UPAYA MUKIMAD MENOLAK REALITAS SEJARAH BANGSA — Meluruskan Sejarah: H. Mutahar dan Hoaks Mengubah Nama Pencipta Lagu "Hari Merdeka"
Sabtu, 22 Agustus 2026
UPAYA MUKIMAD MENOLAK REALITAS SEJARAH BANGSA — Meluruskan Sejarah: H. Mutahar dan Hoaks Mengubah Nama Pencipta Lagu "Hari Merdeka"
Di tengah memanasnya polemik seputar nasab dan identitas Habaib Ba'alawi, muncul sebuah narasi yang sangat mencolok di media sosial: klaim bahwa pencipta lagu legendaris Hari Merdeka bukanlah H. Mutahar — sosok yang selama ini tercatat resmi dalam sejarah bangsa — melainkan seseorang bernama "Rn. Sjarif Oemar Abdollah Moetahar". Narasi ini bahkan disertai tuduhan bahwa adanya upaya "mem-Ba'alawy-kan" identitas sang komponis seolah-olah nama aslinya sengaja diubah untuk mengaitkannya dengan Habaib. Namun, penelusuran terhadap dokumen sejarah resmi menunjukkan dengan sangat jelas: klaim ini hanyalah disinformasi yang bertujuan menolak realitas sejarah bangsa.
📜 Identitas Asli Sang Komponis
Pencipta lagu Hari Merdeka, Syukur, serta sejumlah lagu kebangsaan dan himne lainnya adalah Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar, atau yang lebih dikenal publik dengan nama H. Mutahar atau Husein Mutahar. Beliau lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916 dan wafat di Jakarta pada 9 Juni 2004. Beliau bukan sekadar pencipta lagu; beliau juga adalah penggagas dan pendiri Paskibraka, simbol kedaulatan dan kecintaan bangsa terhadap Sang Saka Merah Putih.
Secara silsilah, Husein Mutahar berasal dari keluarga Al-Mutahar, salah satu cabang dari keluarga besar Bawalah — yang merupakan bagian dari Habaib Ba'alawi. Ini adalah fakta biologis dan historis sejak beliau lahir, tertulis dalam catatan silsilah keluarga, dokumen resmi, serta diakui oleh para sejarawan. Identitas Ba'alawi pada dirinya bukanlah hasil rekayasa baru-baru ini, bukan pula upaya "pemaksaan" identitas, melainkan bagian tak terpisahkan dari dirinya yang telah tercatat sejarah jauh sebelum polemik nasab ini muncul.
❌ Asal-usul Nama "Rn. Sjarif Oemar Abdollah Moetahar"
Sementara itu, nama "Rn. Sjarif Oemar Abdollah Moetahar" tidak pernah ditemukan dalam satu pun dokumen sejarah resmi, arsip negara, catatan keluarga, maupun literatur perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nama ini tidak pernah dikenal di dunia pendidikan, kebudayaan, maupun pergerakan nasional Indonesia pada masa itu. Kemunculannya secara tiba-tiba di media sosial belakangan ini — terutama melalui unggahan-unggahan dari kalangan yang dikenal sebagai "Mukimad" — murni adalah disinformasi yang sengaja diproduksi di tengah tensi polemik silsilah.
Penggantian nama asli H. Mutahar menjadi nama yang fiktif ini diduga kuat memiliki satu tujuan utama: menjauhkan sosok pahlawan nasional ini dari identitas aslinya sebagai bagian dari keluarga Ba'alawi, semata-mata demi memenuhi sentimen kebencian kelompok tertentu. Mereka seolah berharap dengan mengubah nama dan meniadakan identitas Ba'alawi dari diri H. Mutahar, mereka bisa membuktikan tuduhan bahwa Habaib "tidak pernah berjasa bagi bangsa". Namun sejarah tidak bisa diubah dengan sekadar menyebarkan nama baru di media sosial.
📌 Kesimpulan: Penolakan yang Sia-sia
Dari seluruh fakta di atas, satu hal menjadi sangat jelas: unggahan dan klaim yang disebarkan oleh kelompok "Mukimad" mengenai pengubahan nama pencipta lagu Hari Merdeka adalah bentuk nyata upaya menolak realitas sejarah bangsa. Di hadapan fakta sejarah yang tertulis rapi dalam arsip negara, di hadapan pengakuan para sejarawan, serta di hadapan kenyataan bahwa setiap tanggal 17 Agustus jutaan anak bangsa menyanyikan lagu ciptaan H. Mutahar — mereka memilih menutup mata, menciptakan nama baru, dan menyebarkan disinformasi demi memuaskan kebencian terhadap satu golongan.
Namun sejarah tetaplah sejarah. H. Mutahar tetaplah H. Mutahar — keturunan Ba'alawi, pejuang kebudayaan, komponis lagu kebangsaan, dan pahlawan yang telah mewariskan lagu-lagu yang menyatukan jiwa bangsa Indonesia. Sekuat apa pun kelompok Mukimad berusaha mengubah nama dan meruntuhkan identitas beliau, fakta sejarah tidak akan pernah berubah. Dan setiap kali lagu Hari Merdeka berkumandang, di situlah kebenaran sejarah kembali menggema — lebih kuat dan lebih abadi daripada segala hoaks yang disebarkan. 🇮🇩
disusun untuk meluruskan fakta sejarah yang telah dipelintir, semata demi menjaga keutuhan kebenaran sejarah bangsa Indonesia.
