Kurang Ajar! Boss Sound Horeg Hina MUI Jatim sebut "Goblok"
Duduk mewakili kubu hiburan jalanan, seorang perwakilan pengusaha sound system bernama Setyo Budi Mularso (atau dikenal juga sebagai Tio Budi Muarso) tampil menggebu-gebu menumpahkan rasa frustrasinya terhadap fatwa haram yang baru saja dijatuhkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
Merasa periuk nasinya terancam oleh label agama, sang pengusaha tidak hanya melontarkan kritik, tetapi hingga lepas kendali melayangkan makian tajam.
Di hadapan pemirsa nasional, ia dengan berani menyebut MUI "gobl*k" karena dianggap mematikan tradisi dan bisnis hiburan rakyat.
Namun, serangan verbal yang sarat emosi itu langsung dipatahkan dengan telak oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur yang menggunakan hak jawabnya dengan tenang namun menusuk.
Alih-alih merespons makian dengan amarah, pihak MUI justru menelanjangi sisi gelap dari karnaval sound horeg yang selama ini sengaja ditutupi oleh para penyelenggara.
Fatwa haram tersebut nyatanya tidak dirumuskan sembarangan dari balik meja, melainkan lahir dari tumpukan laporan keresahan warga di lapangan.
MUI membeberkan realitas miris bahwa keriuhan sound horeg kerap kali dijadikan kedok untuk melanggar norma ketertiban dan kesusilaan secara terang-terangan.
Di balik dentuman bass yang memekakkan telinga, acara ini sering kali menjadi arena bebas untuk menenggak minuman keras.
Lebih parah lagi, parade "diskotik berjalan" ini kerap disisipi oleh atraksi penari erotis yang meliuk-liuk di ruang publik tanpa rasa segan.
Fakta-fakta telanjang inilah yang menjadi landasan utama MUI mengambil sikap keras.
Penjelasan tajam ini sekaligus menjadi tamparan balik bagi sang pengusaha, membuktikan bahwa yang ditentang oleh ulama bukanlah perangkat elektronik atau musiknya, melainkan ekosistem maksiat yang tumbuh subur di sekelilingnya.
Sumber: internet
