Sudah Sekarat, Tak Punya Malu: Fenomena Ormas yang Memaksakan Diri Bersandar pada NU

 


Senin, 11 Mei 2026

Faktakini.info

Sudah Sekarat, Tak Punya Malu: Fenomena Ormas yang Memaksakan Diri Bersandar pada NU

Dinamika organisasi kemasyarakatan di Indonesia belakangan ini menyuguhkan tontonan yang menggelikan sekaligus memprihatinkan. Salah satu fenomena yang paling disorot adalah munculnya gerakan kelompok—seperti Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS)—yang di ruang publik kerap menampilkan narasi seolah-olah mereka adalah bagian tak terpisahkan dari jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU). Narasi "NU Cinta PWI-LS" yang mereka gaungkan menjadi bukti nyata dari keputusasaan sebuah ormas yang tengah sekarat dan kehilangan legitimasi sosial di tengah masyarakat.

Kehilangan Panggung dan Dukungan Publik

Sebuah organisasi dinilai hidup jika program kerjanya membawa kemaslahatan, bukan kegaduhan. Kelompok ini muncul dari rahim polemik internal dan perdebatan nasab yang melelahkan. Bukannya melahirkan solusi ilmiah yang sejuk, sepak terjang mereka di lapangan justru lebih sering diwarnai gesekan sosial, konflik fisik, dan provokasi antarkelompok.

Ketika masyarakat mulai jenuh dengan narasi kebencian dan menjauh, ormas ini mulai kehilangan panggung. Anggotanya menyusut, simpati publik luntur, dan ruang gerak mereka semakin sempit. Dalam kondisi kritis inilah, watak "tak punya malu" itu muncul: mereka mencoba menggelayut dan bersandar pada kebesaran nama NU untuk menjaga agar napas organisasi mereka tidak benar-benar mati.

Sikap Tegas PBNU: Menolak Jadi Tameng Kepentingan

Upaya pencatutan simbol, lambang, dan nama NU ini adalah bentuk manipulasi opini. Mereka sadar betul bahwa NU memiliki jutaan jemaah yang loyal. Dengan menempelkan logo NU berdampingan dengan logo mereka, ada motif terselubung untuk mencari perlindungan, melegitimasi gerakan radikal mereka, dan merekrut massa Nahdliyin yang awam.

Namun, strategi keputusasaan ini menemui dinding tebal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah mengambil sikap yang sangat tegas. Melalui instruksi resmi, PBNU mengharamkan penggunaan atribut NU oleh organisasi di luar struktur resmi, termasuk kelompok ini. PBNU menegaskan bahwa gerakan yang memicu perpecahan dan merusak adab sangat bertentangan dengan prinsip tawazzun (seimbang) dan tasamuh (toleran) yang dirawat oleh para muassis NU.

Menghitung Hari Menuju Kepunahan

Organisasi yang didirikan di atas fondasi kemarahan dan konflik tidak akan pernah bertahan lama. Tanpa adanya restu struktural dari PBNU dan hilangnya simpati dari warga NU kultural, ormas mandiri ini sebenarnya sudah masuk dalam fase "mati suri".

Sikap memaksakan diri untuk terus mencatut nama NU di media sosial hanya menunjukkan kepanikan kolektif para pengurusnya. Di satu sisi mereka menyerang kebijakan-kebijakan kiai struktural NU, namun di sisi lain mereka mengemis legitimasi dari nama besar NU. Sebuah kontradiksi yang sangat memuakkan. Bagi warga Nahdliyin yang cerdas, fenomena ini adalah sinyal jelas: ormas tersebut sudah kehabisan napas dan sedang menghitung hari menuju kepunahan sejarahnya sendiri.