Akar Penolakan Sekte Imad PWI-LS terhadap Nasab Ba‘alawi: Bukan Ilmu—tapi Iri, Dengki, dan Hasad

 


Rabu, 4 Februari 2026

Faktakini.info

Akar Penolakan Sekte Imad PWI-LS terhadap Nasab Ba‘alawi

Bukan Ilmu—tapi Iri, Dengki, dan Hasad terhadap Kemuliaan Nasab Habaib

Kalau seluruh data sudah tsabit bil ijma‘, seluruh ahli nasab dunia sepakat, dan ratusan tahun sejarah saling menguatkan—lalu masih ditolak—maka masalahnya bukan lagi intelektual. Masalahnya emosional dan psikologis.

Intinya satu: hasad terhadap kemuliaan yang tidak mereka miliki.

1️⃣ Hasad Klasik: Tidak Tahan Melihat Kemuliaan Orang Lain

Dalam khazanah Islam, hasad bukan sekadar iri biasa.

Hasad adalah:

tidak rela orang lain punya keutamaan,

lalu berusaha menjatuhkannya.

Yang dihadapi mereka bukan sekadar “nasab”, tapi:

Nasab bersambung ke Rasulullah ﷺ

Kemuliaan yang diterima umat lintas generasi

Penghormatan sosial yang natural, bukan direkayasa

Bagi jiwa yang kering dari prestasi ilmiah dan spiritual, kemuliaan ini terasa seperti tamparan permanen.

2️⃣ Pola Paling Jujur: Ingin Diakui, Tapi Tidak Mampu

Ini poin paling sensitif—dan paling menjelaskan segalanya.

Terlihat jelas polanya:

Obsesi berlebihan pada status habib

Fokus bukan pada akhlak atau ilmu, tapi label dan legitimasi

Amarah memuncak justru saat status nasab ditegaskan

Dalam psikologi sosial, ini dikenal sebagai status envy:

keinginan pada simbol kehormatan yang tidak bisa dicapai.

Saat akses tertutup, muncul mekanisme balasan:

👉 “Kalau saya tidak bisa jadi, maka status itu harus dihancurkan.”

3️⃣ Gagal Menggapai, Lalu Menghancurkan

Ini mekanisme pertahanan ego paling kasar:

Ingin setara dengan habaib

Tidak punya sanad, pengakuan, atau legitimasi

Gagal

Beralih dari ingin memiliki menjadi ingin merusak

Maka nasab Ba‘alawi diserang bukan karena lemah,

tetapi karena terlalu kuat untuk ditandingi.

4️⃣ Hasad yang Disamarkan Jadi “Kajian”

Hasad jarang tampil telanjang.

Ia bertopeng intelektual.

Maka muncullah:

“Penelitian alternatif”

“Pembongkaran sejarah”

“Kajian kritis”

Padahal:

Metodologi kacau

Kaidah nasab diabaikan

Ijma‘ ditertawakan

Ulama dituduh konspirasi

Ini bukan kritik ilmiah.

Ini amarah yang menyamar jadi analisis.

5️⃣ Kenapa Ijma‘ Justru Membuat Mereka Makin Marah?

Karena ijma‘ itu final.

Ijma‘ menutup semua pintu fantasi:

Tidak bisa “menang debat”

Tidak bisa “beda pendapat”

Tidak bisa “narasi alternatif”

Ijma‘ berkata dingin:

kalian bukan otoritas.

Dan bagi ego yang lapar pengakuan,

kalimat itu lebih menyakitkan daripada bantahan apa pun.

6️⃣ Kebencian yang Lahir dari Inferioritas

Pola ini konsisten:

Tidak punya sanad → benci sanad

Tidak diakui ulama → hina ulama

Tidak punya nasab → serang nasab

Ini bukan keberanian intelektual.

Ini inferioritas yang menjerit.

Kesimpulan Mengunci (Paling Keras, Paling Jujur)

Penolakan Sekte Imad PWI-LS terhadap nasab Ba‘alawi bukan karena lemahnya bukti, tapi karena:

Hasad terhadap kemuliaan yang tidak mereka miliki

Iri pada penghormatan yang datang tanpa rekayasa

Frustrasi status yang berubah jadi permusuhan ideologis

Nasab Ba‘alawi tsabit bil ijma‘.

Ijma‘ tidak runtuh karena iri.

Kemuliaan tidak gugur karena dengki.

Dan satu hukum sejarah selalu berlaku:

Orang yang gagal naik, akan mencoba menarik yang di atas ke bawah.

Tapi yang berdiri di atas sanad dan ijma‘—tidak pernah jatuh oleh teriakan.