Abu Ghazi: Catatan Kecil Diskusi Gus Wafi dengan Ustadz Wahabi
Senin, 7 September 2026
Faktakini.info
Abu Ghazi
Hampir tiga jam menyimak debat tadi malam, saya justru mendapatkan pelajaran menarik: debat keilmuan bukan sekadar adu bicara, tetapi adu hujjah, konsistensi manhaj, dan ketepatan istidlal.
Gus Wafi terlihat cukup kaya dengan referensi (Bahkan membawa banyak kitab disampingnya), baik dari kitab-kitab turats maupun rujukan yang berasal dari khazanah pihak lawan. Beberapa pertanyaan dijawab dengan wajh al-istidlal dan referensi yang jelas. Sementara pada beberapa bagian, argumentasi lawan terlihat kurang konsisten dengan qawaid yang dibangun sejak awal, bahkan beberapa pertanyaan terasa belum menyentuh mahall an-niza'.
Bagi saya, ini bukan soal membela salah satu pihak. Justru sebagai orang yang sedang menempuh pendidikan doktoral, suguhan kitab dan konstruksi argumentasi seperti ini menarik untuk dinikmati.
Saya semakin melihat pentingnya ilmu Mantiq, Kalam, Usul Fiqh, dan seni munazharah. Sebab menguasai dalil saja belum cukup terlebih ketika bersikeras pada satu refrensi saja. Kita perlu memahami bagaimana dalil digunakan, bagaimana premis dibangun, dan bagaimana sebuah kesimpulan ditarik.
Dalam tradisi keilmuan Islam ada kaidah:
الحكم على الشيء فرع عن تصوره
“Hukum terhadap sesuatu merupakan cabang dari pemahaman yang benar terhadapnya.”
Maka sebelum membantah, pahami dahulu apa yang sebenarnya sedang dipersoalkan. Sebelum menghukumi, pahami objeknya.
Saya juga teringat debat Ustaz Nuruddin dengan Guru Gembul beberapa tahun lalu. Terlepas dari siapa yang kita dukung, dari sisi argumentasi, forum tersebut menunjukkan bahwa public speaking tanpa fondasi ilmu akan mudah rapuh, sementara ilmu tanpa kemampuan mengartikulasikan juga sulit tersampaikan. Pada akhirnya guru gembul "mengakui kalah" dalam sesi tersebut.
Menariknya, pagi ini saya menemukan framing sebagian kawan-kawan salafy di media sosial yang menggambarkan Ustaz Toyyib seolah sedang “memberikan kuliah” kepada Gus Wafi layaknya guru memberikan pelajaran kepada muridnya . Weledeleh (tepuk jidat) ,🫣 Hehe.
Bagi saya, debat seharusnya dinilai dari kekuatan hujjah, bukan dari framing siapa yang terlihat menang karena dari kelompok ny.
Dan yang paling penting dari ruang dialog tadi malam adalah : UKHUWAH DI ATAS SEGALANYA.
Apapun pandangan kita terhadap sebuah persoalan, jika masih dalam satu tubuh kaum Muslimin, tidak elok rasanya perbedaan kemudian berubah menjadi budaya saling menyalahkan, merendahkan, bahkan mengkafirkan.
Kita boleh berbeda pendapat, boleh mengkritik, bahkan boleh menganggap sebuah hujjah kurang kuat. Tetapi berbeda pendapat tidak otomatis berarti berbeda iman.
Silakan berbeda dalam furu', berbeda dalam manhaj istidlal, bahkan berbeda dalam membaca persoalan. Namun jangan sampai setelah debat selesai, persaudaraan ikut selesai.
Ilmu mengajarkan kita untuk kritis. Adab mengajarkan kita untuk tetap mencintai saudara..
Alhamdulillah
(Semarang,05 September 2026)

