413 KECELAKAAN SEHARI DI INDONESIA, MENGAPA MUSIBAH ULAMA MALAH DIJADIKAN BAHAN BULLY OLEH SEKTE IMAD?
Senin, 7 September 2026
Faktakini.info, Jakarta - Semoga Allah SWT senantiasa menjaga para ulama, habaib, kiai, ustaz, dai, serta seluruh umat Islam yang sedang menunaikan tugas dan aktivitasnya.
Ada satu fakta yang seharusnya membuat siapa pun berpikir sebelum menjadikan kecelakaan seseorang sebagai bahan olok-olok.
Indonesia mengalami ratusan kecelakaan lalu lintas setiap hari.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2024 tercatat 150.906 kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Angka tersebut berarti rata-rata sekitar 413 kecelakaan setiap hari.
Lebih memprihatinkan lagi, BPS mencatat 26.839 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas sepanjang 2024, atau rata-rata sekitar 74 orang meninggal setiap hari.
Angkanya sangat besar.
Dengan realitas seperti itu, kecelakaan jelas merupakan peristiwa yang dapat menimpa siapa saja.
Namun ironisnya, ketika seorang ulama atau habib menjadi korban kecelakaan, justru muncul sebagian komentar di media sosial oleh Sekte Imad Begal Nasab (Orang-orang gila nasab yang sangat membenci habaib dan ulama istiqomah) yang menjadikan musibah tersebut sebagai bahan serangan.
Muncul istilah seperti "korban mubahalah", "kualat thesis kyai imad", atau dikaitkan dengan hal-hal lain sesuka mukimad.
Di sinilah akal sehat dan adab seharusnya digunakan.
413 KECELAKAAN SEHARI, APAKAH SEMUANYA "KORBAN MUBAHALAH"?
Mari gunakan logika sederhana.
Kalau dalam satu tahun terjadi 150.906 kecelakaan, apakah setiap korban kecelakaan dapat dikatakan sedang menerima akibat dari perdebatan yang pernah dilakukannya?
Tentu tidak.
Kalau setiap kecelakaan boleh dijadikan "bukti" bahwa seseorang terkena kualat, maka pertanyaannya:
Bagaimana menjelaskan ratusan kecelakaan yang terjadi setiap hari kepada orang-orang yang tidak pernah terlibat polemik apa pun?
Ada pekerja yang kecelakaan.
Ada mahasiswa yang kecelakaan.
Ada ibu rumah tangga yang kecelakaan.
Ada anak-anak yang menjadi korban.
Ada dukun, polisi, tentara, pejabat, pedagang, sopir, buruh, guru, ulama, kiai, habaib dan masyarakat biasa.
Apakah semuanya otomatis sedang "dikualatkan"?
Tentu tidak.
Kecelakaan adalah musibah yang memiliki banyak faktor: kondisi jalan, kendaraan, cuaca, kelalaian manusia, kondisi lalu lintas, dan berbagai faktor lainnya.
Karena itu, sangat sembrono apabila musibah seseorang langsung ditafsirkan sebagai hukuman Allah atau kemenangan sebuah kelompok dalam perdebatan.
ULAMA DAN HABIB PUN MANUSIA
Ada satu hal yang sering dilupakan.
Para ulama dan habaib yang berdakwah dari satu tempat ke tempat lain adalah manusia yang memiliki mobilitas sangat tinggi.
Hari ini di Jakarta.
Besok ke Bogor.
Lusa ke Bandung.
Kemudian ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, bahkan ke berbagai negara.
Mereka berada di jalan raya hampir setiap hari.
Maka sangat wajar apabila mereka juga menghadapi risiko perjalanan seperti manusia lainnya.
Yang justru tidak masuk akal adalah ketika satu di antara mereka mengalami musibah, kemudian musibah tersebut dijadikan bahan untuk menertawakan atau merendahkan.
Padahal 99 persen lebih aktivitas perjalanan para ulama dan habaib berjalan normal dan selamat.
Mengapa yang disorot hanya ketika terjadi musibah?
Karena memang tujuannya bukan mencari kebenaran.
Tujuannya adalah mencari amunisi untuk menyerang lawan.
WAFATNYA KH AHMAD FUDHOLI SEHARUSNYA MENJADI PELAJARAN
Termasuk kabar duka wafatnya KH Ahmad Fudholi (Rimpak), yang kini sedang gencar dihina-hina dan diolok-olok sekte Imad.
Beliau mengembuskan napas terakhir setelah sebelumnya menjalani perawatan medis secara intensif akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya beberapa hari sebelumnya. Beliau insya Allah mati syahid karena dalam perjalanan dakwah mensyiarkan agama Islam.
Semestinya kabar tersebut mengundang doa dan empati.
Semestinya orang berkata:
"Semoga Allah mengampuni beliau."
"Semoga Allah menerima amal ibadah beliau."
"Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran."
Bukan malah berlomba-lomba mencari celah untuk mengatakan:
"Korban mubahalah!"
"Kualat thesis kyai imad!"
atau menjadikan kematian seorang manusia sebagai bahan untuk merayakan kemenangan kelompoknya.
Kalau memang demikian cara berpikirnya, maka pertanyaannya sederhana:
Di mana adabnya?
JANGAN SOK TAHU URUSAN TAKDIR ALLAH
Tidak ada manusia yang mengetahui secara pasti rahasia di balik kematian seseorang.
Kita boleh mengambil hikmah dari sebuah musibah.
