Gus Rumail Hajar Sugeng-Imad Sekaligus: Soal Nasab Ba'alawi Sudah Ijma' dan Haplogroup J1 Tidak Ada Konsensus
Kamis, 19 Februari 2026
Faktakini.info
Rumail Abbas
Mas Sugeng bilang:
"Tugas Rumail Abbas itu bukan untuk membuktikan nasab Bani Alawi, tapi membuat orang bingung."
Sebagian kalimatnya benar, saya tidak pernah berniat untuk membuktikan apapun karena sudah saya sampaikan setahun-dua lalu. Bahkan untuk mensahihkan nasab kabilah asal Hadramaut ini pun, saya terbilang kemarin sore.
Lawong Ibn Hajar sudah melakukannya, dan lebih jauh lagi sudah ada banyak sejarawan Yaman yang lebih tua dari Sayid Ali bin Abi Bakr al-Sakran yang mensahihkannya (bukankah fitnah yang masih di-maintenance Ki Imad adalah Sayid Ali adalah biang kerok interpolasi?).
Jadi, benar kata tiga kawan saya di Muhadlarah al-Anwar bahwa ijma dari Syaikh al-Nabhani itu sudah cukup, pendapat ulama mu'tabar sudah cukup, dan pernyataan Syaikh Ali Jum'ah juga sudah cukup. Benar juga kata Ustaz Muhammad Nuruddin bahwa masyayikh al-Azhar tidak ada yang mempermasalahkan, bahkan sudah tsabit bi al-ijma (tetap secara ijma).
Kenapa?
Kalau tidak punya waktu banyak untuk menempuh penelitian, mengikuti pendapat pakar itu mengurangi beban kognitif manusia. Kita akan terlalu capek menganalisis semua hal. Bahkan menganalisis semua pun kita pasti akan mengikuti pendapat pakar karena mengurangi waktu untuk melakukan analisis dari awal.
Bagi siapapun yang mau menabrak otoritas itu semua, tidak ada yang melarang. Mau menantang Ibn Hajar al-Haitami dan lainnya pun tidak masalah. Selama hujjah yang disampaikan benar-benar valid. Bukan argumen meleset dan kerap invalid macam Ki Imad. Ini namanya extraordinary claim yang disusun bukan untuk membantah, karena disebut membantah saja belum.
Saya itu menunggu argumen valid dari klaim-klaim besar itu, namun tidak pernah ada yang hadir. Makanya, sejak setahun lalu, saya sudah tidak lagi mengulas nasab. Karena memang tidak ada yang baru; teorinya hanya redundansi dan repetisi teori-teori lama yang sudah runtuh.
Dan untuk kalimat Mas Sugeng bahwa saya membuat orang bingung, tentu saja ini invalid. Karena apa yang saya lakukan sekadar falsifikasi biasa dari kreator konten yang melihat ada banyak argumen invalid, pembelokan historis, klaim yang luar biasa tanpa bukti yang luar biasa.
Salah satu yang saya lakukan adalah: ada klaim Mufti Yaman membatalkan, tapi ternyata Mufti Yaman tidak pernah mengatakan itu. Usut punya usut, ternyata informasi soal Mufti Yaman itu disebarkan akun gak jelas, dan jelas-jelas hoaks.
Jadi, saya mengulas bahwa RMINU Banten menebarkan fitnah.
Kemudian ada yang bilang bahwa J1 adalah konsensus akademik sebagai jalur Ibrahimi ke bawah. Padahal, J1 itu luas banget. Seharusnya spesifik di sub-clade mana. Karena usulan sub-clade mereka pun banyak kerancuan.
Maka saya membuktikannya, bahkan meminta bantuan Consensus (AI yang dataset-nya sekitar 200+ juta jurnal peer reviewed), bahwa tidak ada konsensus di komunitas akademik mana pun yang mendukung klaim J1.
Kalau komunitas akademik saja tidak ada yang sepakat, maka dalam hierarki ilmu pengetahuan: obrolan di situs-situs "group interest" itu tidak berarti apa-apa. Hanya tempat ngumpul asik-asik saja.
Ini, kan, mudah dimengerti to? Kalau ada yang bingung, ya, itu urusan penonton dan SDM-nya saja.
Masak menelaah informasi sederhana begini sulit?
Maka, memahami judul di RMINU Banten dengan kapital semua ini juga tidak begitu sulit. Sebagai komitmen sebagai santri yang pernah mencecap faidah dari Syaikhina Maimoen Zubair, saya akan membuat serial untuk mengulas artikel di bawah ini.
Saya jamin Ki Imad akan terlihat lucu.
Hhe~
