HABIB BA'ABUD PENGKHIANAT DIPONEGORO? (4)

 


Senin, 7 September 2026

Faktakini.info

HABIB BA'ABUD PENGKHIANAT DIPONEGORO? (4)

Saya penasaran dengan keberadaan keluarga Ba'abud dalam Keraton Jogjakarta.

Sejak kapan terjalin hubungan antara ningrat Jawa dengan golongan Arab?

Tercatat dalam "Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat" ada anak Sultan Jogja yang menikah dengan kaum imigran itu.

Anak Sultan HB II yang nomor 31, Bendoro Raden Ayu Ngabdani, menikah dengan Sayid Ngabdani.

Kemudian, anak Sultan HB II yang nomor 55, Bendoro Raden Ayu Samparwadi, menikah dengan Syekh Samparwadi (Kasan Munadi).

Namun, menemukan jawabannya ternyata sulit. Sepertinya belum banyak bahasan yang mengulas hal itu.

Sampai kemudian saya menemukan jurnal berjudul "Menelusuri Jejak Kehidupan Keturunan Arab-Jawa di Luar Tembok Keraton Jogjakarta" yang ditulis oleh Siti Hidayati Amal dari Universitas Indonesia.

Tulisan itu membahas tentang pernikahan Bendoro Raden Ayu Samparwadi dengan Syekh Samparwadi.

Penulisnya adalah keturunan Syekh Samparwadi. Generasi ke-6 dari Syekh Samparwadi.

Menurut keluarga, Syekh Samparwadi bisa menikah dengan putri Keraton Jogja bermula dari sakitnya sang putri. 

Seperti dalam dongeng, Sultan HB II (waktu itu masih putra mahkota) menyampaikan sayembara. Barangsiapa yang bisa menyembuhkan anaknya, kalau laki-laki akan dijodohkan dengan sang putri, kalau perempuan akan dijadikan saudara.

Ternyata, orang yang berhasil menyembuhkan adalah Habib Alwi Ba'abud.

Namun, karena Habib Alwi Ba'abud berumur 65 tahun, merasa tidak pantas menikahi gadis yang masih berusia 14 tahun.

Akhirnya sang putri dinikahkan dengan anak laki-laki Habib Alwi Ba'abud yang berumur 25 tahun. Namanya Hasan Al Munadi.

Dari pernikahan mereka lahir anak laki-laki.

Kakek dari pihak ayah, Habib Alwi Ba'abud memberi nama Ibrahim Ba'abud. Kakek dari pihak ibu, Sultan HB II, memberi nama Raden Mas Haryo Madiokusumo. 

Jadilah nama Raden Mas Haryo Ibrahim Ba'abud Madiokusumo.

Sultan HB II kemudian memberikan sebidang tanah di wilayah Bagelen untuk cucunya tersebut. 

Sekarang wilayah itu berada di dalam kota Purworejo. Sampe sekarang dikenal dengan nama Madiokusuman. 

Nah, Ibrahim Ba'abud Madiokusumo inilah yang dituduh orang sebagai pengkhianat Pangeran Diponegoro.

Padahal yang menjadi penasehat sang pangeran adalah ayahnya, Syekh Samparwadi. 

Namun sepertinya, Ibrahim Ba'abud juga ikut mendukung Pangeran Diponegoro. Namun tidak ikut membujuk Pangeran Diponegoro untuk bertemu Belanda.

Menurut keluarga, setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, Ibrahim Ba'abud dibuang Belanda ke Ambon. 

Ditahan sampai meninggal di Benteng Vivtoria. Kemudian dimakamkan di Batu Gajah, Ambon.

#books #babaddiponegoro #diponegoro