KH Fudholi Cilongok, Sang Syahid Dakwah Yang Dicaci Kaum Tak Beradab
Senin, 7 September 2026
Faktakini.info
KH Fudholi Cilongok, Sang Syahid Dakwah Yang Dicaci Kaum Tak Beradab
KH Ahmad Fudholi Cilongok wafat dalam sebuah kecelakaan ketika sedang melakukan perjalanan dakwah.
Beliau sedang menjalankan perjalanan dalam rangka dakwah dan menyampaikan kebaikan kepada umat. Di tengah perjalanan itulah terjadi kecelakaan yg menyebabkan wafatnya beliau.
Bagi kita, kepergian itu adalah musibah dan duka. Namun bagi seorang Muslim, kematian dalam perjalanan dakwah bukanlah sesuatu yang pantas ditertawakan, apalagi dijadikan bahan sorak-sorai dan olok-olok.
Justru kita memiliki alasan untuk berharap kepada Allah agar beliau mendapatkan kemuliaan dan pahala syahid.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ...»
“Orang-orang yang mati syahid selain yang terbunuh di jalan Allah ada tujuh...”
Di antaranya:
«وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ»
“Orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan adalah syahid.”
(HR. Abu Dawud)
Maka kita tidak boleh memastikan perkara ghaib tanpa dalil yang pasti. Tetapi kita berharap dan berbaik sangka kepada Allah, terlebih ketika seorang hamba wafat dalam keadaan sedang menempuh perjalanan untuk dakwah dan ketaatan.
Bisa jadi, apa yang kalian anggap sebagai musibah justru menjadi pintu kemuliaan bagi beliau.
Dan di sinilah seharusnya kita berhenti dan bertanya kepada mereka yang justru bersorak dan bergembira atas wafatnya beliau:
Apa sebenarnya yang sedang kalian rayakan?
Kematian seorang Muslim?
Musibah seorang pendakwah?
Atau kalian sedang merayakan sesuatu yang barangkali justru menjadi sebab kemuliaan beliau di sisi Allah?
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan:
«لَا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ، فَيُعَافِيَهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ»
“Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas musibah yang menimpa saudaramu. Bisa jadi Allah menyelamatkannya dari musibah itu, lalu mengujimu dengan musibah yang sama.”
Inilah الشَّمَاتَة (asy-syamātah): bergembira atas musibah yang menimpa orang lain.
Dan yang lebih menyedihkan, ada orang-orang yang mengaku sebagai pembela kyai, mengaku sebagai pecinta ulama, mengaku paling menghormati habaib dan masyayikh.
Tetapi ketika ada seorang kyai yang berbeda pendapat dengan mereka, tiba-tiba gelar “pecinta ulama” itu lenyap.
Yang keluar justru hujatan, cacian, fitnah, penghinaan, bahkan kegembiraan ketika sang kyai tertimpa musibah.
Lalu di mana cinta kalian kepada ulama?
Apakah cinta kepada kyai hanya berlaku kepada kyai yang sepemikiran dengan kalian?
Kalau iya, itu bukan cinta kepada ulama.
Itu fanatisme kepada kelompok sendiri.
Pecinta ulama tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk mencaci ulama.
Pecinta ulama tidak menjadikan kematian seorang kyai sebagai bahan tertawaan.
Pecinta ulama tidak bersorak ketika seorang pendakwah tertimpa musibah.
Dan orang yang benar-benar memiliki ilmu akan memahami bahwa ulama pun bisa berbeda pendapat tanpa harus saling menghilangkan kehormatan.
Maka jangan mengaku mencintai kyai, sementara lisan kalian menjadi senjata untuk menghancurkan kehormatan kyai yang tidak sepaham dengan kalian.
Jangan mengaku pembela ulama, sementara ketika ada ulama yang berbeda pendapat, kalian berubah menjadi pencaci dan pembenci.
Sebab pada akhirnya, yang kalian caci belum tentu hina di sisi Allah. Dan yang kalian puji belum tentu mulia di sisi Allah.
Bahkan sangat mungkin orang yang hari ini kalian tertawakan karena musibahnya, justru sedang mendapatkan rahmat Allah yang tidak kalian ketahui.
Sedangkan kalian?
Kalian mungkin sedang mengumpulkan dosa dari setiap ejekan, cacian, dan kegembiraan atas musibah saudara kalian.
Karena itu, kepada para pencibir dan pendengki:
Belajarlah adab sebelum mengaku mencintai ulama.
Belajarlah menghormati perbedaan sebelum mengaku membela kyai.
Dan yang paling penting:
Belajarlah takut kepada Allah sebelum bersorak atas kematian seorang Muslim.
Sebab kematian KH Ahmad Fudholi bukanlah panggung kemenangan bagi para pembencinya.
Bisa jadi justru itulah perjalanan terakhir beliau menuju rahmat dan kemuliaan Allah.
Sementara sorak-sorai para pembencinya?
Bisa jadi itulah yang kelak menjadi saksi keburukan akhlak mereka di hadapan Allah.
فَاتَّقُوا اللهَ وَاحْفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ
“Bertakwalah kepada Allah dan jagalah lisan kalian.”
