Hilal Muncul di Ujung Pasifik, Indonesia Menunggu: Drama Astronomi 17 Februari 2026

 

Sabtu, 14 Februari 2026

Faktakini.info

Hilal Muncul di Ujung Pasifik, Indonesia Menunggu: Drama Astronomi 17 Februari 2026

Langit 17 Februari 2026 menghadirkan sebuah adegan kosmik yang menarik. Pada hari itu, konjungsi—titik ketika Matahari dan Bulan sejajar dalam bujur ekliptika—terjadi pukul 12:00:52 UT, atau sekitar pukul 19.00 WIB. Secara astronomi, inilah “kelahiran” bulan baru. Tetapi kelahiran bukan berarti langsung terlihat. Cahaya sabit tipis itu butuh waktu, sudut, dan kontras untuk bisa menampakkan diri.

Di Indonesia, saat matahari terbenam 17 Februari, Bulan masih terlalu muda. Umurnya hanya hitungan jam, ketinggiannya rendah bahkan negatif di sebagian wilayah, dan elongasinya kecil. Secara sains murni, hilal mustahil dirukyat. Dengan kriteria regional MABIMS—tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat—angka-angka itu belum terpenuhi. Maka secara pendekatan Asia Tenggara, 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026.

Namun langit tidak berhenti di Indonesia.

Peta visibilitas global yang dikembangkan oleh Mohammad Odeh melalui International Astronomical Center menunjukkan zona merah di Pasifik Barat - Australia timur, Papua Nugini, hingga kepulauan Solomon. Zona ini diklasifikasikan sebagai “visible with optical aid only”. Artinya, di sana hilal sudah mungkin terdeteksi dengan teleskop.

Mengapa bisa berbeda? Karena bumi berputar. Ketika matahari terbenam di wilayah Pasifik yang berada pada zona waktu +10 hingga +12, umur bulan sudah mendekati 20 jam. Elongasi berada di kisaran 7–8 derajat dan ketinggian mendekati 4–5 derajat. Secara fisika cahaya dan kontras atmosfer, itu sudah masuk wilayah kemungkinan deteksi optik.

Di titik inilah dua pendekatan bertemu dan berpisah.

Pendekatan global berbasis hisab memandang cukup jika di satu titik bumi hilal secara astronomis sudah mungkin terlihat. Maka 18 Februari bisa ditetapkan sebagai awal Ramadan.

Pendekatan regional berbasis rukyat dan ambang batas lokal mensyaratkan keterlihatan di wilayah masing-masing. Jika di Indonesia belum memenuhi parameter minimal, maka bulan digenapkan dan awal Ramadan jatuh 19 Februari.

Tidak ada konflik data. Yang ada adalah perbedaan kerangka metodologi. Langitnya satu, geometri orbitnya sama, rumusnya identik. Yang berbeda adalah bagaimana manusia menerjemahkan kemungkinan menjadi kepastian hukum.

Peristiwa 17 Februari 2026 menjadi pengingat bahwa kalender hijriah bukan sekadar hitungan hari, tetapi pertemuan antara astrofisika, statistik observasi, dan ijtihad fiqh. Di ujung Pasifik, hilal mungkin menyapa teleskop. Di Indonesia, ia masih tersembunyi di bawah ufuk.

Langit bekerja dengan presisi matematis. Kita yang memilih bagaimana memaknainya.

Ditulis oleh Ustadz Fahri Nusantara (UFN)