Karomah Habaib Semakin Diserang Semakin Dicintai: Terima Kasih Sekte Imad

     


Rabu, 11 Februari 2026

Faktakini.info

Ada jenis “karomah” yang tidak meledak seperti petir.

Tidak dramatis.

Tidak penuh ancaman.

Ia bekerja diam-diam.

Musuh dibiarkan berbicara.

Dibiarkan menyerang.

Dibiarkan merasa menang.

Lalu publik sendiri yang menilai.

Itulah yang terjadi pada gelombang serangan Imad, Abbas Tompel, Oma Irama, PWI-LS dan kawan-kawan terhadap para Habaib.

Bertahun-tahun mereka mengklaim “ilmiah”.

Mengaku rasional.

Merasa sebagai pembongkar mitos.

Namun yang terjadi di lapangan justru ironi besar.

Mereka mengira sedang melemahkan wibawa Habaib.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Setiap serangan → rasa penasaran publik meningkat.

Setiap hujatan → simpati umat bertambah.

Setiap provokasi → haul, maulid, dan ziarah makin membludak.

Di banyak kota, majelis bersama Habaib semakin padat.

Shalawat makin menggema.

Cinta kepada dzurriyah Rasulullah ﷺ makin menguat.

Sementara di kubu penyerang?

Retorika makin tinggi.

Nada makin emosional.

Standar argumen berubah-ubah.

Kalimat semakin ngawur seperti orang kurang waras.

Dan ketika diskursus tak lagi cukup, sebagian mulai tergelincir pada ancaman "bunuh dan usir Habaib".

Ini bukan tanda kekuatan.

Ini biasanya tanda frustrasi.

Secara sosial, fenomenanya sederhana:

Serangan yang terus-menerus tanpa hasil justru membangun efek simpati kepada pihak yang diserang.

Dan di sinilah letak sinismenya:

Para Habaib mungkin justru perlu mengucapkan “terima kasih”.

Terima kasih kepada Imad, Abbas Tompel, Oma Irama PWI-LS dan kawan-kawan.

Karena tanpa disadari, setiap serangan mereka menjadi promosi gratis.

Setiap konten kebencian menjadi iklan tak berbayar.

Setiap upaya menjatuhkan justru menjadi panggung yang memperluas cinta umat.

Ironis.

Mereka ingin memadamkan cahaya—

tapi yang terjadi, api justru menyala lebih terang.

Mereka ingin membongkar nasab—

yang muncul malah diskusi luas tentang sejarah dan kecintaan kepada Ahlul Bait.

Mereka ingin membuat umat ragu—

yang terjadi justru konsolidasi kecintaan.

Inilah hukum sosial yang sering dilupakan:

Cinta yang tumbuh dari tradisi dan penghormatan ratusan tahun tidak runtuh oleh debat media sosial.

Dan ketika satu pihak memilih tetap berdakwah, tetap tersenyum, tetap menggelar majelis—

sementara pihak lain sibuk menyerang tanpa henti—

publik perlahan menyimpulkan sendiri.

Bukan karena dibantah.

Bukan karena dipaksa percaya.

Tapi karena kontras sikapnya terlalu jelas.

Inilah “eksekusi sunyi” yang sebenarnya:

bukan menghancurkan lawan,

melainkan membiarkan mereka lelah oleh narasinya sendiri.

Dan mungkin, yang paling menyakitkan bagi para pembenci adalah ini:

Semakin keras mereka menyerang,

semakin ramai haul dan maulid digelar.

Semakin sering mereka mengejek,

semakin penuh majelis shalawat.

Sebuah ironi yang sulit diterima—

bahwa upaya menjatuhkan justru menjadi bahan bakar kebangkitan.

Masya Allah.

Kadang yang paling “kejam” bukanlah balasan.

Melainkan ketenangan.

Bukan perlawanan keras.

Melainkan senyum yang tak tergoyahkan.

Dan sejarah biasanya lebih sabar daripada emosi sesaat.