Jejak Kekejaman Komunis terhadap Habaib di Yaman dan Indonesia
Jum'at, 13 Februari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Sejarah tidak boleh diputihkan. Di berbagai negeri, ketika ideologi komunisme yang ateistik berkuasa, para ulama dan simbol agama menjadi sasaran. Termasuk para habaib — dzurriyah Rasulullah ﷺ — yang secara sosial dan spiritual memiliki pengaruh kuat di tengah umat.
Yaman: Ulama Dibungkam, Habaib Dihilangkan
Di Yaman Selatan pada era rezim sosialis (1967–1990), banyak lembaga agama dibatasi, majelis ilmu diawasi, dan tokoh-tokoh agama ditekan.
Salah satu tragedi paling memilukan adalah penculikan Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz pada 1972 — ayahanda dari Habib Umar bin Hafidz. Beliau diculik dan hingga hari ini jasadnya tidak pernah ditemukan.
Beberapa habaib lain memilih hijrah demi menyelamatkan diri dan menjaga kelangsungan dakwah, di antaranya:
Abubakar Attas Alhabsyi ke Makkah
Zen bin Sumaith ke Madinah
Salim Assyatiri yang mengalami penyiksaan berat
Faktanya jelas: dalam banyak pengalaman sejarah, ideologi komunis yang anti-agama memandang simbol keagamaan sebagai lawan ideologis.
Indonesia 1965: Ulama Jadi Target
Di Indonesia, jauh sebelum komunisme dan Partai Komunis lahir di Yaman tahun 1967, lebih dari 50 tahun sebelumnya panji-panji komunisme sudah berkibar di tanah Jawa dan Nusantara.
PKI sendiri secara historis didirikan dari organisasi bernama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging oleh Henk Sneevliet pada 1914, lalu berkembang menjadi PKI pada 1920 dengan tokoh trio asal Jawa yaitu Semaun, Alimin, dan Raden Darsono. Tidak ada satu pun habaib dalam pendirian organisasi tersebut.
Namun dalam dinamika konflik ideologi di akar rumput, para kiai dan habaib kerap menjadi sasaran.
Tragedi Hutan Kumitir, Jember
Setelah berkali-kali memberontak dan melakukan pembantaian terhadap umat Islam termasuk pada tahun 1948 di Madiun, ketegangan antara umat Islam dan Partai Komunis Indonesia (PKI) kembali mencapai puncaknya menjelang 1965.
Di kawasan Jember, Jawa Timur, sejarah lokal mencatat gugurnya seorang habaib muda:
Habib Ali bin Abdullah Alhamid — yang terhitung masih keponakan dari Habib Sholeh Tanggul.
Beliau wafat secara syahid di usia sekitar 32 tahun.
Pada sekitar tahun 1965, beliau diculik dan kemudian dieksekusi mati oleh kawanan PKI di kawasan Hutan Kumitir.
Hutan itu menjadi saksi bisu kerasnya konflik ideologi yang kala itu menyasar para ulama.
Setelah ditembak mati, jasad beliau pertama kali ditemukan oleh seorang perempuan paruh baya yang sedang mencari kayu bakar. Penemuan itu mengguncang masyarakat setempat dan menjadi bagian dari memori kolektif warga Jember tentang pahitnya masa tersebut.
Catatan Sejarah yang Tak Boleh Dipelintir
Fakta sejarah menunjukkan bahwa dalam banyak konteks, komunisme klasik yang ateistik memang berseberangan secara ideologis dengan agama. Di sejumlah wilayah dan periode tertentu, ketegangan itu berujung pada tindakan represif terhadap tokoh agama.
Anggota Partai Komunis di Indonesia, Yaman dan negara lainnya, mayoritas adalah penduduk setempat. Sangat jarang dan termasuk sedikit Habaib atau keturunan Nabi Muhammad SAW yang berhasil dirayu untuk menjadi anggota PKI maupun partai komunis di negara lainnya.
Namun ironisnya, keberadaan satu-dua atau segelintir oknum Habaib yang berhasil direkrut oleh PKI, selalu dijadikan bahan framing oleh para pembenci Habaib bahwa "seluruh Habaib itu komunis".
Mereka berpura-pura lupa, bahwa 99,99 persen anggota dan gembong PKI seperti Musso bin Martoredjo, Nyoto bin Raden Sosro Hartono, Soebandrio bin Kusnadi, Raden Darsono bin Notosudirdjo. Alimin bin Prawirodirdjo, Semaoen bin Prawiroatmodjo, Rewang bin Martosuwiknjo dan sebagainya adalah keluarga dan kerabat mereka sendiri.

