Operasi Nasab Sekte Imad Gagal: Habaib Menyala, Penyerang Terbakar Oleh Narasinya Sendiri

 

Ahad, 8 Februari 2026

Faktakini.info, Jakarta - Sejarah polemik nasab belakangan ini mencatat satu kegagalan paling telak: operasi bertahun-tahun Sekte Imad, Abbas Tompel, Oma Irama, Moggi PWI-LS cs untuk meruntuhkan kehormatan habaib justru berakhir sebagai panggung gratis bagi kemuliaan dzurriyah Rasulullah ﷺ. Yang direncanakan sebagai serangan, berubah menjadi iklan massal yang tak pernah diminta—dan tak pernah bisa dihentikan.

Realitas di lapangan terlalu keras untuk dipelintir. Haul, maulid Nabi, ziarah, dan majelis bersama para habaib bukan berkurang, tapi meledak. Jamaah bukan menjauh—mereka berdatangan. Bukan karena provokasi, bukan karena mobilisasi, tapi karena satu hal sederhana: hati umat mengenali cahaya.

Yang paling fatal bagi para penyerang bukan soal massa, tapi soal kesadaran. Polemik ini memaksa umat membuka kitab, bertanya pada ahlinya, dan mengenal satu disiplin ilmu yang selama ini luput dari perhatian publik: ilmu nasab. 

Dengan mudah masyarakat bisa bertanya dengan pertanyaan yang objektif dan tanpa penggiringan ke AI / Chat GPT: "Keturunan Nabi Muhammad SAW yang diakui oleh seluruh ahli nasab dan naqobah asyraf resmi dunia adalah sadah apa saja?", dengan mudah kita semua bisa mengetahui fakta sesungguhnya, bukan opini, framing dan penipuan kelompok tertentu.

Dari sini, standar kebenaran menjadi terang. Nasab bukan hasil teriakan, bukan produk emosi, melainkan pengakuan keilmuan yang dijaga lintas abad dan lintas negeri.

Dan ketika standar itu dipakai secara adil, hasilnya brutal.

Nasab Habaib Ba‘alawi berdiri di atas pengakuan para ahli nasab dan Naqobah Asyraf dunia. Rantai silsilahnya dikenal, dijaga, dan diakui. Ia tidak membutuhkan pembelaan emosional—cukup diuji, dan ia lolos.

Sebaliknya, klaim nasab tandingan dari Abbas Tompel dkk yang mengklaim keturunan shohih Sayyidina Hasan dan Sayyidina Hussein, runtuh tanpa perlu didorong. Ketika diuji dengan alat yang sama, ia tak tersambung. Ketika diminta pengakuan, ia hampa. Tidak satu pun Naqobah Asyraf yang berdiri memberi legitimasi. Di titik inilah tragedinya dimulai: propaganda bertahun-tahun ambruk bukan oleh serangan, tapi oleh ketiadaan bukti.

Maka yang tersisa hanyalah kebisingan. Imad, Abbas Tompel dan komplotannya sudah tak bisa lagi mengontrol emosinya, semakin sering mengamuk di panggung-panggung.

Narasi diulang, nada ditinggikan, emosi dipertontonkan. Ini bukan dinamika ilmiah—ini tanda kepanikan. Ketika argumen habis, suara diperkeras. Ketika validasi tak datang, panggung dijadikan pelampiasan.

Umat membaca semua itu dengan tenang. Dan kesimpulan mereka sederhana:

yang tenang adalah yang kokoh,

yang mengamuk adalah yang rapuh.

Dalam kacamata iman, ini bukan kejutan. Ini pola lama yang berulang. Dzurriyah Rasulullah ﷺ selalu diuji—dan setiap ujian justru memperjelas kedudukan mereka. Fitnah tidak memadamkan cahaya; ia hanya membuat cahaya itu terlihat dari lebih jauh.

Akhirnya, polemik ini menutup dirinya sendiri dengan ironis:

yang ingin menjatuhkan malah mengangkat,

yang ingin membuka aib malah membongkar klaimnya sendiri,

yang ingin dikenang sebagai pembongkar justru tercatat sebagai contoh kegagalan.

Kesimpulannya tidak bisa ditawar:

operasi ini gagal total.

Habaib tidak runtuh—mereka makin dicintai.

Dan para penyerang, Sekte Imad PWI-LS cs, cepat atau lambat, harus berhadapan dengan satu hal yang tak bisa mereka bantah: realitas umat tidak berpihak pada kebisingan.

Cahaya tetap cahaya.

Dan yang membenci cahaya, pada akhirnya hanya akan silau oleh terang yang ia sendiri nyalakan.