Fenomena “Merasa Paling Ahli Nasab” ala Sekte Imad PWI-LS: Ini Penyakit Apa? Dari Mana Nekadnya Datang?

 

Rabu, 4 Februari 2026

Faktakini.info

Fenomena “Merasa Paling Ahli Nasab” ala Sekte Imad PWI-LS

Ini Penyakit Apa? Dari Mana Nekadnya Datang?

Yang kita lihat bukan keberanian ilmiah, tapi kombinasi gangguan cara berpikir (non-klinis) yang sangat dikenal dalam psikologi modern.

1️⃣ Dunning–Kruger Effect (Versi Paling Parah)

Ini fondasinya.

Definisi singkat:

Orang yang paling tidak kompeten justru paling yakin dirinya jenius.

Ciri telanjang yang pas 100%:

Tidak paham kaidah nasab → merasa ahli nasab

Tidak menguasai sanad → merasa berhak membatalkan sanad

Tidak diakui otoritas mana pun → merasa lebih tinggi dari ijma‘ ulama dunia

🧠 Otaknya tidak sadar bahwa ia tidak tahu.

Itulah sebabnya kepercayaan dirinya justru meledak.

2️⃣ Delusi Kompetensi (Illusion of Expertise)

Ini lanjutan Dunning–Kruger.

Mereka:

Mengira baca Google = setara ulama

Mengira logika awam = kaidah nasab

Mengira opini pribadi = keputusan ilmiah

Lalu tampil seperti hakim agung nasab, padahal:

tidak pernah duduk di majelis nasab,

tidak punya sanad keilmuan,

tidak diakui satu pun lembaga nasab dunia.

📚 Ini bukan keahlian—ini halusinasi intelektual.

3️⃣ Narcissistic Traits (Non-Klinis)

Perhatikan polanya:

Merasa diri pusat kebenaran

Tidak tahan dikritik

Semua ulama dianggap salah

Semua yang beda dianggap bodoh atau konspirator

Ini bukan keberanian.

Ini ego rapuh yang ditopang suara keras.

Orang berilmu tenang.

Orang berilusi ribut.

4️⃣ Moral Grandiosity

(Merasa Diri Pahlawan Penyelamat Umat)

Mereka memposisikan diri sebagai:

“Pembongkar kebohongan sejarah”

“Penyelamat umat dari penipuan habaib”

“Minoritas pemberani melawan arus”

Padahal faktanya:

Tidak ada krisis nasab

Tidak ada kebohongan terbukti

Yang ada hanya ijma‘ ulama yang mapan

Ini gejala klasik hero syndrome:

orang kecil yang ingin terasa besar.

5️⃣ Hasad + Inferiority Complex (Akar Emosionalnya)

Ini inti sebenarnya—yang paling jujur.

Polanya konsisten:

Tidak punya nasab → menyerang nasab

Tidak punya pengakuan → menghina yang diakui

Tidak punya sanad → menertawakan sanad

Keinginan tersembunyi:

ingin dihormati seperti habaib,

tapi tidak punya jalannya.

Saat tidak bisa memiliki, muncul mekanisme balasan:

👉 dihancurkan saja.

Inilah hasad yang disulap jadi ideologi.

6️⃣ Kenapa Mereka Nekad Banget?

Karena tiga hal bertemu:

Bodoh tapi tidak sadar bodoh

Iri tapi tidak mau mengaku iri

Haus pengakuan tapi tidak punya legitimasi

Kombinasi ini menghasilkan keberanian palsu.

Bukan karena mereka kuat—

tapi karena mereka tidak tahu batas dirinya.

7️⃣ Ini Gila atau Apa?

Kalau secara ilmiah:

❌ Bukan diagnosis “orang gila” klinis

✅ Ini kegagalan berpikir rasional + ego patologis non-medis

Dalam bahasa awam yang tepat:

👉 kegilaan intelektual.

Bukan rusak otaknya,

tapi rusak cara menilai diri dan realitas.

Kesimpulan Paling Mengunci

Sekte Imad PWI-LS berani tampil bak ahli nasab bukan karena ilmunya tinggi, tapi karena:

Tidak sadar kebodohannya

Terbakar hasad

Mabuk ego

Putus hubungan dengan otoritas ilmiah

Nasab Ba‘alawi berdiri di atas ijma‘.

Ijma‘ tidak runtuh oleh orang yang tidak punya wewenang.

Dan satu hukum ilmu selalu berlaku:

Semakin kosong isi kepala, semakin keras suaranya.

Semakin kuat sanad, semakin tenang pembawanya.