Gerombolan RASISME Pusing: Mencari Sarman, Tetap Muncul Nama H. Husein Mutahar

 


Selasa, 18 Agustus 2026

Faktakini.info

Gerombolan RASISME Pusing: Mencari Sarman, Tetap Muncul Nama H. Husein Mutahar

Di tengah riuhnya arus informasi di dunia maya, ada fenomena yang sungguh menggelikan sekaligus menyedihkan. Sekelompok orang yang dipenuhi niat buruk dan kebencian rasial, kini sibuk "mengobok-obok" internet hingga kecerdasan buatan (AI), hanya demi satu tujuan: mencari nama lain sebagai pencipta lagu nasional legendaris "Hari Merdeka" — berharap semoga muncul nama "Sarman" atau nama lain yang sesuai dengan keinginan mereka. Namun, berapapun berkali-kali mereka mencari, berapapun sumber data yang mereka telusuri, hasilnya selalu sama: yang muncul tak lain adalah nama H. Husein Mutahar — atau nama lengkapnya, Habib Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad al-Mutahar.

Ini bukanlah kebetulan, dan bukan pula rekayasa. Sejarah tidak bisa dibelokkan hanya karena kebencian sekelompok orang. Lagu yang setiap tanggal 17 Agustus bergema di seantero negeri — "Tujuh belas Agustus tahun empat lima / Itulah hari kemerdekaan kita..." — memang lahir dari tangan dan perasaan seorang putra bangsa yang juga keturunan Ahlul Bait, seorang yang mencintai tanah air dengan sepenuh jiwanya: Habib Husein Mutahar.

Gerombolan yang tertular virus rasisme ini tampaknya tidak bisa menerima kenyataan, bahwa salah satu lagu paling membangkitkan semangat kebangsaan Indonesia justru diciptakan oleh seseorang yang mereka coba-coba rendahkan. Mereka berharap menemukan nama yang "sesuai selera", berharap bisa menghapus jejak jasa beliau dari sejarah. Namun, fakta adalah fakta. Sejarah telah mencatat dengan jelas, dan ribuan sumber, arsip, serta catatan resmi — termasuk data yang tersimpan dalam sistem kecerdasan buatan — semuanya bulat-bulat menyebut nama beliau. Tak ada nama lain. Tak ada "Sarman". Tak ada nama yang bisa mereka sandingkan untuk menutupi kebencian mereka.

Semakin mereka berusaha mencari-cari kesalahan, semakin nama H. Husein Mutahar justru semakin terukir kokoh dalam ingatan bangsa. Beliau bukan sekadar pencipta lagu; beliau adalah penggagas dan pendiri Paskibraka, simbol kedaulatan dan kecintaan kepada Sang Saka Merah Putih. Beliau menciptakan pula lagu-lagu yang menjadi napas kebangsaan kita, seperti Hymne Kemerdekaan, Syukur, dan banyak lagi. Semua itu lahir dari hati seorang putra Indonesia yang darahnya mengalir dari Ahlul Bait, yang justru semakin memperkaya dan memperkuat keberagaman bangsa ini — bukan memecah belah.

Kini, gerombolan rasis itu hanya bisa pusing sendiri. Mereka sibuk menyusuri laman demi laman, memerintahkan AI untuk mencari nama lain, namun hasilnya tetap sama: Habib Muhammad Husein al-Mutahar. Usaha mereka sia-sia, karena kebenaran tidak bisa diubah oleh kebencian. Sejarah tidak memihak pada ras atau golongan tertentu — ia memihak pada jasa, pengabdian, dan cinta tanah air. Dan di sanalah nama beliau berdiri tegak, abadi, tak tergoyahkan oleh sekalipun serangan kebencian yang datang dari mana saja.

Sebesar apapun keinginan mereka untuk mengganti nama itu, pada akhirnya, setiap kali lagu "Hari Merdeka" dinyanyikan oleh jutaan anak bangsa di seluruh penjuru negeri, nama yang terucap dan teringat tetaplah H. Husein Mutahar. Dan itu adalah kemenangan mutlak kebenaran atas kebohongan, serta kemenangan persatuan bangsa atas upaya-upaya rasisme yang ingin memecah belah. 🇮🇩