4 gugus kekuatan manufer upaya raih kemenangan politik - Damai Hari Lubis
Jum'at, 12 Juni 2026
Faktakini.info
4 gugus kekuatan manufer upaya raih kemenangan politik
Damai Hari Lubis
Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Kontemporer ada 4 basis kelompok yang menunjukan 4 aliran suasana kebatinan bangsa ini pada era kekuasaan Prabowo:
1. PDIP eks partai politik penguasa 10 tahun, yang kini nampak memendam amarah kepada "petugas partai" yang pada masa akhir jabatan sang petugas partai di klaim menjadi sosok pengkhianat, dan kini eks partai penguasa dimaksud berupaya melempar keluar "titipan" sang petugas partai yang menjadi orang nomor 2 di republik;
2. Aktivis murni yang ingin menjatuhkan kedua penguasa riil saat ini karena banyak kebijakan yang dianggap tidak mewakili aspirasi suara rakyat termasuk dalam menaruh orang-orang penting di kabinet Merah Putih;
3. Aktivis yang berbasis kuat pada urat kekuasaan, ini kelompok kuat yang ingin mempertahankan kekuasaan dan mencoba melupakan semua perseteruan politik yang pernah ada selama ini;
4. Gugusan pasif yakni kelompok pengikut ulama yang sementara hanya jadi penonton dan sesekali bersuara keras ketika melihat ada yang ketidaklaziman statemen politik dan atau kebijakan politik penguasa yang tengah berkuasa baik politik domestik (domestic politics) maupun foreign politic /politik internasional
Namun fenomena dengan berbagai gejala gejala interaksi politik yang ada, membuktikan ke 3 kelompok dari nomor 1, 2 dan 3 ini berusaha menjalin kekuatannya dengan berkoordinasi (approach polical) melalui tangan tangan mereka kepada gugus ke 4 dan terus berupaya mempengaruhi dan berkolaborasi untuk mencapai kekuatan dan menguasai geo politik tanah air.
Dan sama dengan Prabowo sosok Presiden RI serta tim ahlinya memang membutuhkan balancing power yang dalam Ilmu Sosial & Pemerintahan (ilmu politik) metode pendekatan politik ini (approach politic) adalah sebuah sistim yang misinya bertujuan untuk bagaimana cara melihat dinamika implikasi sosial politik (positif-negatif) akibat dari implementasi kebijakan umum (ekpolhuk dan budaya) yang lahir ditengah kehidupan sosial dan sehingga dapat memperkuat kebijakan atau mengendurkan bahkan menghapusnya jika ada kerumunan turun rame rame karena 'terpaksa', termasuk menggalang interaksi antar lembaga negara (seperti pendekatan legal-institusional atau perilaku) dan seiring terus mengkaji dan menggalang kekuatan antar lembaga negara dengan lembaga masyarakat.
Dalam Gerakan Sosial, metode pendekatan politik ini adalah cara atau pola memanfaatkan peluang politik dan struktur kekuasaan untuk mencapai perubahan atau tuntutan kelompok.
Lalu bagaimana dengan posisi yang pada kacamata tertentu diharamkan oleh ulama kaffah (konsisten) bahwa "netral diantara yang hak dan batil adalah batil" atau haram, bisa jadi konsep ini berubah karena dalam status emergency yang halal bisa haram dan haram bisa menjadi halal. Namun naluri dan akal sehat pasti kan bertanya apakah kondisi negeri ini pada semua sisi (ekpolhuk dan budaya) termasuk moralitas dan mentalitas masih dalam keadaan aman, mengambang atau darurat ?
Atau bisa jadi kelompok yang berbasis ulama berpegang teguh kepada sikap ala objetifitas socrates yang bisa jadi adalah sosok nabi diantara 300 ? 600? atau 6000 nabi, yang walau dimusuhi penguasa yang akhirnya "meracunnya", mengatakan, _"bahwa hukum itu harus ditaati walau isi pasal pasal nya salah jika tidak maka negara akan bubar."_
Atau _'doktrinologi'_ bahwa masyarakat bangsa wajib berimbang patuhi ulil amr dan patuhi ulama (sholeh) sebalinya Ulil amr mesti mendengar saran ulama dan pengikut ulama mesti mendengar dan patuhi ulil amr dan dalam posisi sejajar maka ulama dan ulil amr wajib saling hormat menghormati. Maka ilustrasinya; *_"Mereka para barisan ulama original" tidak serta merta luapkan emosi mengecam kebijakan MBG, "namun keras" menuntut hukuman tinggi kepada pelaku dan turut pelaku penyunat anggaran MBG._*
Wallahualam, semua akan berjalan masing- masing menuju masing walau pernah beriringan, berkumpul atau berdekatan bahkan pernah saling menempel. Dan tidak mustahil "disana" akan persis sama.
