Skandal Integritas Imaduddin Cs: Membisu Atas Silsilah 'Cangkokan' demi Ambisi Taktis

 


Senin, 11 Mei 2026

Faktakini.info

Skandal Integritas Imaduddin Cs: Membisu Atas Silsilah 'Cangkokan' demi Ambisi Taktis

Gerakan pembatalan nasab Ba'Alawi yang dikomandoi oleh KH. Imaduddin Utsman belakangan ini resmi menemui jalan buntu logis. Gerakan yang awalnya mengklaim diri sebagai pembela "kevalidan ilmiah" berbasis manuskrip abad pertengahan, kini justru mempertontonkan komedi intelektual yang paling telanjang di depan publik. Bungkamnya Imaduddin bersama para loyalisnya dari Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) terhadap klaim silsilah sepihak Mama Ghufron adalah sebuah skandal integritas yang tak bisa lagi ditutupi.

Masyarakat kini melihat dengan gamblang bagaimana pisau analisis yang katanya "ilmiah" itu mendadak tumpul, berkarat, dan disembunyikan di bawah meja ketika berhadapan dengan sekutu politik mereka sendiri.

1. Manipulasi Isu Ubaidillah: Dihapus untuk Habib, Dipeluk untuk Ghufron

Tesis utama yang diagung-agungkan Imaduddin dalam setiap ceramahnya adalah klaim bahwa sosok Ubaidillah (putra Ahmad al-Muhajir) merupakan tokoh fiktif karena tidak tercatat dalam kitab sezaman. Berbekal argumen ini, mereka dengan beringas berusaha meruntuhkan seluruh kehormatan klan keturunan Alawiyyin.

Namun, kegilaan logika terjadi ketika figur kontroversial seperti Mama Ghufron (Iyus Sugirman) merilis bagan nasab resmi melalui platform Ponpes UNIQ Nusantara. Di dalam bagan tersebut, Mama Ghufron dengan sengaja mencangkokkan namanya ke jalur Ubaidillah dan Ahmad al-Muhajir demi mengklaim status sebagai cucu Nabi.

Aneh bin ajaib, Imaduddin cs yang biasanya sangat sensitif terhadap nama Ubaidillah, mendadak terserang penyakit amnesia massal. Mereka membisu. Jika Ubaidillah fiktif, mengapa mereka tidak berani meneriaki Ghufron sebagai pemalsu nasab? Jawabannya sederhana: integritas ilmiah mereka telah digadaikan demi kepentingan taktis.

2. Ambruknya Standar Ilmiah di Hadapan Kitab Bahasa Malaikat

Skandal ini semakin memalukan ketika publik menyandingkan standar ganda yang mereka terapkan. Di satu sisi, Imaduddin menuntut pembuktian kelas tinggi lewat tes DNA dan pelacakan teks kuno abad ke-4 Hijriah. Namun di sisi lain, mereka memilih "tutup mata dan telinga" saat sekutu mereka mengklaim telah mengarang lebih dari 500 "Kitab Maqoli" menggunakan bahasa Suryani dan bahasa Malaikat.

Ketakutan kubu Imaduddin untuk mengkritik khayalan mistis ini membuktikan bahwa gerakan mereka sejak awal tidak digerakkan oleh kecintaan pada ilmu sejarah (tarikh), melainkan oleh kebencian kelompok yang tersistematis. Demi menjaga stabilitas barisan massa anti-Habib, mereka rela menelan ludah sendiri dan membiarkan pembodohan publik berlangsung di depan mata mereka.

3. Tamparan Keras Ulama Sepuh NU atas Inkonsistensi Nalar

Fenomena tebang pilih yang dipertontonkan oleh kubu Imaduddin cs ini memicu keprihatinan mendalam di kalangan ulama sepuh Nahdlatul Ulama (NU). Para masyayikh secara tegas menyatakan bahwa metodologi yang digunakan kelompok pembatal nasab ini telah keluar dari koridor keilmuan Ahlussunnah wal Jama'ah.

Sejumlah kiai sepuh mengingatkan bahwa jika seseorang ingin menegakkan kebenaran nasab, prinsipnya harus berlaku adil dan universal tanpa melihat faksi politik. Membiarkan klaim mistis sekelas "Kitab Maqoli" bahasa Malaikat atau memaklumi silsilah ganjil milik Mama Ghufron demi kesamaan musuh, dinilai para ulama sebagai tindakan meremehkan syariat, mengabaikan marwah pesantren, sekaligus merusak tatanan sanad keilmuan yang selama ini dijaga ketat di nusantara.

4. Tantangan Publik: Berani Debat Terbuka Bedah Silsilah Ghufron?

Melihat kepura-puraan yang kian telanjang ini, masyarakat dan para pencinta ilmu mulai melayangkan tuntutan konkret. Publik menantang KH. Imaduddin Utsman untuk keluar dari zona nyamannya dan menggelar debat terbuka khusus untuk membedah silsilah Mama Ghufron.

Jika Imaduddin merasa dirinya adalah seorang pejuang kebenaran sejarah yang objektif, ia harus berani menguliti bagan nasab milik Ponpes UNIQ Nusantara tersebut dengan pisau analisis manuskrip yang sama tajamnya saat ia menyerang klan Ba'Alawi. Jika tantangan debat terbuka ini terus diabaikan dan kubu PWI-LS tetap memilih bungkam, maka sahlah anggapan publik bahwa gerakan mereka selama ini hanyalah pesanan politik yang jauh dari kata ilmiah.

Kesimpulan

Pragmatisme murahan dengan adagium "musuh dari musuhku adalah temanku" telah menghancurkan kredibilitas gerakan ini. Skandal membisunya Imaduddin cs atas silsilah cangkokan Mama Ghufron adalah bukti sahih bahwa gerakan pembatalan nasab ini telah kehilangan kompas moralnya. Ketika sebuah gerakan "ilmiah" mulai tebang pilih dalam menegakkan kebenaran, maka di titik itulah mereka sedang mengumumkan kematian intelektualnya sendiri di hadapan sejarah.