Ditanya Mata Kuliah Favorit saat Kuliah di UGM, Jokowi Malah Kebingungan: Terlalu Detail atau Tak Mampu Menjawab?

 


Kamis, 5 November 2026

Faktakini.info, Jakarta - Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi sorotan setelah terlihat kesulitan menjawab sejumlah pertanyaan sederhana dari tim penasihat hukum terdakwa Roy Suryo dalam persidangan kasus dugaan pencemaran nama baik terkait polemik ijazah di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026).

Kali ini, Jokowi dicecar pertanyaan seputar pengalaman akademiknya selama menempuh pendidikan sarjana (S1) di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Alih-alih menjawab pertanyaan mengenai mata kuliah yang paling disukai atau dianggap mudah hingga memperoleh nilai A, Jokowi justru menyatakan keberatan. Ia bahkan menganggap pertanyaan tersebut seperti sedang menguji mahasiswa baru.

"Saya kira tidak relevan," kata Jokowi ketika ditanya mengenai mata kuliah yang menurutnya paling ringan selama menjalani 10 semester perkuliahan di UGM.

Penasihat hukum Roy Suryo, Abdul Gofur Sangadji, kemudian memperjelas pertanyaannya. Ia ingin mengetahui mata kuliah apa yang paling dikuasai Jokowi sehingga mudah mendapatkan nilai A.

"Mata kuliah yang paling Saudara bisa enak dapat A atau paham ada nggak?" tanya Abdul Gofur.

Hakim kemudian memberikan kesempatan kepada Jokowi untuk menjawab.

Namun, Jokowi kembali mengajukan keberatan.

"Saya keberatan, Yang Mulia, karena terlalu detail dan kayak ngetes mahasiswa baru aja," jawabnya.

Pertanyaan Sederhana, Jawaban Justru Mengambang

Sikap Jokowi tersebut mengundang perhatian karena pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan pengalaman pribadinya selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

Mata kuliah favorit, pelajaran yang paling dikuasai, hingga pengalaman memperoleh nilai bagus merupakan hal yang semestinya dapat diceritakan oleh seseorang berdasarkan pengalaman akademiknya.

Apalagi, Jokowi mengaku menjalani perkuliahan selama 10 semester di UGM. Pengalaman selama bertahun-tahun di bangku kuliah tentu menyimpan berbagai kenangan yang lazimnya masih dapat diceritakan, meskipun tidak harus mengingat seluruh detail akademik.

Namun, dalam persidangan tersebut, Jokowi justru memilih mempermasalahkan relevansi dan tingkat kedetailan pertanyaan.

Tim penasihat hukum Roy Suryo sendiri menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk menguji dan menggali pengalaman nyata Jokowi selama menjadi mahasiswa.

Kembali Mengaku Lupa karena Sudah 45 Tahun

Pertanyaan mengenai pengalaman akademik Jokowi berlanjut ketika penasihat hukum menyinggung kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Gofur mempertanyakan hubungan kegiatan KKN dengan skripsi maupun mata kuliah yang disukai mahasiswa.

Jokowi menjawab bahwa kegiatan tersebut tidak memiliki hubungan seperti yang ditanyakan.

Jaksa kemudian ikut menggali ingatan Jokowi mengenai persyaratan yang harus diselesaikan mahasiswa ketika mengikuti KKN.

"Kemudian tadi sejak Saudara masuk ke KKN, Februari sampai bulan April, seingat Saudara syarat KKN itu apa saja yang harus diselesaikan oleh seorang mahasiswa program sarjana?" tanya jaksa.

Jokowi kembali memberikan jawaban singkat.

"Ini sudah 45 tahun," ujarnya.

Alasan jarak waktu 45 tahun sejak masa kuliah kembali menjadi penjelasan Jokowi ketika ditanya mengenai detail pengalaman akademiknya.

Polemik Ijazah Belum Berakhir

Persidangan tersebut merupakan bagian dari proses hukum terhadap Roy Suryo dan sejumlah pihak lainnya yang didakwa melakukan pencemaran nama baik serta pelanggaran terkait informasi elektronik menyangkut ijazah Jokowi.

Dalam persidangan, Jokowi telah memperlihatkan ijazah fisik yang diklaim sebagai dokumen aslinya. Namun, Roy Suryo masih mempertanyakan keaslian dokumen tersebut dan menilai terdapat sejumlah hal yang perlu diuji lebih lanjut.

Karena itu, pertanyaan mengenai pengalaman akademik Jokowi menjadi salah satu bagian yang disorot tim penasihat hukum untuk menggali lebih jauh riwayat pendidikannya.

Sikap Jokowi yang beberapa kali menyatakan keberatan ketika ditanya mengenai detail perkuliahan pun memunculkan pertanyaan publik.

Jika seluruh riwayat pendidikan tersebut benar-benar pernah dijalani, mengapa pertanyaan mengenai mata kuliah favorit dan pengalaman KKN justru dianggap terlalu detail?

Publik tentu berharap seluruh pertanyaan mengenai riwayat pendidikan Jokowi dapat dijawab secara terbuka di persidangan. Sebab, persoalan ijazah ini bukan sekadar polemik di media sosial, melainkan sudah menjadi perkara hukum yang menyita perhatian masyarakat luas.

Pada akhirnya, pembuktian keaslian ijazah harus bertumpu pada dokumen autentik, bukti akademik, dan pemeriksaan yang sah. Bukan semata-mata pada ingatan seseorang ketika menjawab pertanyaan di ruang sidang.