Kita boleh mengingat bahwa kematian adalah kepastian.
Tetapi mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa seseorang meninggal karena "kualat", "mubahalah", atau karena kalah dalam sebuah polemik adalah perkara yang jauh lebih serius.
Sebab manusia tidak mengetahui perkara gaib.
Jangan-jangan karena terlalu sibuk menghakimi orang lain, seseorang justru lupa bahwa dirinya sendiri sedang menunggu giliran dipanggil Allah SWT.
Allah SWT telah mengingatkan:
«"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati."
(QS. Ali 'Imran: 185)»
Ayat ini tidak mengenal pengecualian.
Bukan hanya habaib yang akan mati.
Bukan hanya ulama yang akan mati.
Bukan hanya orang yang mereka benci yang akan mati.
Kita semua akan mati. Semua sekte imad pun bakal mati dan musnah tak bersisa.
JANGAN LUPA: TOKOH-TOKOH YANG DULU RAMAI PUN AKHIRNYA DIAM
Lucunya, orang-orang yang hari ini sibuk mengolok-olok kematian pihak lain seakan lupa bahwa tokoh-tokoh dari kelompok mereka sendiri pun satu per satu telah meninggalkan dunia, bahkan banyak yang kematiannya begitu tragis seperti BAB tak henti-henti sampai lemas dan mati, mati hanya beberapa jam setelah live tiktok menghina habaib, dan lain sebagainya.
Tokoh-tokoh yang dahulu mendukung PWI-LS—seperti Puja, Qori Ompong, Mbah Dowi dan lainnya—juga akhirnya menghadapi kematian. Warga yang mengantar penguburan mereka sepi, kepedulian elit-elit sekte Imad rendah, dan setelah dikubur nama-nama mereka dilupakan begitu saja.
Setelah mereka wafat, hiruk-pikuk perdebatan perlahan berlalu.
Nama yang dahulu ramai dibicarakan akhirnya tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Sangat mungkin kematian sekte imad akan sama seburuk dan sehina itu
Ini adalah kenyataan yang seharusnya membuat manusia rendah hati:
Popularitas tidak abadi.
Viralitas tidak abadi.
Perdebatan tidak abadi.
Bahkan kita sendiri tidak abadi.
Jadi jangan merasa terlalu hebat hanya karena hari ini bisa mendapatkan ribuan komentar dan dukungan di media sosial.
Besok bisa saja nama kita sudah dilupakan.
KALAU PUNYA BUKTI, BANTAH DENGAN ILMU!
Kalau merasa nasab seseorang tidak benar, tunjukkan bukti dan penelitian.
Kalau merasa ada kesalahan akademik, bedah secara ilmiah.
Kalau memiliki dokumen, tampilkan dokumennya.
Kalau memiliki sanad yang lebih kuat, paparkan sanadnya.
Itulah medan pertarungan intelektual.
Bukan rumah sakit.
Bukan ambulans.
Bukan kecelakaan.
Dan bukan kuburan.
Jangan jadikan kematian manusia sebagai piala kemenangan dalam sebuah perdebatan.
Sebab orang yang benar-benar yakin dengan argumentasinya tidak membutuhkan kematian lawannya untuk membuktikan bahwa dirinya benar.
Dan sampai detik ini terbukti, nasab habaib diakui seluruh ahli nasab dan naqobah asyraf resmi dunia. Jangan paksa umat Islam untuk mengakui pendapat Imad.
KEMATIAN BUKAN BAHAN TAWA
Perbedaan pendapat boleh.
Kritik boleh.
Bantahan boleh.
Debat boleh.
Tetapi ketika seseorang tertimpa musibah, apalagi meninggal dunia, seharusnya ada rem bernama adab.
Jangan sampai kebencian terhadap seseorang membuat kita kehilangan rasa kemanusiaan.
Dan jangan sampai karena ingin menjatuhkan kelompok tertentu, kita sampai menganggap musibah manusia sebagai hiburan.
Itu bukan keberanian.
Itu bukan kecerdasan.
Itu bukan kemenangan ilmiah.
Itu hanya menunjukkan betapa dangkalnya sebuah perdebatan ketika kematian manusia pun dijadikan bahan propaganda.
Maka kepada siapa pun yang gemar menggunakan istilah "korban mubahalah", "kualat", dan sejenisnya untuk menertawakan musibah orang lain, ada baiknya berhenti sejenak dan bercermin.
Karena 413 kecelakaan terjadi setiap hari bukanlah angka kecil.
Dan 74 nyawa rata-rata melayang setiap hari bukanlah bahan lelucon.
Hari ini mungkin yang menjadi korban adalah orang yang kita tidak sukai.
Besok belum tentu.
Hari ini kita mungkin berdiri di pinggir jalan sambil menertawakan orang yang jatuh.
Besok bisa saja kita sendiri yang terbaring.
Pada akhirnya, kita semua akan masuk ke liang lahat.
Tidak ada lagi buzzer.
Tidak ada lagi perang komentar.
Tidak ada lagi pengikut.
Tidak ada lagi propaganda.
Tidak ada lagi "menang debat".
Yang tersisa hanyalah amal dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Maka bertaqwalah.
Kritik pemikirannya, jangan tertawakan musibahnya.
Bantah thesis-nya, jangan jadikan kematiannya sebagai kemenangan.
Karena kematian seseorang bukan bukti bahwa kita benar.
Dan hidup kita sendiri pun sedang berjalan menuju kematian yang sama.
