Seorang Hindu datang ke Tarim untuk menjemput putrinya yang telah masuk Islam, lalu ia pun wafat dalam Islam

 

Selasa, 18 Agustus 2026

Faktakini.info

Seorang Hindu datang ke Tarim untuk menjemput putrinya yang telah masuk Islam, tetapi ia justru meninggal di sana dalam keadaan Muslim.


Sebuah kisah yang layak untuk diceritakan.

Seorang laki-laki Hindu datang ke Tarim dalam keadaan marah karena putrinya masuk Islam. Ia bermaksud membawa putrinya pulang bersamanya.


Putrinya dahulu belajar kedokteran gigi di Mombasa, Kenya. Di sana, beberapa tahun sebelumnya, ia telah masuk Islam tanpa sepengetahuan keluarganya dan memilih nama Khadijah untuk dirinya.

Seiring berjalannya waktu, ia kemudian sampai di Tarim.


Ketika ayahnya mengetahui bahwa putrinya telah masuk Islam dan berada di sana, ia datang menemuinya dengan tekad untuk membawanya kembali ke Mombasa.


Namun ketika sampai di Tarim, ia tidak menemukan orang yang memusuhinya.

Tidak ada yang berteriak kepadanya.


Tidak ada yang berkata, “Kamu berbeda dengan kami,” atau “Kamu kafir, musyrik.”

Habib Umar bin Hafidz berkata kepadanya dengan tenang:

“Tinggallah bersama kami selama bulan Ramadan. Engkau adalah tamu kami. Setelah itu, putuskan apa yang ingin engkau lakukan.”


Laki-laki itu pun tinggal selama satu bulan. Ia hidup bersama masyarakat di sana.


Ia melihat mereka ketika salat, menghadiri majelis-majelis mereka, melihat kehidupan mereka di rumah, serta menyaksikan bagaimana mereka bermuamalah dan memperlakukan orang lain.

Ia tidak hanya mendengar tentang Islam...

tetapi ia melihat Islam secara langsung.

Ramadan pun berakhir.


Namun laki-laki itu tidak kembali sebagaimana ketika ia datang. Bukannya membawa putrinya pulang, ia justru menyatakan masuk Islam.

Kemudian terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka.


Laki-laki yang datang ke Tarim untuk membawa putrinya pergi, justru memutuskan bahwa dirinya sendiri yang akan tinggal di sana.

Ia menyewa sebuah rumah, kemudian bekerja sebagai juru masak di Darul Musthafa.

Hari-hari pun berlalu.


Pada suatu malam Jumat, laki-laki tersebut meninggal dunia di Tarim dalam keadaan Muslim. Sebelumnya, Habib Umar telah mendoakannya agar mendapatkan husnul khatimah. Setelah ia meninggal, Habib Umar juga mendoakannya dalam Maulid Jumat.


Ia datang dengan tujuan membawa putrinya pergi dari jalan yang telah dipilihnya.

Namun pada akhirnya, ia sendiri menempuh jalan yang sama.


Ia memasuki Tarim dalam keadaan Hindu.

Dan ia meninggal di sana dalam keadaan Muslim.

Mungkin bagian terindah dari kisah ini bukan hanya tentang bagaimana ia masuk Islam, tetapi bagaimana ia masuk Islam.

Tidak ada yang memaksanya.

Tidak ada yang menghinanya.

Tidak ada yang memperlakukannya sebagai musuh.


Ia hanya diberi satu kalimat:

“Engkau adalah tamu kami.”

Begitulah Tarim dan Hadramaut dalam banyak fase sejarahnya.

Mereka tidak menyebarkan risalahnya ke Afrika Timur dan Asia Tenggara dengan suara keras, tetapi melalui akhlak, perdagangan, kejujuran, amanah, dan perlakuan yang baik.

Dan terkadang.

hati manusia hanya membutuhkan satu teladan yang tulus, lebih daripada seribu khutbah.

Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.


— Zahir bin Syekh Abu Bakar