Imad contoh klasik lā yadri wa lā yadri annahu lā yadri-, Udah Bodo Teka'!
Sabtu, 7 Februari 2026
Faktakini.info, Jakarta - Ada istilah klasik dalam khazanah ilmu Islam, sering dipakai para ulama buat memetakan level kebodohan—dan Habib Rizieq Syihab memang beberapa kali menyinggungnya dalam konteks jahil murakkab nya Sekte Imad PWI-LS Begal Nasab.
Istilah lengkapnya (versi masyhur)
Dalam bahasa Arab, pembagiannya biasa diringkas seperti ini:
يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي
Yadri wa yadri annahu yadri
→ Dia tahu dan tahu bahwa dirinya tahu
👉 Ini orang alim, sadar kapasitas ilmunya.
يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي
Yadri wa lā yadri annahu yadri
→ Dia tahu, tapi tidak sadar bahwa dia tahu
👉 Orang pintar tapi minder / belum matang.
لَا يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي
Lā yadri wa yadri annahu lā yadri
→ Dia tidak tahu, tapi sadar bahwa dia tidak tahu
👉 Ini orang awam yang masih selamat—bisa diajari.
لَا يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي
Lā yadri wa lā yadri annahu lā yadri
→ Dia tidak tahu, dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu (; tambahan, kalau orang Betawi nyebutnya: Udah goblok teka'!)
👉 Inilah yang paling berbahaya.
Nah, yang ke-4 inilah yang sering disebut para ulama sebagai:
الجاهل المركب (al-jāhil al-murakkab)
➡️ Bodoh berlapis.
Bukan cuma tidak tahu, tapi merasa paling tahu, paling ilmiah, paling rasional, paling berhak menghakimi.
Mengaitkan dengan perilaku Imad bin Sarman & PWI-LS
Kalau kita gabungkan kerangka ini dengan perilaku Imad bin Sarman PWI-LS cs, polanya jadi sangat textbook:
1. Tidak menguasai ilmu nasab secara resmi
Tidak lulus kaidah Naqobah Asyraf dunia
Tidak diakui Rabithah Alawiyah
Tidak punya sanad keilmuan nasab yang diakui global
➡️ Ini fakta objektif, bukan opini.
2. Tapi merasa paling ilmiah dan paling benar
Menghina ahli nasab internasional
Menuduh jutaan habaib hasil “rekayasa”
Menolak ijma’ ahli, tapi mengangkat logika sendiri
➡️ Di sinilah masuk fase “wala yadri annahu la yadri.”
3. Lalu berubah jadi agresif & obsesif
Ciri khas jahil murakkab menurut psikologi klasik & modern:
Emosi berlebihan
Dendam berkepanjangan
Obsesif menyerang satu objek
Mengulang argumen yang sudah dibantah
➡️ Karena ego hancur jika mengakui tidak tahu.
4. Efek sosial: backlash
Alih-alih menjatuhkan habaib:
Haul makin besar
Maulid makin ramai
Simpati publik justru naik
➡️ Ini yang oleh ulama disebut “makr balik atas kejahilan.”
Ringkas tapi ngunci
Kalau diringkas dalam satu kalimat ilmiah tapi telak:
Imad bin Sarman PWI-LS cs bukan sekadar “tidak tahu”, melainkan contoh klasik lā yadri wa lā yadri annahu lā yadri—jahil murakkab yang merasa paling rasional, lalu menjadikan kebodohannya sendiri sebagai alat fitnah.
Dan inilah kenapa ulama selalu bilang:
Orang bodoh bisa diajari.
Tapi orang bodoh yang merasa alim—itulah bencana.

