Gus Rumail Miris, Sugeng PWI-LS makin tua makin menyebarkan misleading dan kebencian
Senin, 24 Agustus 2026
Faktakini.info
Bibirnya sudah miring-miring kalau ngomong. Rambutnya juga sudah beruban. Kalau berjalan pun sudah agak membungkuk, gak bisa tegap.
Bukannya makin bijak dengan bertambahnya usia, tapi malah menyebarkan misleading dan kebencian untuk kabilah tertentu:
"Apa buktinya Ubaidillah bukan hasil perselingkuhan?"
Bagi yang belum tahu, Ubaidillah di sini adalah leluhur puncak dari Al Bani Alawi di seluruh dunia, atau di Indonesia dikenal dengan panggilan "Habib".
Coba lihat judulnya, sengaja memakai tanda tanya (?). Ini adalah bentuk insinuasi yang berlindung dengan kalimat pertanyaan. Dia tahu kalau tuduhan langsung itu bisa mendatangkan akibat hukum. Jadi ia pakai tanda tanya sebagai kalimat bersayap.
Sayangnya, kepintarannya malah dipakai untuk hal-hal seperti ini. Statusnya sebagai karyawan BRIN yang gajinya saja dibayar oleh pajak rakyat Indonesia (Habib juga ikut bayar pajak, lho!), seharusnya membuat kalian bertanya: apa yang membuatnya terlampau semangat seperti ini di media sosial?
Alasan kenapa orang ini aktif bicara nasab, bisa jadi ada satu dari beberapa kemungkinan ini: gajinya tidak cukup, jadi dia mau mencari peruntungan dengan menjadi content creator; kalau hasil kontennya tidak cukup, kemungkinan ia memang dibayar untuk bikin konten; atau bayaran ngonten dengan tema seperti ini lebih besar dari gajinya sebagai karyawan BRIN.
Karena kalau gratisan, saya rasa tidak ada pengangguran yang terlampau semangat seperti dia; setiap hari bahas nasab itu-itu saja.
Tapi saya tidak akan memakai ’kemungkinan-kemungkinan’ ini sebagai dalil, biar jadi hisabnya di akhirat kelak saja, lah. Kerena Islam mengajarkan: untuk membuktikan sesuatu, harus mendatangkan bukti positif yang valid.
Bahkan untuk kasus ekstraordiner seperti perselingkungan, misalnya, Islam mewajibkan empat saksi yang melihat langsung proses kejadian, dan keempat-empatnya harus adil.
Jadi, orang fasiq seperti Haji Imad dan KRT Nur Ihya yang pernah ketahuan ngibul tanpa mau mengaku, jelas tidak bisa jadi saksi.
Beralih ke pertanyaan: apakah yDNA itu valid?
Bahwa yDNA tidak berubah ribuan tahun, jelas dibenarkan secara saintifik karena memang non-rekombinan. Tapi bukti apa yang menyatakan seluruh Bani Hasyim punya kesamaan J-L859? Dari mana lineage-path ini didapatkan?
Jawabannya bisa sangat panjang, tapi singkatnya begini:
Pertama, ISOGG (lembaga penelitian genealogi dan genetika) TIDAK PERNAH menyatakan bahwa Kanjeng Nabi punya haplogroup tertentu, dan tidak ada kesepakatan berada di mana Imam Ali berada.
Kalau komunitas pakar saja tidak ada kesepakatan, maka jangan percaya ocehan orang yang bukan ahlinya. Orang yang ada di gambar di bawah ini jelas bukan pakar untuk bidang ini, lah.
Kedua, semua Alawiyun maupun Fathimiyun yang sudah tes DNA menghasilkan keragaman haplogroup. Tentu saja secara teoretik bisa dibilang: salah satu dari mereka benar, atau semuanya salah.
”Lho, buktinya kabilah al-Rassi, dan Bani Thabatha juga sudah tes, dan hasilnya J1!”
Salah!
Kabilah al-Rassi ada yang di J1, ada pula yang di J2b. begitupun Bani Thabathaba juga ada yang di J1 dan T.
”Meskipun berbeda, tapi Bani Alawi kan semuanya di G?!”
Salah lagi.
