Rebutan Lapak Cium Tangan: Ketika "Anti-Feodal" Tapi Tangannya Tetap Disodorkan
Jum'at, 2 Oktober 2026
Rebutan Lapak Cium Tangan: Ketika "Anti-Feodal" Tapi Tangannya Tetap Disodorkan
Belakangan ini panggung pengajian lagi ramai gerakan "anti-feodalisme". Salah satu yang paling rajin berorasi adalah Gus Muwafiq. Di atas podium, beliau vokal banget menyentil oknum-oknum yang hobi pamer nasab dan minta dikultuskan. Intinya: Jangan mau menghambakan diri sama manusia! Wah, dengarnya berasa kayak nonton film pahlawan yang lagi meruntuhkan kasta sosial.
Tapi tunggu dulu, namanya juga hidup di Indonesia, selalu ada plot twist.
Begitu turun panggung dan duduk santai, pemandangan di lapangan mendadak berubah 180 derajat. Jemaah langsung antre rapi, membungkuk takzim, lalu berebut mencium tangan sang kiai bolak-balik sampai nempel ke jidat. Lho, jabat tangan yang sejajar dan egaliter tadi ke mana?
Di sinilah letak komedinya. Ternyata, feodalisme itu kalau yang minta dicium pakai sorban yaman hukumnya "haram dan merusak mental umat". Tapi kalau yang disosor adalah tangan kiai lokal, statusnya langsung berubah jadi "berkah dan melestarikan budaya". Bedanya cuma di alasan: yang satu jualan garis darah, yang satu jualan jalur ijazah. Ujung-ujungnya, publik tetap disuruh nunduk-nunduk juga.
Melihat fenomena unik ini, netizen di grassroot cuma bisa garuk-garuk kepala sambil mikir: Ini gerakan murni mau mencerdaskan umat dari pembodohan, atau sebenarnya cuma urusan persaingan bisnis modal sosial? Jangan-jangan, tujuan utama meruntuhkan singgasana kehormatan golongan sebelah itu bukan demi kesetaraan, tapi biar lapak cium tangannya pindah ke kelompok sendiri.
Makanya, sebelum sibuk menunjuk muka orang lain sebagai kaum feodal, ada baiknya para tokoh kita istirahat sejenak sambil ngaca. Capek juga kan, mulut sibuk teriak-teriak anti-kultus, tapi tangan otomatis menjulur keluar setiap kali ada jemaah yang mendekat?
