Habaib-Ulama Full, Sekte Imad Begal Nasab Kosong di Tamu Kehormatan Haul Sunan Ampel 2026
Ahad, 8 Februari 2026
Faktakini.info
Tahun ini (2026), saya kembali mengikuti Haul Sunan Ampel—sebuah momentum besar, bukan hanya bagi warga Surabaya, tetapi bagi umat Islam Nusantara. Sunan Ampel bukan wali biasa. Ia poros. Guru para wali. Pusat dari simpul Walisongo. Jika Walisongo adalah bangunan, Sunan Ampel adalah fondasinya.
Namun di tengah lautan jamaah, habaib, ulama, dzurriyah Walisongo, santri, dan masyarakat umum, ada satu hal yang justru terasa sangat mencolok karena ketidakhadirannya.
Tidak tampak satu pun tokoh dari kelompok yang selama ini paling getol membegal nasab para Habaib, kelompok yang rajin mengatasnamakan Walisongo, rajin mengutip sejarah—namun dengan cara memutus, meragukan, bahkan meniadakan ketersambungan nasab para Habaib kepada Rasulullah ﷺ.
Pertanyaannya sederhana, tapi menggelitik:
ke mana mereka?
Jika Klaim Itu Benar, Seharusnya Mereka Ada di Sana
Mari kita berfikir jernih, tanpa emosi.
Seandainya tuduhan-tuduhan mereka benar.
Seandainya tesis mereka—termasuk yang sering dikaitkan dengan Imad—memang menguntungkan dan bermanfaat bagi Walisongo dan keturunannya.
Seandainya cara mereka menilai, menyimpulkan, dan menuduh para Habaib itu ilmiah, sahih, dan diterima oleh dzurriyah Walisongo sendiri.
Maka acara sebesar Haul Sunan Ampel adalah panggung paling sah bagi mereka.
Bahkan secara logika sosial-keagamaan:
• Mereka akan diundang.
• Mereka akan diberi ruang ceramah.
• Mereka akan dihormati sebagai “penjaga kemurnian sejarah”.
• Mereka mungkin diminta memberi mau‘izhah, atau setidaknya hadir sebagai tokoh penting.
Toh, ini acara Walisongo.
Toh, mereka mengaku paling membela Walisongo.
Namun kenyataannya?
Tidak satu pun.
Tidak satu pun hadir.
Tidak satu pun diundang.
Tidak satu pun terlihat.
Apalagi diberi mimbar.
– Diamnya Dzurriyah Walisongo Adalah Pernyataan
Dalam tradisi ulama, tidak semua penolakan disampaikan dengan teriakan.
Kadang, diam adalah keputusan.
Ketika dzurriyah Walisongo—yang paling berhak bicara tentang leluhurnya sendiri—tidak memberi ruang kepada para pembegal nasab, itu bukan kebetulan. Itu sikap.
Sikap bahwa:
• Walisongo tidak diajarkan dengan caci maki.
• Nasab tidak dijaga dengan hinaan.
• Sejarah tidak dibela dengan kebencian kepada Yaman.
– Dakwah tidak dibangun dengan merendahkan dzurriyah Nabi ﷺ dari jalur hlHabaib dan yang lain.
Walisongo tidak pernah mengajarkan Islam dengan cara:
“mencurigai semua yang bersambung ke pada Rasulullah, termashk habaib, lalu menghalalkan penghinaan.”
Dan yang lebih penting:
anak-cucu Walisongo hari ini tidak mewarisi akhlak kasar dan searogan itu.
– Tentang Yaman dan Warisan yang Dihinakan
Menariknya, hampir semua narasi pembegal nasab selalu berujung pada satu sasaran:
Yaman.
Yaman digambarkan hina.
Yaman disebut sumber masalah.
Yaman dilukiskan seolah ladang kebohongan.
Padahal:
• Sunan Ampel bersambung ke tradisi keilmuan Hadramaut.
• Jaringan ulama Nusantara sejak awal tidak bisa dilepaskan dari Yaman.
• Kitab, sanad, dan adab yang kita warisi hari ini—datangnya dari jalur yang sama.
Jika Yaman serendah yang mereka koar-koarkan, maka Walisongo adalah korban terbesar dari tuduhan itu.
Dan faktanya, dzurriyah Walisongo menolak narasi tersebut, bukan dengan debat Twitter, YouTube, Instagram atau di Facebook, tapi cukup dengan tidak mengundang mereka ke rumahnya sendiri.
– Bukti yang Sulit Dibantah
Mari kita ringkas bukti yang berdiri sendiri—tanpa makian, tanpa asumsi:
1. Haul Sunan Ampel adalah forum resmi dzurriyah Walisongo.
Yang diundang mencerminkan apa yang mereka akui.
2. Tidak satu pun tokoh pembegal nasab diundang atau tampil.
Ini fakta, bukan opini.
3. Yang hadir justru para Habaib, ulama pesantren, dan dzurriyah walisongo yang Asli.
Ini menunjukkan siapa yang dianggap sah secara keilmuan dan Etika.
4. Tidak ada pernyataan resmi dari dzurriyah Walisongo yang mendukung narasi pemutusan nasab habain pada Rasulullah.
Yang ada justru keberlanjutan tradisi maulid, sanad, dan penghormatan kepada dzurriyah Nabi ﷺ dari berbagai jalur yang ada.
Fakta-fakta ini tidak bisa dibantah dengan video, potongan buku, atau tesis sepihak dari Imad CS.
– Kesimpulan: Walisongo Tidak Bersama Mereka
Maka kesimpulannya menjadi terang—bahkan bagi yang tidak ingin melihat.
Apa yang dilakukan kelompok pembegal nasab—termasuk yang bernaung di PWI LS—bukan representasi Walisongo.
Bukan suara dzurriyah Walisongo.
Bukan pula kelanjutan dari dakwah Islam Nusantara.
Walisongo berdakwah dengan akhlak, sanad, dan adab/Etika.
Bukan dengan merobek nasab dan menertawakan darah Rasulullah ﷺ.
Dan Haul Sunan Ampel tahun ini, dengan keheningannya yang berisik itu, telah menjawab segalanya—tanpa perlu satu kata pun dilontarkan.
_______________________
Oleh: Tamzilul Furqon S.Pd.





