Gus Fahrur: Stop Polemik Nasab, Mari Berbeda dengan Adab

 


Sabtu, 12 September 2026

Faktakini.info

Stop Polemik Nasab, Mari Berbeda dengan Adab

Oleh: Ahmad Fahrur Rozi

Polemik nasab yang ramai di tengah masyarakat sudah terlalu jauh. Sesuatu yang semestinya menjadi ruang kajian ilmiah justru berkembang menjadi pertengkaran di media sosial, saling mencaci, saling menuduh, bahkan tidak jarang menyeret dan merendahkan para ulama.

Saya kira, sudah saatnya kita berhenti.

Posisi saya sederhana: nasab adalah persoalan ilmu, bukan arena caci maki.

Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi kebencian dan rasisme. Jangan sampai kritik terhadap nasab berubah menjadi penghinaan terhadap ulama. Apalagi sampai membuat orang mudah menuduh semua ulama lainnya salah, sesat, yahudi, bodoh, atau tidak ilmiah hanya karena ada seseorang yang memiliki kesimpulan berbeda.

Belajar dari Para Sahabat

Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan tentang bagaimana menyikapi perbedaan.

Dalam peristiwa Bani Quraizhah, para sahabat berbeda memahami perintah Nabi ﷺ untuk melaksanakan shalat Ashar di Bani Quraizhah. Sebagian memahami secara tekstual sehingga menunda shalat sampai tiba di tujuan, sementara sebagian lainnya memahami bahwa yang dimaksud adalah bersegera menuju tempat tersebut sehingga mereka shalat di perjalanan agar tidak keluar dari waktunya.

Ketika persoalan itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau tidak mencela salah satu kelompok. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini pelajaran penting: perbedaan dalam memahami dalil tidak harus melahirkan permusuhan.

Para imam besar juga tidak pernah mengajarkan pengikutnya untuk mengultuskan pendapat mereka.

Imam Malik mengingatkan bahwa setiap orang bisa diterima atau ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah ﷺ. Imam Syafi’i juga dikenal dengan prinsip bahwa apabila ditemukan hadis sahih yang bertentangan dengan pendapatnya, maka pendapat tersebut harus ditinggalkan.

Artinya, tradisi keilmuan Islam tidak dibangun di atas sikap, “Pendapat saya pasti benar dan semua yang berbeda pasti salah.”

Jangan Mengubah Kajian Menjadi Fanatisme

Dalam persoalan nasab, tentu setiap orang berhak melakukan kajian dan menyampaikan pendapatnya. Tetapi ilmu nasab bukan perkara sederhana yang dapat diputuskan hanya dengan mencari informasi di internet atau mengumpulkan referensi yang mendukung kesimpulan sendiri.

Ada metodologi, sejarah, manuskrip, sanad, kesaksian, tradisi keilmuan dan kompetensi para ahli yang perlu diperhatikan secara utuh.

Karena itu, kritik terhadap sebuah klaim nasab dalam koridor ilmiah boleh dilakukan, tetapi pembatalan nasab secara sepihak jelas bukan perkara ringan.

Yang kita butuhkan adalah dialog ilmiah, bukan perang identitas, bukan kebencian. 

Sebab yang lebih berbahaya dari perbedaan pendapat adalah ketika seseorang sudah tidak mampu membedakan antara membela kebenaran dengan membela kelompoknya. 

Saya ingin mengajak semua pihak untuk kembali kepada prinsip sederhana.

Tidak semua orang yang berbeda dengan kita adalah orang bodoh. Tidak semua ulama yang tidak sependapat dengan kita harus dianggap tidak memahami agama.

Kita semua memiliki keterbatasan.

Bahkan para imam mujtahid yang ilmunya jauh di atas kita saja mengajarkan kerendahan hati terhadap pendapat mereka sendiri. Lalu mengapa kita yang ilmunya sangat terbatas justru mudah sekali merasa paling benar?

Jangan sampai kita mengaku sedang membela ilmu, tetapi cara kita berbicara justru menunjukkan hilangnya adab.

Mari Sudahi Perang Nasab

Saya berharap polemik nasab ini segera kita sudahi sebagai pertengkaran di media sosial.

Kalau ingin dikaji, mari kaji secara akademik. Kalau ingin berbeda, silakan berbeda. Kalau ada kekeliruan, silakan diluruskan.

Tetapi stop caci maki. Stop saling menyesatkan. Stop perang identitas.

Kita adalah umat yang sama. Kita menghadap kiblat yang sama, membaca Al-Qur’an yang sama, mencintai Rasulullah ﷺ dan beragama membutuhkan ukhuwah.

Jangan karena perbedaan dalam satu persoalan, kita kehilangan persaudaraan dalam banyak persoalan lainnya.

Saya tidak sedang membela nasab siapa pun. Saya sedang mengajak kita membela ilmu dan adab.

Mari kembali kepada tabayyun.

Mari kembali kepada tradisi ilmiah.

Mari hormati para ahli.

Mari berbeda pendapat dengan kepala dingin.

Karena tujuan ilmu bukan untuk memenangkan pertengkaran, tetapi mencari kebenaran tanpa kehilangan persaudaraan.

Stop polemik nasab yang penuh caci maki.

Mari berbeda dengan adab.

— Ahmad Fahrur Rozi