Netanyahu Masuk Terowongan Bawah Al-Aqsa, Ratusan Pemukim Israel Serbu Kompleks Masjid
Selasa, 22 September 2026
Faktakini.info, Jakarta - Ketegangan kembali meningkat di kawasan Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, menjelang peringatan Yom Kippur. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi kawasan Tembok Barat atau Al-Buraq dan terowongan yang berada di bawah Kota Tua Yerusalem, sementara ratusan pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa dengan pengawalan ketat aparat keamanan Israel.
Kunjungan Netanyahu berlangsung pada Sabtu (19/9/2026), ketika ribuan warga Israel berkumpul di kawasan Tembok Barat untuk menjalankan ritual keagamaan. Netanyahu bahkan mendokumentasikan kunjungannya melalui media sosial resmi dan menyampaikan pernyataan mengenai keberadaan Israel di kawasan tersebut.
Sehari setelahnya, sekitar 570 pemukim Israel, menurut keterangan media Pemerintah Kota Yerusalem Palestina, memasuki halaman kompleks Al-Aqsa. Mereka dilaporkan melakukan sejumlah ritual keagamaan Yahudi dengan pengamanan polisi Israel.
Bagi Palestina dan sejumlah negara Arab, rangkaian tindakan tersebut bukan sekadar aktivitas keagamaan. Kehadiran pejabat dan pemukim Israel di kompleks suci itu dipandang sebagai tindakan yang berpotensi mengubah status quo tempat ibadah yang selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Netanyahu di Bawah Kawasan Al-Aqsa
Yang menjadi sorotan bukan hanya kehadiran pemukim di permukaan kompleks Al-Aqsa. Netanyahu juga memasuki jaringan terowongan di bawah kawasan Tembok Barat.
Dalam rekaman yang dipublikasikan Netanyahu, ia mengklaim kawasan tersebut sangat dekat dengan apa yang dalam tradisi Yahudi disebut sebagai tempat paling suci.
Kunjungan ke terowongan tersebut kemudian mendapat kecaman keras dari pihak Palestina dan kelompok-kelompok yang menilai aktivitas penggalian dan pembangunan di sekitar Kota Tua Yerusalem sebagai bagian dari upaya memperkuat klaim serta kontrol Israel atas kawasan yang disengketakan.
Al Jazeera melaporkan bahwa aktivitas penggalian di bawah kawasan Kota Tua Yerusalem selama bertahun-tahun telah menjadi sumber kontroversi, termasuk mengenai tujuan dan dampaknya terhadap situs bersejarah serta posisi politik Yerusalem Timur.
Negara Arab Mengecam
Kunjungan dan rangkaian aktivitas tersebut memicu reaksi keras dari sejumlah negara Arab.
Jordan, Kuwait, Qatar, Arab Saudi dan Mesir termasuk negara yang mengecam tindakan yang mereka nilai sebagai pelanggaran terhadap status quo kawasan suci tersebut. Mereka menilai tindakan semacam itu dapat meningkatkan ketegangan dan memicu eskalasi lebih luas.
Al-Azhar Observatory di Mesir juga mengecam ritual yang dilakukan ribuan warga Israel di kawasan Tembok Barat menjelang Yom Kippur, terutama karena berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di Yerusalem.
Palestina: Al-Aqsa Bukan Milik Israel
Bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsa merupakan salah satu situs paling suci dalam Islam dan bagian dari kompleks Al-Haram Al-Sharif.
Karena itu, setiap perubahan pola akses, ritual, maupun kehadiran aparat dan pemukim Israel di kawasan tersebut selalu mendapat penolakan keras dari Palestina dan dunia Islam.
Hamas juga mengecam kunjungan Netanyahu ke kawasan bawah Tembok Barat. Mereka menuduh tindakan tersebut sebagai upaya menyerang identitas Islam Al-Aqsa dan menolak klaim Israel terhadap kawasan tersebut. Pernyataan itu merupakan posisi Hamas dan tidak secara otomatis merupakan fakta yang telah dibuktikan secara independen.
Ketegangan Menjelang Pemilu Israel
Rangkaian kejadian ini juga berlangsung ketika Israel memasuki periode politik yang sensitif. Pemilu Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Sejumlah analis yang dikutip Al Jazeera menilai penggunaan simbol-simbol keagamaan dan isu Yerusalem memiliki dimensi politik domestik, terutama bagi kelompok kanan Israel. Analisis tersebut menyebut Netanyahu berusaha menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang mempertahankan klaim Israel atas Yerusalem.
Terlepas dari perdebatan politik tersebut, perkembangan di sekitar Al-Aqsa kembali menunjukkan betapa mudahnya perubahan aktivitas di kawasan suci itu memicu kemarahan Palestina dan negara-negara Muslim.
Al-Aqsa bukan sekadar lokasi wisata atau situs sejarah. Bagi umat Islam, ia merupakan tempat suci yang memiliki kedudukan sangat penting. Karena itu, setiap tindakan yang dianggap mengganggu status quo kawasan tersebut berpotensi memperbesar konflik yang selama ini belum terselesaikan.