Satu-satunya yang bisa divalidasi adalah Habib Abu Bakar Arsal al-Habsyi yang haplogroupnya G. Tapi ada Assegaf yang berada di J1, salah satu al-Atthas (kenalan saya) di Jakarta sudah tes DNA berada di J1, dan ada al-Hadad yang berada di J1.
”Halah! Yang penting Raja Jordan sudah tes DNA, dan haplogroup-nya J1”
Masalahnya, Bani Qatadah (termasuk keturunannya) itu ada berapa yang sudah tes DNA? Ketika kalian benar-benar menghitungnya, jumlahnya gak sampai 13 orang. Itupun hampir bisa dipastikan semuanya merupakan saudara sepupu dekat yang tes DNA bareng-bareng.
Adarisah itu, lho, yang leluhurnya pernah jadi raja yang berkuasa 200-an tahun, jumlah mereka yang sudah tes DNA sudah sampai 45 orang, tapi haplogroup mereka yang paling dominan malah E.
Makanya, selain pertanyaan ”berapa yang sudah tes”, ada pertanyaan susulan yang tak kalah penting: apakah mereka benar-benar Alawiyun dan Fathimiyun? Apa buktinya mereka adalah benar-benar Hasani, Husaini, Alu Qatadi, Alu Adarisah, dan Alu-Alu yang lain?
”Lho, kan bisa memakai prinsip eliminasi!”
Ketiga, kalau pertanyaan-pertanyaan sebelumnya belum bisa dibuktikan secara valid dengan bukti yang valid juga, maka gak usah gedabrus soal eliminasi.
Eliminasi itu mewajibkan adanya ”semesta". Dalam kajian statistik, istilahnya adalah exhaustiveness, yaitu kondisi dimana semua hal sudah diperas dan dikuras habis sehingga tidak menyisakan satu pun.
Kalau mau menguji di mana Imam Ali berada, ya, tes semua orang yang mengklaim sebagai keturunannya, tanpa pengecualian. Dan jika tidak bisa mencapainya, perlu menerapkan prinsip ”keterwakilan” alias representativeness.
Database yDNA para pengklaim Alawiyin atau Fathimiyun yang ada sekarang pada dasarnya adalah convenience sample: orang yang tes atas inisiatif sendiri, mampu bayar, dan bersedia hasilnya dipublikasikan (jadi masih banyak yang data yang tidak ditampilkan di tabel).
Jadi urutannya: tanpa kerangka sampel yang terdefinisi, klaim ”keterwakilan” saja tidak bisa diuji. Dan tanpa ”keterwakilan”, jangan jauh-jauh membicarakan eliminasi.
Buka kembali buku panduan statistiknya. Jangan mentang-mentang pengikutnya banyak yang gak paham statistik, lantas gampang ngibul seperti ini.
(Semoga bisa taping & bikin video untuk mengulas soal ini, karena orang di bawah ini sudah nyenggol pondok Al-Anwar Sarang, soalnya. Mari kita ajari orang bodoh ini memelajari eliminasi~)
Singkatnya, J-L859 itu hanyalah lineage-path dari orang-orang yang kebetulan sudah tes DNA saja. Itupun klaim mereka sebagai Alawiyun dan Fathimiyun perlu diverifikasi lebih dulu, bukan asal dipercaya begitu saja lantas dianggap ”mewakili”.
Dan hasil yang didapatkan "dari orang-orang yang kebetulan sudah tes DNA" itu tidak sama dengan "hasil mutlak dari semua orang, termasuk yang belum tes DNA sekali ”pun.
Ini saja sudah cukup untuk menyebutnya sebagai kerancuan. Kecanruan seperti ini bisa dengan mudah dideteksi common sense karena sifatnya badihi, alias aksiomatik. Tradisi Islam pun sudah mengajarkan:
إذا تطرق إليه الاحتمال سقط به الاستدلال
"Selama memiliki kerancuan, jangan pakai sebagai dalil."
Terakhir, jangan lupa salat, Gais. Ingat, Islam mewajibkan seluruh muslim berakal untuk salat fardu yang jumlahnya ada lima waktu, ya.
Salam,
Rumail Abbas
