kami—bukan Ba‘alawi.”
Padahal:
Naqobah Asyraf sedunia mengakui nasab Ba‘alawi
Ulama nasab lintas mazhab dan negara mengakuinya
Kitab-kitab nasab klasik menetapkannya
Namun Imad tetap berkata: “Saya haqqul yakin.”
➡️ Kesamaan mutlak:
Klaim kebenaran tunggal berbasis keyakinan pribadi, bukan metodologi ilmiah.
2. Menolak Otoritas Keilmuan Resmi
Aliran sesat selalu bermasalah dengan otoritas. Mengapa? Karena otoritas ilmiah membatasi klaim liar.
🔸 Lia Eden menolak:
Majelis Ulama Indonesia
Ulama internasional
Tradisi keilmuan Islam 14 abad
🔸 Imad PWI-LS menolak:
Ahli nasab lintas negara
Naqobah Asyraf dunia
Ijma’ ulama nasab
Metodologi ilmu nasab klasik
Ironisnya, penolakan itu bukan karena mereka punya metodologi yang lebih kuat, tetapi justru karena metodologi ilmiah membantah klaim mereka.
➡️ Saat ilmu menolak klaim, yang diserang adalah ilmunya.
3. Ijma’ Ulama Dianggap Tidak Berlaku
Dalam Islam, ijma’ adalah hujjah. Menolaknya berarti merobohkan fondasi keilmuan Islam.
Lia Eden menolak ijma’ tentang Islam sebagai agama terakhir.
Imad PWI-LS menolak ijma’ tentang validitas nasab Ba‘alawi.
Padahal kaidah ushul menyatakan:
“Pendapat pribadi gugur ketika bertentangan dengan ijma’.”
Namun bagi dua kelompok ini:
Ijma’ salah, mereka yang benar.
Inilah logika khas aliran sesat.
4. Klaim Kebenaran Tanpa Mekanisme Koreksi
Ilmu memiliki:
Sanad
Metode verifikasi
Koreksi sejawat
Konsensus
Sementara Lia Eden dan Imad:
Tidak mau dikoreksi
Tidak tunduk pada forum ilmiah
Tidak siap diuji secara terbuka
Menyebut kritik sebagai “kedengkian” atau “rekayasa”
➡️ Keyakinan absolut tanpa koreksi adalah fanatisme, bukan ilmu.
5. Sejarah Membuktikan: Lia Eden Baru Berhenti Saat Wafat
Fakta sejarah pahit:
Lia Eden tidak pernah bertobat. Ia baru berhenti ketika wafat, 9 April 2021.
Semua nasihat:
Ulama
Akademisi
Aparat
Tokoh masyarakat
Ditolak mentah-mentah.
Pertanyaan yang sah diajukan hari ini:
Apakah Imad akan mengikuti jejak yang sama?
Penutup: Belajar dari Sejarah, Bukan Mengulanginya
Artikel ini bukan soal kebencian, tetapi peringatan intelektual dan keagamaan.
Sejarah menunjukkan:
Setiap aliran sesat selalu bermula dari klaim “kami paling benar”
Selalu menolak ulama
Selalu menolak ijma’
Selalu berakhir pada kehancuran moral dan intelektual
Islam tidak dibangun di atas “saya yakin”,
tetapi di atas ilmu, sanad, ijma’, dan amanah keilmuan.
Jika semua ulama sedunia salah dan hanya satu kelompok yang benar, maka yang patut dipertanyakan bukan ulama sedunia—tetapi kelompok itu sendiri.

