Narasi Pembenci Habaib dan Yaman digugurkan oleh Kesaksian Dahlan Iskan
Jum'at, 13 Februari 2026
"Narasi Pembenci Habaib dan Yaman digugurkan oleh Kesaksian Dahlan Iskan"
Ada satu hal menarik dari catatan Dahlan Iskan tentang Tarim dan Habib Umar bin Hafidz. Tidak ada kalimat pembelaan. Tidak ada debat. Tidak ada klarifikasi terhadap tuduhan siapa pun.
Beliau hanya menulis apa yang ia lihat.
Dan justru karena itu — tulisannya menjadi sangat kuat.
Dahlan Iskan bukan santri Darul Musthofa.
Bukan habaib.
Bukan aktivis pembela nasab.
Bukan bagian dari kelompok yang dituduh.
Beliau adalah jurnalis senior, mantan Menteri BUMN, tokoh nasional yang terlatih berpikir kritis dan rasional.
Dan ketika orang seperti itu datang ke Tarim, salat Jumat di masjid umum, duduk di barisan keempat, menyaksikan sendiri open house Habib Umar — lalu pulang dengan kesan hangat dan penuh hormat — di situlah narasi kebencian mulai runtuh dengan sendirinya.
– Yaman yang Ditertawakan, Ternyata Tetap Menjadi Magnet
Selama ini kita mendengar narasi yang sama:
• Yaman dianggap mundur.
• Tarim diledek.
• Habaib dicurigai.
• Nasab dipersoalkan.
• Tradisi dicemooh.
Namun faktanya?
Darul Musthofa tidak salat Jumat sendiri. Mereka menyatu dengan masyarakat.
Habib Umar tidak membangun kultus tertutup.
Beliau duduk di ruang terbuka, menerima siapa saja.
Mahasiswa diuji bacaannya.
Bayi didoakan.
Air ditiupkan doa.
Makan bersama tanpa jarak sosial.
Tidak ada kesan eksklusif.
Tidak ada kesan manipulatif.
Tidak ada suasana seperti yang digambarkan oleh para pembenci Yaman.
Justru yang tampak adalah:
• keterbukaan,
• keteduhan,
• tradisi ilmu yang hidup,
• dan penghormatan masyarakat yang tulus.
Jika Tarim hanyalah ilusi seperti yang dituduhkan oleh para pembenci Yana, mengapa orang seperti Dahlan Iskan justru menulis dengan rasa takjub — bukan dengan nada sinis?
Pendidikan Tinggi Tidak Mudah Terprovokasi
Ini poin penting.
Hinaan para pembegal nasab dari kelompok Sekte Imadiyah dan PWI LS juga para pencaci Yaman ternyata tidak berpengaruh pada orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berpengalaman luas.
Orang yang terbiasa berpikir rasional akan menilai berdasarkan pengalaman langsung, bukan berdasarkan potongan video dan narasi kebencian.
Dahlan Iskan melihat sendiri:
• sistem sosialnya,
• adab muridnya,
• suasana keilmuannya,
• dan kesederhanaan rumah-rumah tanah yang justru cerdas secara arsitektur.
Beliau bahkan tertarik pada industri bata tanah — bukan pada gosip.
Ini menunjukkan sesuatu yang sangat jelas:
Narasi kebencian hanya efektif pada mereka yang memang ingin membenci.
Sedangkan orang yang matang secara intelektual akan melihat Tarim sebagai pusat ilmu — bukan sebagai objek fitnah.
– Habaib Tidak Perlu Membalas dengan Teriakan
Yang paling menarik adalah ini:
Habib Umar tidak membalas tuduhan.
Tidak mengklarifikasi.
Tidak menyerang balik.
Beliau tetap:
• mengajar,
• menerima tamu,
• mendoakan bayi,
• menilai dan meluluskan mahasiswa,
• makan bersama jamaah.
Dan justru di situlah kemuliaan itu terasa.
Sekte-sekte yang sibuk memutus nasab dan menghina Yaman mungkin merasa sedang berjuang. Tapi realitas di lapangan berkata lain: Tarim tetap didatangi. Darul Musthofa tetap penuh. Alumni tetap menyebar ke Indonesia. Dan tokoh nasional tetap sowan dengan hormat.
Itu fakta sosial yang tidak bisa dibantah.
– Klaim yang Tidak Sejalan dengan Kenyataan
Jika benar Yaman itu sumber keburukan, jika benar habaib hanyalah konstruksi sosial tanpa legitimasi, jika benar Tarim hanya mitos,
maka seharusnya:
• ia ditinggalkan,
• ia sepi,
• ia kehilangan wibawa.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Yang datang bukan hanya masyarakat awam. Yang datang adalah akademisi, pejabat, jurnalis senior, intelektual.
Dan mereka pulang membawa cerita tentang keteduhan — bukan tentang penipuan.
Ini adalah bukti sosial yang jauh lebih kuat daripada polemik digital.
– Kesimpulan: Iri Dengki Tidak Bisa
Mengalahkan Kenyataan
Catatan Dahlan Iskan menjadi saksi independen bahwa:
• Yaman tetap dimuliakan.
• Tarim tetap dihormati.
• Habaib tetap menjadi perhatian.
• Tradisi ilmu tetap hidup.
Hinaan, fitnah, dan cemoohan dari kelompok seperti Imadiyah, PWI LS, dan para pembenci Yaman tidak mampu mengubah fakta.
Karena kebenaran tidak bergantung pada teriakan.
Ia berdiri pada realitas.
Dan realitas itu terlihat jelas di Tarim: di masjid umum yang menyatu, di sofa lantai yang sederhana, di bayi yang dipangku dan didoakan, di mahasiswa yang diuji hafalannya, di nasi briyani yang dimakan bersama.
Kadang jawaban terbaik bukanlah bantahan.
Kadang jawaban terbaik adalah seseorang seperti Dahlan Iskan datang, melihat, lalu menulis apa adanya.
Dan itu sudah cukup untuk mematahkan narasi kebencian.
_______________________________
Oleh Tamzilul Furqon S.Pd.

