Imad-Bastom PWI-LS Makin Frustasi dan Ngamuk di Panggung-panggung: Bukan Mustahil Bisa Mati Mendadak Menyusul Qori-Mbah Dowi Jika Ngamuk Terus

 



Sabtu, 7 Februari 2026

Faktakini.info

Radikalisasi Emosi, Amuk Digital, dan Keruntuhan Nalar dalam Polemik Nasab: Studi Kasus Imaduddin dan Abbas Tompel

Pendahuluan

Dalam kajian psikologi sosial dan kesehatan publik, perilaku kemarahan kronis (chronic anger expression) dan agitasi emosional berulang di ruang publik bukan sekadar masalah etika komunikasi, melainkan indikator ketegangan psikologis serius. 

Fenomena ini tampak jelas dalam polemik nasab yang dimotori oleh figur seperti Imaduddin dan Abbas Tompel (Bastom).PWI-LS cs, orang-orang gila nasab yang menjadikan delegitimasi nasab Habaib sebagai proyek ideologis utama mereka. Nampak mereka semakin kalap dan frustasi karena sudah bertahun-tahun menyerang dan memfitnah nasab Habaib di medsos, namun hasilnya sia-sia belaka. 

1. Dari Kritik Ilmiah ke Amuk Emosional

Secara akademis, kritik ilmiah ditandai oleh:

argumen yang koheren,

metodologi yang konsisten,

keterbukaan pada falsifikasi.

Namun dalam praktiknya, narasi yang dibangun oleh Imaduddin dan Abbas Tompel menunjukkan pergeseran signifikan:

dari bantahan ilmiah → ke serangan emosional,

dari analisis data → ke agitasi personal,

dari diskursus → ke repetisi kemarahan.

Pola ini dalam psikologi dikenal sebagai emotional escalation after narrative failure, yaitu ketika klaim utama runtuh, emosi menggantikan nalar.

2. Disonansi Identitas dan Proyek Nasab Alternatif

Salah satu aspek paling krusial adalah disonansi identitas. Dalam teori identitas sosial, individu yang:

menolak atau menyangkal asal-usul genealogisnya sendiri,

lalu membangun identitas simbolik alternatif (misalnya mengaitkan diri dengan figur historis besar),

akan sangat rentan mengalami ketegangan psikologis ketika klaim tersebut tidak diakui publik.

Dalam konteks ini, proyek “membatalkan nasab Habaib” bukan sekadar debat sejarah, melainkan alat kompensasi identitas. Ketika alat itu gagal, respons emosional menjadi semakin agresif.

3. Amuk Digital dan Dampaknya terhadap Kesehatan Psikososial

Literatur kesehatan publik dan psikologi klinis menunjukkan bahwa:

kemarahan yang diekspresikan terus-menerus,

konflik daring berkepanjangan,

dan perasaan dikepung oleh penolakan sosial,

berkorelasi dengan stres psikososial berat, gangguan regulasi emosi, serta penurunan kesehatan mental. Ini adalah fakta medis umum, bukan tuduhan personal.

Dalam bahasa akademis: amarah kronis adalah faktor risiko kesehatan, bukan bentuk keberanian intelektual.

4. Efek Balik Sosial: Ketika Amarah Menghancurkan Kredibilitas

Alih-alih meruntuhkan legitimasi Habaib, pola komunikasi agresif Imaduddin dan Abbas Tompel justru memicu:

social backlash effect,

konsolidasi simpati terhadap Habaib,

penguatan posisi naqobah asyraf sebagai otoritas rasional.

Dalam sosiologi pengetahuan, ini disebut delegitimasi diri: aktor kehilangan kredibilitas bukan karena dibungkam, tetapi karena gagal mengendalikan diri.

5. Peringatan Akademis, Bukan Ancaman

Tulisan ini tidak berbicara tentang nasib pribadi siapa pun. Namun ilmu psikologi dan kesehatan publik secara konsisten memberi peringatan bahwa:

kemarahan berkepanjangan,

konflik identitas yang tak terselesaikan,

dan agitasi emosional tanpa henti,

adalah kondisi yang berbahaya bagi kesehatan dan stabilitas psikologis siapa pun, tanpa kecuali.

Ilmu menyebut ini konsekuensi alami stres kronis, bukan “hukuman” dan bukan pula “ramalan”.

Ingat... Orang yang selalu mengamuk dan tak bisa menjaga emosinya, rentan bisa mati kena serangan jantung mendadak. Sesuai ilmu kesehatan, penyebabnya karena saat mengamuk: terjadi lonjakan  hormon stress, gangguan irama jantung, pecahnya plak di pembuluh darah, peradangan kronis dan lainnya.

Apalagi dalam dua pekan ini, dua tokoh PWI-LS: Qori Oktiva dan Mbah Dowi dikabarkan mati mendadak seusai menghina Habaib di medsos, dan beredar cerita-cerita kurang baik saat pemakamanya. Semoga menjadi pelajaran untuk pengikut PWI-LS lainnya.

Kesimpulan

Kasus Imaduddin dan Abbas Tompel menunjukkan bahwa kegagalan membatalkan nasab Habaib bukan sekadar kegagalan argumen, tetapi keruntuhan proyek identitas dan nalar publik. Ketika amarah menggantikan metodologi, yang hancur pertama kali bukan lawan, melainkan kredibilitas diri sendiri.

Nasab yang dijaga ratusan tahun oleh ulama dan naqobah asyraf tidak goyah oleh amuk digital. Sebaliknya, amuk digital justru menjadi bukti paling telanjang bahwa yang runtuh bukan nasab Habaib, melainkan kendali emosi para penentangnya.