Ponsel Curian Bongkar Rekaman Pembunuhan, Brian Steven Smith Divonis 226 Tahun Penjara
Senin, 19 Oktober 2026
Faktakini.info, Jakarta - Sebuah aksi pencurian ponsel yang terjadi di Anchorage, Alaska, Amerika Serikat, pada September 2019, justru menjadi titik awal terungkapnya kasus pembunuhan berantai yang mengejutkan. Dari perangkat yang dicuri tersebut, polisi menemukan rekaman foto dan video yang memperlihatkan seorang pria melakukan penyiksaan hingga pembunuhan terhadap seorang perempuan.
Rekaman itu menjadi bukti penting yang mengarahkan penyelidik kepada Brian Steven Smith, seorang pria asal Afrika Selatan yang tinggal di Anchorage dan bekerja di sektor perhotelan.
Kasus tersebut berakhir dengan vonis berat. Pada Juli 2024, Smith dijatuhi hukuman 226 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah atas serangkaian tindak pidana yang berkaitan dengan pembunuhan dua perempuan.
Berawal dari ponsel yang dicuri
Peristiwa ini bermula ketika seorang perempuan mencuri ponsel dari sebuah truk pikap yang terparkir di Anchorage. Saat memeriksa isi perangkat tersebut, ia menemukan rekaman yang memperlihatkan tindak kekerasan mengerikan terhadap seorang perempuan di sebuah kamar hotel.
Menyadari bahwa file-file itu kemungkinan berkaitan dengan tindak pidana serius, perempuan tersebut menyalin rekaman ke kartu memori dan menyerahkannya kepada kepolisian.
Temuan itu menjadi petunjuk penting bagi penyidik. Pada awalnya, identitas korban maupun pria yang terlihat dalam rekaman belum diketahui secara pasti. Namun, analisis terhadap bukti digital tersebut akhirnya membantu polisi mengungkap identitas pelaku dan menghubungkan rekaman dengan kasus pembunuhan yang sebelumnya belum terpecahkan.
Terhubung dengan pembunuhan Kathleen Jo Henry
Penyelidikan mengarah kepada Brian Steven Smith. Polisi menghubungkan rekaman tersebut dengan pembunuhan Kathleen Jo Henry, perempuan berusia 30 tahun yang jasadnya ditemukan di sepanjang Seward Highway, Alaska.
Smith ditangkap pada Oktober 2019. Rekaman yang ditemukan dari ponsel tersebut menjadi salah satu bukti penting dalam proses penyidikan.
Kasus ini menyita perhatian publik karena bukti yang mengungkap dugaan kejahatan tersebut berasal dari perangkat yang berpindah tangan melalui pencurian, bukan dari laporan langsung saksi yang menyaksikan pembunuhan.
Penyelidikan mengungkap korban kedua
Dalam perkembangan penyidikan, polisi juga mengaitkan Smith dengan pembunuhan Veronica Abouchuk, perempuan Pribumi Alaska yang hilang dan jasadnya kemudian ditemukan.
Kasus Abouchuk berkaitan dengan peristiwa pada 2018. Penyelidik kembali mendalami perkara tersebut setelah memperoleh informasi yang mengarah kepada Smith.
Jaksa menyatakan bahwa kedua korban berada dalam situasi rentan. Keduanya pernah mengalami masa-masa tunawisma, sehingga kondisi kehidupan mereka menjadi salah satu aspek yang disorot dalam persidangan.
Pengungkapan kasus kedua memperluas perkara yang semula berpusat pada satu rekaman pembunuhan. Bukti digital dan hasil penyelidikan lanjutan membantu aparat menghubungkan Smith dengan kematian dua perempuan tersebut.
Divonis bersalah atas 14 dakwaan
Pada Februari 2024, juri menyatakan Smith bersalah atas 14 dakwaan yang diajukan terhadapnya. Dakwaan tersebut mencakup dua tuduhan pembunuhan tingkat pertama serta sejumlah tindak pidana lainnya, termasuk penyerangan dan perusakan barang bukti.
Dalam persidangan, sebagian rekaman yang ditemukan dari ponsel tersebut diperlihatkan kepada juri. Bukti itu menjadi bagian penting dari rangkaian pembuktian yang digunakan jaksa untuk menjelaskan perbuatan Smith.
Pada 12 Juli 2024, Smith dijatuhi hukuman 226 tahun penjara atas kejahatan yang dilakukannya.
Putusan tersebut menutup salah satu kasus kriminal yang menyita perhatian di Alaska, sekaligus memperlihatkan bagaimana bukti digital dapat memainkan peran penting dalam mengungkap tindak pidana berat.
Pencurian yang berujung pada pengungkapan kejahatan
Kasus Brian Steven Smith menjadi sorotan karena rangkaian peristiwa yang tidak biasa. Ponsel yang awalnya dicuri justru menyimpan rekaman yang membantu polisi mengidentifikasi pelaku, mengungkap identitas korban, dan menghubungkan dua kasus pembunuhan.
Tanpa penemuan rekaman tersebut, penyelidikan kemungkinan akan menghadapi tantangan yang berbeda. Bukti digital itu akhirnya menjadi salah satu kunci yang membawa perkara ke meja persidangan dan berujung pada hukuman penjara selama ratusan tahun.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa bukti digital dapat membantu mengungkap kejahatan serius, bahkan ketika bukti tersebut ditemukan secara tidak sengaja.
