Kenangan Pertama Bersama KH Syukron Ma'mun

 

Ahad, 18 Oktober 2026

Faktakini.info

Kenangan Pertama Bersama KH Syukron Ma'mun

KH Syukron Ma'mun adalah sosok yang pertama kali saya kenal pada 1997, 29 tahun silam. Saat itu, saya menghadiri acara haul yang diselenggarakan di belakang Ramayana. Masyarakat mengenalnya sebagai Haul Darul Hadits, untuk memperingati haul Habib Abdul Qadir Bilfaqih dan Habib Abdullah Bilfaqih sekaligus hari lahir pesantren.

Saat itu, panitia menyediakan kursi bagi para jemaah, layaknya acara resepsi pernikahan. Tidak seperti sekarang yang digelar dengan lesehan karena jumlah hadirin semakin banyak. Saya sendiri masih duduk di kelas 1 Tsanawiyah Daruttauhid Malang. Setiap kali Haul Darul Hadits diselenggarakan, pesantren mengizinkan seluruh santri untuk hadir. Maklum, guru saya, Syaikh Abdullah Abdun, merupakan murid langsung Habib Abdul Qadir Bilfaqih.

Di acara itulah saya pertama kali menyaksikan KH Syukron Ma'mun menyampaikan sambutan mewakili para ulama. Beliau berdiri di tengah mimbar dengan suara serak-serak basah yang menggelegar. Tutur katanya tegas, runtut, dan tersusun rapi. Dari sana, tampak jelas penguasaan bahasa serta kemampuannya dalam berorasi dan beretorika.

Dalam ceramahnya, beliau mengkritik pemikiran-pemikiran yang dinilainya menyimpang dari ajaran Islam. Rupanya, kritik tersebut membuat sebagian pengawal acara dari sebuah organisasi kemasyarakatan tidak terima. Beberapa di antara mereka berteriak, menunjukkan ketidakpuasan karena tokoh yang mereka idolakan dikritik oleh sang kiai.

Namun, beliau tidak bergeming. Dengan keteguhan sikapnya, beliau tetap melanjutkan ceramah hingga selesai.

Suasana saat itu cukup tegang. Meski mendapat penolakan, bahkan menghadapi sikap yang bernada ancaman, sang kiai tetap berdiri tegak menyampaikan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Peristiwa itu menjadi kesan mendalam bagi saya tentang sosok ulama yang teguh dalam menyampaikan pandangannya.

Sejak perjumpaan pertama itu, nama KH Syukron Ma'mun terus saya kenal. Seiring berjalannya waktu, saya baru mengetahui bahwa beliau berasal dari Madura, kemudian berdakwah hingga ke Jakarta dan mendirikan pesantren di sana.

Pagi ini, saya terkejut mendengar kabar bahwa beliau telah berpulang ke rahmatullah. Kenangan tentang perjumpaan pertama hampir tiga dekade silam itu pun kembali hadir dalam ingatan.

Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada KH Syukron Ma'mun, mengampuni segala khilafnya, mengangkat derajatnya, serta melapangkan alam kuburnya. Semoga ilmu yang beliau ajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya hingga hari akhir.

Selamat jalan, Kiai Syukron Ma'mun. Semoga Allah menempatkan panjenengan di tempat terbaik di sisi-Nya.

Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil