HP Prof Denny Indrayana Dibajak, Sayembara Ijazah Gibran Kini Mendekati Rp 3,5 Miliar
Ahad, 23 Agustus 2026
Faktakini.info, Jakarta - Polemik mengenai dokumen pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan. Pakar hukum tata negara Prof. Denny Indrayana terus mendorong pembuktian terkait keberadaan ijazah SMA atau sederajat Gibran melalui sayembara dengan hadiah yang nilainya terus membesar.
Terbaru, Denny menyebut total hadiah sayembara tersebut telah mendekati angka Rp3,5 miliar. Informasi itu disampaikan melalui akun media sosialnya, seiring meningkatnya dukungan pihak-pihak yang ikut menambahkan nilai hadiah.
Sayembara tersebut pada awalnya menawarkan hadiah Rp100 juta bagi pihak yang mampu menunjukkan ijazah SMA atau sederajat milik Gibran. Nilainya kemudian meningkat secara bertahap setelah sejumlah pihak menyatakan komitmen untuk memberikan tambahan hadiah.
Sebelumnya, pada 20 Agustus 2026, Denny menyebut total hadiah telah mencapai Rp1.153.050.000 setelah adanya tambahan Rp100 juta dari Forum Purnawirawan Prajurit TNI.
Dalam perkembangan terbaru, Denny kembali mengungkap bahwa nilai hadiah kini sudah mendekati Rp3,5 miliar. Besarnya nominal tersebut membuat sayembara yang awalnya berangkat dari polemik dokumen pendidikan kini menjadi perhatian publik yang lebih luas.
Di tengah eskalasi polemik tersebut, muncul pula klaim mengenai dugaan pembajakan atau gangguan terhadap telepon seluler Denny Indrayana. Namun, hingga berita ini ditulis, belum ditemukan konfirmasi independen yang memastikan bahwa perangkat milik Denny benar-benar telah dibajak.
Karena itu, informasi mengenai dugaan pembajakan tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut dan belum dapat dianggap sebagai fakta yang telah terkonfirmasi.
Denny sendiri sejak awal menyatakan bahwa sayembara tersebut dimaksudkan untuk mendorong keterbukaan mengenai dokumen pendidikan Gibran. Ia mempertanyakan mengapa dokumen pendidikan tingkat SMA atau sederajat yang menjadi bagian dari polemik tersebut belum ditunjukkan secara terbuka kepada publik.
Polemik ini menjadi semakin panas karena dokumen pendidikan Gibran berkaitan dengan perdebatan mengenai persyaratan pendidikan dalam pencalonan wakil presiden. Denny menilai persoalan tersebut seharusnya dapat diselesaikan dengan pembuktian dokumen, bukan sekadar perdebatan di ruang publik.
Hingga kini, belum ada laporan mengenai pemenang sayembara yang berhasil menunjukkan dokumen yang dimaksud. Di sisi lain, nilai hadiah terus meningkat dan disebut telah mendekati Rp3,5 miliar.
Perkembangan ini membuat pertanyaan mengenai keberadaan dan keterbukaan dokumen pendidikan Gibran kembali menjadi sorotan. Namun, penting dicatat bahwa besarnya hadiah sayembara maupun belum adanya peserta yang mengklaim sebagai pemenang tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ijazah tersebut tidak ada atau bermasalah.
Publik kini menunggu perkembangan berikutnya, termasuk klarifikasi mengenai dugaan pembajakan telepon Denny serta bagaimana polemik dokumen pendidikan Gibran akan berlanjut melalui jalur hukum maupun ruang publik.
