Zayed Humanitarian Day Tiap 19 Ramadan: Tradisi Mengenang Tokoh Ternyata Juga Ada di Kalangan Salafi
Kamis, 1 Oktober 2026
Faktakini.info, Jakarta - Peringatan Zayed Humanitarian Day setiap 19 Ramadan menjadi salah satu contoh menarik dalam pembahasan mengenai tradisi mengenang tokoh dalam Islam.
Peringatan tersebut didedikasikan untuk mengenang Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, pendiri sekaligus presiden pertama Uni Emirat Arab (UEA), yang wafat pada 19 Ramadan 1425 H atau 2 November 2004.
Di UEA, 19 Ramadan kemudian menjadi momentum tahunan untuk mengenang warisan Sheikh Zayed, khususnya dalam bidang kemanusiaan, kedermawanan dan kepedulian sosial. Berbagai kegiatan khusus digelar, mulai dari kajian dan kegiatan keagamaan hingga pembagian makanan serta bantuan kepada masyarakat.
Tradisi tersebut juga terlihat di luar UEA. Di Indonesia, misalnya, Zayed Humanitarian Day pernah diperingati secara resmi di Solo, termasuk melalui kegiatan yang berkaitan dengan Masjid Sheikh Zayed.
Hal ini menarik dicermati dalam konteks perdebatan mengenai haul.
Selama ini, sebagian kalangan yang mengidentifikasi diri dengan kelompok Salafi dikenal kritis terhadap praktik haul yang dilakukan sebagian kalangan Aswaja, khususnya jika haul tersebut dipahami sebagai peringatan tahunan wafat seorang tokoh.
Namun, secara faktual, adanya Zayed Humanitarian Day pada setiap 19 Ramadan menunjukkan bahwa mengenang seorang tokoh melalui agenda khusus yang diselenggarakan secara berkala bukanlah sesuatu yang hanya ditemukan di lingkungan Aswaja.
Kegiatan khusus pada Zayed Humanitarian Day di UEA, bentuknya ternyata cukup beragam dan tidak hanya kegiatan sosial biasa. Dalam praktiknya ada acara resmi khusus untuk mengenang Sheikh Zayed, kegiatan keagamaan, doa, ceramah, serta aksi kemanusiaan.
Contoh paling jelas adalah peringatan 19 Ramadan 1447 H/2026 di Masjid Sheikh Zayed Grand Mosque, Abu Dhabi. Acara tersebut diselenggarakan oleh General Authority of Islamic Affairs, Endowments & Zakat bersama Sheikh Zayed Grand Mosque Centre, di bawah pengawasan Presidential Court.
Kegiatannya antara lain:
Acara khusus memperingati Sheikh Zayed setiap 19 Ramadan.
Pembacaan Al-Qur'an sebagai pembuka acara.
Ceramah/tausiyah para ulama mengenai kehidupan, nilai, dan warisan Sheikh Zayed.
Mengenang jasa dan keteladanan Sheikh Zayed, termasuk nilai kedermawanan, toleransi, moderasi dan kemanusiaan.
Penyampaian pengalaman dan kenangan orang-orang yang pernah bekerja bersama Sheikh Zayed.
Segmen khusus “Cucu-cucu Zayed”, yang menampilkan generasi muda dan pembacaan/pertunjukan bernuansa budaya.
Doa khusus untuk Sheikh Zayed, memohonkan ampunan dan rahmat Allah untuk beliau.
Doa untuk pemimpin dan masyarakat UEA.
Pada peringatan 2025 di Masjid Sheikh Zayed Grand Mosque, formatnya juga sangat menarik. Acara dibuka dengan tilawah Al-Qur'an, kemudian ceramah Sheikh Abdullah bin Bayyah, paparan ulama Al-Azhar, segmen “Abna' Zayed” (anak/cucu Zayed) dengan pertunjukan syair, lalu ditutup dengan doa khatam Al-Qur'an untuk ruh Sheikh Zayed.
Bahkan ada kegiatan sosial khusus
Di luar acara resmi di masjid, berbagai institusi UEA menjadikan 19 Ramadan sebagai momentum melakukan amal sosial atas nama warisan Sheikh Zayed.
Misalnya pada 2026, Emirates Water and Electricity Company bersama Emirates Red Crescent membagikan Family Iftar Boxes kepada keluarga di Abu Dhabi dalam rangka Zayed Humanitarian Day.
Ada pula kegiatan yang melibatkan lansia dan penyandang disabilitas, termasuk buka puasa bersama, pemberian penghargaan dan kegiatan sosial.
Jadi kalau diringkas, Zayed Humanitarian Day di UEA bukan sekadar slogan. Ada tanggal khusus (19 Ramadan), tokoh yang secara khusus dikenang, acara resmi, tilawah Al-Qur'an, ceramah, doa untuk almarhum, serta kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Pemerintah dan lembaga keagamaan UEA sendiri menyebutnya sebagai “peringatan” (commemoration) setiap 19 Ramadan dan mengadakan acara khusus untuk mengenang Sheikh Zayed. Jadi memang ada praktik mengenang tokoh secara tahunan, walaupun nama resminya Zayed Humanitarian Day, bukan “haul”.
Dan ini bisa menjadi fakta pembanding dalam diskusi soal haul: jangan menyamakan seluruh formatnya, tetapi juga jangan mengabaikan bahwa ada agenda tahunan yang secara eksplisit mengenang seorang tokoh yang telah wafat, bahkan disertai tilawah, ceramah, doa untuk almarhum, dan kegiatan amal.
Memang, istilah dan formatnya berbeda. Kalangan yang menyelenggarakan Zayed Humanitarian Day menyebutnya sebagai hari kemanusiaan, bukan haul. Fokus utamanya juga diarahkan pada nilai-nilai kemanusiaan dan amal sosial yang diwariskan Sheikh Zayed.
Karena itu, perdebatan seharusnya tidak berhenti pada persoalan nama acara, tetapi perlu melihat substansi kegiatan dan argumentasi keagamaannya secara proporsional.
Jika sebuah kelompok menyelenggarakan agenda tahunan untuk mengenang jasa dan keteladanan tokohnya, sementara kelompok lain melakukan hal serupa dengan istilah haul, maka perbedaan istilah tersebut perlu dijelaskan secara jernih agar tidak muncul kesan bahwa hanya satu kelompok yang memiliki tradisi mengenang tokoh.
Dengan demikian, Zayed Humanitarian Day dapat menjadi bahan refleksi dalam diskusi tentang haul. Peringatan tersebut memperlihatkan bahwa penghormatan terhadap jasa seorang tokoh dapat diwujudkan melalui agenda khusus yang berulang setiap tahun, meskipun bentuk, istilah dan tujuan kegiatan dapat berbeda.
Pada akhirnya, penilaian mengenai boleh atau tidaknya suatu bentuk peringatan tetap merupakan persoalan ijtihad dan perbedaan pandangan keagamaan yang memiliki argumentasi masing-masing.
Yang penting, kritik terhadap tradisi kelompok lain hendaknya dilakukan secara konsisten dan dengan memahami terlebih dahulu praktik yang dilakukan oleh kelompok sendiri.






