HABIB BA'ABUD PENGKHIANAT DIPONEGORO? (5)
Senin, 7 September 2026
Faktakini.info
HABIB BA'ABUD PENGKHIANAT DIPONEGORO? (5)
Kemarin ada yang komen tentang penangkapan Pangeran Diponegoro dengan kelicikan.
Katanya, "Udah tau diajak bertemu musuh, mau aja percaya."
Kemudian ditambah dengan membodoh-bodohkan sang pangeran.
Sepertinya, menyalahkan keputusan sang pangeran adalah tanda kecerdasan yang penuh kebijakan.
Mohon maap, saya memilih tidak ikut-ikutan.
Setelah baca "Babad Diponegoro", saya memahami langkah yang ditempuhnya, karena keadaan yang telah memaksanya.
Untuk memahami perasaan dan pemikiran Pangeran Diponegoro, memang "Babad Diponegoro" wajib dibaca.
Kalau cuman baca ulasan, plus pemikiran sendiri, maka perasaan dan pemikiran Pangeran Diponegoro tidak akan bisa didapatkan..
Tak ada yang lebih tahu tentang peristiwa itu, selain Pangeran Diponegoro sendiri.
Bagi saya, "Babad Diponegoro" semacam babad curhat. Menuliskan bukan hanya perang dengan Belanda, namun perang dalam dirinya sendiri.
Lalu, mengapa Pangeran Diponegoro mau diajak berunding dengan Belanda?
"Babad Diponegoro" mengisahkan awal mulanya.
Pada waktu itu, Pangeran Diponegoro sangat sedih hatinya. Ditinggal mati oleh pamannya yang menjadi penasehatnya, ahli militer ahli strategi.
Yaitu Pangeran Ngabehi. Terbunuh secara tragis di Gunung Sengir, wilayah Bagelen.
Pangeran Diponegoro akhirnya memutuskan pergi dari wilayah Mataram untuk menghibur hati.
Wilayah Mataram diberikan kepada tiga orang panglimanya. Yaitu Sentot Prawirodirjo, Basah Kusumonegoro, dan Kerto Pengalasan.
Tiga panglima itulah yang kemudian berperang habis-habisan di Mataram. Sampai kemudian kalah. Akhirnya menyerah.
Oleh Belanda, tiga panglima yang sudah menyerah itu diperintahkan menemui Pangeran Diponegoro. Untuk mengajak berunding.
Selain mereka, tiga orang penasehat Pangeran Diponegoro juga diperintahkan dengan tujuan yang sama. Yaitu Mas Penghulu Pekih Ibrahim, Kyai Mlangi, dan Haji Imam Raji.
Waktu itu, Pangeran Diponegoro tengah berdiam di Kejawang, wilayah Roma. Masuk Sruweng, Kebumen, sekarang.
Tiga panglima dan tiga penasehat Pangeran Diponegoro bertemu dengan anak Pangeran Diponegoro, yaitu Pangeran Suryaatmaja.
Mereka bertujuh kemudian bermusyawarah. Bagaimana caranya menyampaikan pada Pangeran Diponegoro tentang tawaran Belanda.
Pangeran Suryaatmadja bertanya pada Penghulu Pekih Ibrahim.
"Bagaimana hukumnya orang yang berdamai dengan kaum kafir? Apakah ada dalil hukumnya?"
Pekih Ibrahim, pengganti Kyai Mojo, menjawab, "Perdamaian dengan kaum kafir dibolehkan karena ketidakberdayaan kita untuk melawan."
Dengan dalil-dalil agama yang diberikan penasehat agama Pangeran Diponegoro itulah, Pangeran Suryaatmaja menyepakatinya.
Sang pangeran akan menyampaikan ajakan berunding dengan Belanda kepada ayahnya.
Dalam rencana pertama membujuk Pangeran Diponegoro itu, Syekh Samparwadi tidak ada.
Maka ketika menuduh Syekh Samparwati sebagai pengkhianat Pangeran Diponegoro, menjadi lucu.
Tuduhan tanpa dasar. Tak ada sumbernya.
Apakah mereka berani menuduh Pangeran Suryaatmaja, anak Pangeran Diponegoro, sebagai pengkhianat ayahnya?
#babaddiponegoro #sejarahdiponegoro
